
Nara beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka lemari bajunya yang hanya ada sekitar 3 baju. Seragam sekolahnya, baju baby doll dan seragam pelayan untuknya. Tangan Nara dengan cepat menyambar seragam sekolahnya dan memakainya dengan cepat. Dia juga tidak lupa mencari tas sekolahnya.
"Aku tidak peduli mau Jaden nanti mencariku, aku ingin bebas dari rumah ini. Aku akan pergi sejauh mungkin dari kota ini." Nara ingat akan suatu hal. Dia membuka tas sekolahnya dan memeriksa di bagian belakang tasnya yang ternyata ada kantong rahasia yang sepertinya dia buat sendiri.
Nara mengeluarkan beberapa lembar uang di dalam tasnya. Nara menghitung lembaran demi lembaran uang kertas miliknya.
"Cuma dapat tiga ratus ribu. Apa ini cukup untuk aku kabur dari kota ini?" Nara tampak sedih. "
Dia mencoba berpikir lagi. Dia bukan gadis yang mudah putus asa jika sudah memutuskan sesuatu. "Aku pikirkan nanti saja kalau begitu."
Nara berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya. Dia melihat beberapa penjaga yang ada di depan pintu utama melalui jendela kaca yang tertutup tirai putih bahan tile.
Dia memilih lewat jalan belakang yang memang ada pintu menuju keluar di mana dia sering membuang sampah.
Di sana hanya di jaga oleh dua penjaga yang tadi sudah pergi ke pintu depan untuk mengobrol dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Apa aku harus naik dinding itu? Tapi itu tinggi sekali, kalau jatuh pasti sakit sekali." Nara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Nara akhirnya memutuskan untuk tetap naik dinding itu agar dapat keluar dari rumah Jaden.
Nara mencari beberapa pijakan dan akhirnya dia berhasil memegang tepi dinding. Nara menarik dirinya sendiri, dan tanpa di ketahui jika tangannya tergores sesuatu di sana.
"Aduh, sakit!" Nara melihat sikutnya yang mengeluarkan darah segar. Nara yang fokus pada sikutnya malah tubuhnya oleng dan dia berteriak sambil menutup kedua matanya.
Nara agak kaget karena tiba-tiba saja tubuhnya kenapa tidak terasa sakit jatuh pada ketinggian? Nara mencoba membuka kedua matanya dan apa yang dia lihat sangat membuat dirinya shock.
Nara yang tadi jatuh ternyata dapat ditangkap oleh Jaden yang entah dari mana tiba-tiba ada di sana.
"Tu-tuan JL? Kamu kenapa bisa ada di sini?" Jantung Nara seketika berdetak kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi takut pada Jaden.
"Ini rumahku, dan semua yang ada di sini aku pasti tau, bahkan saat kamu dengan lancang menggunakan kemejaku tadi di kamarku pun aku tau."
__ADS_1
Nara beneran kaget kenapa Jaden bisa tau apa yang dia lakukan di rumah? Bahkan saat dia berada di luar sekarang.
"A-aku tadi--?" Nara tampak bingung.
"Perbuatan kamu kali ini tidak dapat aku maafkan." Jaden membawa Nara yang masih ada pada gendongannya ke pintu utama rumahnya.
"Jaden, Tuan JL, Tuan Muda," ucap Nara bingung. Dia takut sekali dengan apa yang akan Jaden lakukan. "Lepaskan aku Tuan JL!" teriak Nara yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Jaden.
Jaden berjalan menuju pintu utama dan melihat beberapa penjaga ada di sana.
"Begini tugas kalian? Kalian semua sebaiknya pergi dari hadapanku sekarang karena aku memecat kalian semu. Pergi!" serunya dengan nada tinggi dan marah.
Semua penjaga di sana yang takut pada Jaden langsung berlari pergi. "Kenapa kamu memecat semuanya? Kasihan mereka."
"Aku tidak akan mendapat apa-apa dengan memperkerjakan orang-orang yang tidak memiliki tanggung jawab sama sekali."
__ADS_1