Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Season 2 (Si Cantik Denna)


__ADS_3

Seorang gadis remaja dengan baju putih abu-abunya siap berangkat ke sekolah. Tas jinjing berwarna salem warna favoritnya sudah menempel pas pada punggungnya.


"Denna, jangan berlarian saat turun anak tangga. Nanti kalau kamu jatuh bagaimana?" seru sang mama yang membawa piring berisi ikan goreng kesukaan putrinya itu.


"Iya, Mama." Tangan gadis cantik itu mengambil piring yang dibawa oleh mamanya diambil dan diletakkan di atas meja makan.


"Dia memang tidak bisa diam, tapi nenek senang melihat cicit Nenek selalu ceria setiap hari."


"Sifatku ini, kan, menurun dari mama, Nek."


"Hah? Dari mama? Mama tidak banyak tingkah seperti kamu." Kedua alis Nara mengkerut.


"Tapi kata paman tampan, Mama dulu cerewet dan tidak bisa diam."


"Hem! Awas kamu Paijo," Nara menggeram kesal.


Paijo yang sedang makan pagi di restorannya tampak terbatuk-batuk. Sepertinya dia kerasa jika ads yang sedang memikirkannya.


"Selamat pagi semua," sapa Jaden yang baru datang dengan Leo.


"Pagi ayah." Denna langsung memeluk ayahnya. Kemudian dia memeluk uncle Leonya.


"Ini uang jajan buat Denna." Leo memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada Denna.


"Mas Leo! Jangan sering memberi banyak uang pada Denna."


"Tidak apa-apa, Nara. Denna katanya ingin membeli sepeda motor dengan uang tabungannya sendiri. Uang itu bisa Denna tabung."


"Terima kasih, Uncle."


"Kalau mau sepeda motor nanti ayah belikan saat kamu sudah lulus sekolah."


Denna menggeleng pelan. "Tidak mau, Ayah. Aku mau mengumpulkan pelan-pelan dari uang jajan yang ayah atau uncle berikan."


"Kalau dia sudah mengambil keputusan seperti itu, maka tidak ada yang bisa merubahnya," terang Nenek.


"Kenapa Denna mau naik motor ke sekolah? Kan, lebih enak dan nyaman naik mobil saja," tanya Leo.


Gadis itu melihat mamanya. "Mama dulu juga naik sepeda malahan dengan paman tampan."


Nara melihat pada anaknya. "Hem ...! Paijo lagi ini yang meracuni."

__ADS_1


Denna terkekeh. "Ma, Mama dulu dan paman tampan dua orang sahabat. Apa Mama dan Paman tidak pernah saling menyukai atau jatuh cinta?"


"Persahabatan mama dan Paman Paijo itu unik. Kami benar-benar yang namanya sahabat, tanpa ada kata cinta."


"Kamu kenapa bertanya seperti itu? Apa kamu memiliki sahabat seorang anak laki-laki?" tanya Jaden sambil melihat serius pada putrinya.


"Aku tidak punya sahabat laki-laki, semua sahabatku perempuan."


"Apa kamu sudah punya seseorang yang kamu sukai?" tanya Uncle Leo sambil menggoda Denna.


"Uncle! Aku tidak punya pacar. Aku masih mau serius belajar dan kelak ingin menjadi seorang dokter spesialis anak-anak."


"Semoga apa yang kamu cita-citakan dapat tercapai."


"Aamiin, Nek. Aku mau membuat mama dan ayah bangga." Denna tersenyum.


Denna berangkat ke sekolah diantar oleh ayahnya yang dikemudikan oleh Leo. Sesampai di sekolah Denna izin pada ayahnya dan uncle Leo untuk masuk ke sekolah.


"Pagi, Denna." Seorang gadis agak tambun dan memiliki wajah yang manis dan kulitnya putih merangkul pundak Denna.


"Diaz, kamu tumben baru datang? Kamu, kan biasanya datang paling pagi sambil bantuin Pak Bon membersihkan halaman sekolah."


Denna tampak terkekeh pelan. "Ya sudah, kalau begitu kita masuk ke kelas dulu. Ayah, Uncle. Kita ke kelas dulu, ya?" Denna mengecup punggung tangan ayahnya dan uncle Leo.


Denna berjalan menuju kelasnya, tapi saat menoleh ke sampingnya, dia tidak melihat Diaz di sana. "Ya ampun! Ini anak kenapa masih berdiri di sana?"


