Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Ke Tempat yang Indah


__ADS_3

Jaden yang kesal karena menunggu Nara yang lama sekali tidak keluar dari kamarnya, dia menerobos masuk ke dalam kamar Nara, tapi apa yang dia lihat. Jaden malah melihat pemandangan pagi yang sangat indah.


"Tuan, kenapa masuk tanpa permisi!" seru Nara kesal. Sambil memegang erat handuk mandinya yang melilit pada bagian dada sampai atas lutut.


Jaden malah menyeringai sambil berjalan perlahan mendekat pada gadisnya itu.


"Tuan,Tuan mau apa?" Nara yang takut melihat wajah aneh JL itu mundur perlahan-lahan.


"Coba saja aku tidak melihat pemandangan pagi yang indah ini, aku pasti akan memarahi kamu."


Sekarang punggung Nara menabrak dinding yang membuat dia tidak bisa mundur lagi. Jaden mengurungnya dengan lengan tangannya yang dia tempelkan pada dinding.


Wajah pria itu mendekat pada Nara yang tampak fokus menatapnya. "Tuan, aku--."


Nara tidak melanjutkan kata-katanya karena pria yang sangat dia cintai itu memberikan kecupan yang membuat dia merasa melayang. Jaden memberikan kecupan kecil yang begitu banyak pada leher Nara.


"Nara, sadar Nara, apa mau melakukannya lagi dengan pria ini?" Tiba-tiba ada sesuatu yang membuat Nara tersadar saat dia merasakan tangan Jaden sudah akan membuka handuk mandinya.


"Tuan, berhenti! Aku tidak mau melakukannya lagi!" serunya kesal.


Jaden pun langsung menarik wajahnya dan melihat heran pada Nara. "Kenapa? Bukannya kamu menikmatinya?"


"Tidak mau, aku tidak mau kalau sampai hamil. Memangnya Tuan mau bertanggung jawab jika aku hamil?" tanya Nara yang sepertinya kata-kata itu ingin sekali dia ucapkan dari kemarin.


"Nanti berikan saja pada nenek kalau kamu hamil, atau--." Jaden menatap Nara dengan tatapan serius. "Bayi itu tidak perlu lahir."


Nara mendorong Jaden menjauh darinya. "Dasar pria tidak punya hati."


Pria itu segera menarik tangan Nara saat gadisnya itu mau berjalan menuju lemari bajunya.


"Apa perlu kita berdebat lagi masalah ini?"


Nara menatap Jaden dengan datar. Lalu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tuan, keluar dulu dari kamarku karena aku mau berganti baju."


Jaden melepasakan tangan Nara. Gadis itu berjalan menuju lemari bajunya. Pria dingin itu berjalan pergi dari kamar Nara.


Nara berdiri terdiam di tempatnya melihat pada pintu kamarnya. "Semoga saja karena apa yang aku putuskan waktu itu untuk menolong tuan JL dengan caraku tidak membawaku pada masalah besar." Nara melihat pada perutnya.


Beberapa menit kemudian Nara keluar dengan baju santainya. Kaos oblong dan celana pendek selutut dan dengan memakai sepatu kets.


"Kamu baik-baik saja, Kan?" tanya Jaden memastikan.


"Aku baik, Tuan. Kita lari pagi sekarang?" Wajah Nara tampak semangat.

__ADS_1


Jaden mengecup lembut kening Nara, Kemudian mereka lari pagi bersama. Jaden mengajak Nara masuk ke dalam hutan lebih dalam karena dia ingin menunjukkan sesuatu pada Nara.


"Tuan, aku capek, apa boleh aku istirahat sebentar?"


"Baru sebentar, kenapa kamu sudah capek?" Jaden duduk berjongkok. "Naik ke atas punggungku, aku akan menggendong kamu."


"Tuan, tidak capek?"


"Sama sekali tidak. Ayo naik!"


Nara perlahan naik ke atas punggung Jaden dan Jaden menggendong tubuh Nara berjalan menyusuri beberapa perbukitan.


"Tuan sebenarnya mau membawaku ke mana? Atau jangan-jangan Tuan mau membunuhku di tempat yang sepi ya? Biar nanti bisa mengubur jasadku dengan aman."


"Kalau aku mau membunuh kamu, kenapa harus mencari cara yang susah? Aku bisa saja langsung mencekik kamu, Nara."


"Tega kamu membunuhku?"


"Tergantung situasi," ucap Jaden santai.


"Aku juga bisa membunuh kamu dengan cepat."


"Oh ya! Bagaiman caranya?" tanya Jaden menoleh pada wajah Nara yang sedang melihat Jaden dari samping.


"Tidak akan bisa membunuhku, Nara. Aku bisa saja membanting kamu."


Nara yang memang tidak akan tega menyakiti Jaden melepaskan eratan lengannya, dan malah tertawa kecil. "Katakan, Tuan JL, bagaimana caranya aku membunuh kamu?" Nara mendekatkan kepalanya pada leher Jaden.


"Dengan meninggalkan aku," jawab Jaden tegas sambil terus berjalan.


Nara yang mendengarkan hal itu terdiam dan malah menyandarkan kepalanya pada punggung Jaden.


Tidak lama mereka sampai di sebuah tempat yang membuat Nara langsung melongo karena takjub melihat pemandangan di sana.


"Ini indah sekali, Tuan JL. Bagaimana bisa tempat seindah ini bisa ada di sini?"


"Sudah lama tempat ini ada di sini, kamu saja yang tidak tau." Jaden menurunkan tubuh Nara.


Nara memandang tak percaya sekali lagi melihat pemandangan di sana. Sebuah tempat dengan pemandangan alam yang indah, dengan banyak tumbuh bunga liar yang merambat serta ada danau dengan air terjun yang sangat indah.


"Tuan JL ini benar-benar sangat indah. Aku mau kalau disuruh tinggal di sini selamanya. Lebih baik tinggal sendirian di sini daripada aku harus tinggal dengan paman dan bibiku yang jahat itu."


"Mau melakukan hal baru?"

__ADS_1


"Hal baru?" Kedua alis Nara hampir menyatu.


Jaden membuka kaos atasannya dan melepaskan sepatunya juga. "Tuan mau melakukan apa?"


Nara tampak melihat heran pada Jaden. "Lepaskan baju kamu. Kita akan sedikit menghilangkan penat."


"Tidak mau! Nanti kalau ada yang mengintip bagaimana? Lagi pula kalau mau berenang, kenapa tidak di kolam renang kamu saja?"


"Beda sensasinya, Nara. Tidak akan ada yang mengintip kita karena aku sudah menyuruh pengawalku untuk menjaganya."


"Pengawal kamu? Terus pengawal kamu tidak akan mengintip kita?"


"Mau mati mereka?"


Jaden yang tidak mau banyak bicara lagi langsung membuka baju Nara, dan bodohnya Nara yang seperti kena hipnotis si Tuan JL mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Tuan! Kenapa malah dibuka?"


"Diam! Atau aku lempar ke kandang buaya milikku."


"Memangnya ada beneran ya kandang buaya kamu di sini?" tanya Nara penasaran.


"Tentu saja. Aku memiliki binatang itu untuk menghilangkan jejak."


"Maksudnya?"


"Aku beri mereka makan jasad dari musuh-musuhku yang aku bunuh."


"Ya ampun! Kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria sekejam ini?"


"Kamu memikirkan apa? Angkat kaki kamu!"


Nara Baru sadar jika Jaden sudah membuka celana pendek Nara dan menyisahkan pakaian dalam Nara.


Nara yang malu karena bajunya sudah terlepas langsung masuk ke dalam danau dan berendam di sana.


"Tuan ini menyebalkan sekali!"


"Kamu itu jangan banyak melamun di tempat seperti ini. Nanti kalau ada hantu yang masuk ke tubuh kamu bagaimana?"


"Mana ada hantu berani mendekatiku? Bukannya aku sedang bersama raja iblisnya." Nara melengos berjalan perlahan-lahan mendekat ke arah air terjun.


Jaden yang mendengarnya malah menyeringai dan dia berenang perlahan mengikuti Nara.

__ADS_1


"Wah! Di sini indah sekali." Nara mendongak ke atas melihat bagian sisi dalam air terjun yang mirip seperti goa kecil.


__ADS_2