Denna kembali berjalan mendekati Diaz dan menarik tangannya menuju ke dalam kelasnya.


"Na, kenapa ayah kamu tampan sekali? Sayang, dia sudah menikah."


"Kamu ini! Setiap melihat pria yang tampan selalu begini. Tuch mimisan lagi kamu." Denna menunjuk pada hidung sahabatnya.


"Serius?" Tangan gadis tambun itu mengelap darah yang memang keluar dari hidungnya.


"Ini tisu. Kebiasaan kamu itu aneh sekali."


"Aku tidak tau kenapa bisa begini? Tapi ayah kamu benaran tampan. Aku itu sangat suka pria yang lebih tua umurnya dariku, daripada dekat dengan pria seumuran. Tidak menantang."


"Hem! Bicara apa sih? Kalau aku suka dengan pria yang seumuran. lebih nyambung bagiku."


"Eh, Na, kalau asisten pribadi ayah kamu sudah punya kekasih belum?"

__ADS_1


Wajah Denna tampak bingung. "Siapa? Uncle Leo?" Diaz mengangguk cepat. "Aku tidak tau." Denna menggerakkan bahunya ke atas.


"Kok tidak tau?"


"Uncle Leo itu orangnya misterius. Dia lebih tenang dan cuek melebihi ayahku."


Diaz manggut-manggut memikirkan kata-kata Denna. "Susah pastinya kalau mau dekat dengan pria seperti itu."


Denna menahan senyumnya melihat wajah Diaz saat sedang berpikir. "Sudah! Cari lain saja. Nanti di acara pesta ulang tahun Kirana kamu siapa tau mendapat kenalan."


"Na, memangnya kamu sudah bicara sama kedua orang tuamu kalau mau datang ke acara pesta ulang tahun Kirana?"


Denna menggelengkan kepalanya. "Aku belum meminta izin pada kedua orang tuaku. Kamu boleh datang?"


Gadis cantik dengan badan agak tambunnya itu malah menyandarkan kepalanya pada bangku meja di kelasnya.


"Memangnya siapa yang akan melarangku? Jika aku mau pergi meskipun tengah malam pun tidak akan ada yang melarang."


"Kamu jangan bicara begitu, Diaz." Denna yang memang sangat lembut dan perhatian memeluk sahabatnya itu.


"Aku kadang iri sama kamu, Denna. Kamu memiliki keluarga yang sempurna dan utuh. Sedangkan aku, bahkan mamiku sendiri malas mengurusiku. Dia sibuk dengan pacar barunya tiap hari. Papiku tidak pernah menjengukku selama ini."


"Kamu masih punya aku yang peduli dengan kamu. Jangan bersedih." Denna sekali lagi memeluk sahabatnya.


Diaz anak broken home sejak dia duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama. Dia tinggal dengan maminya yang tidak memperdulikannya karena sibuk dengan pacar berondongnya. Sedangkan papinya yang tinggal di luar negeri dengan keluarga barunya tidak pernah menjenguknya, hanya mengirimi uang tiap bulan. Diaz anak orang kaya, tapi sepi kasih sayang.


"Kamu coba bicara pada mama dan ayah kamu. Katakan saja jika kamu pergi denganku ke acara pesta ulang tahun itu dan tidak akan pulang larut malam."


"Aku akan coba meminta izin pada kedua orang tuaku."


Pelajaran di mulai dengan lancar dan baik. Denna membereskan semua peralatan sekolahnya.


"Denna, mau pulang bareng sama aku? Aku baru saja membeli mobil sport baru. Apa kamu mau mencobanya?" Seorang anak laki-laki dengan tinggi 170cm dan memiliki kulit putih mulus tepat berdiri di depan Denna.


"Wah! Asik sekali kalau kamu bisa naik mobil sport terbaru milik Evans, Denna."


Denna melihat pada Diaz. "Kamu mau mencoba mobil sport milik Evans?"


"Wait! Aku menawari kamu Denna yang cantik. Aku tidak menawari si gendut ini." Mata Evans memandang Diaz seperti menghina.


"Jangan bicara seperti itu. Maaf ya, Evans, aku tidak tertarik dengan mobil sport kamu karena pemiliknya bukan orang yang bisa menghargai orang lain.".

__ADS_1


__ADS_2