Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kejutan Untuk Jaden


__ADS_3

Nara mencoba mencerna ucapan Jaden barusan. "Maksud Tuan, Tuan memiliki seorang adik atau kakak laki-laki?"


"Adik laki-laki, tapi dia sedang dirawat di rumah sakit London."


"Jadi Tuan ini juga memilik saudara lagi? Aku kira hanya Tuan yang tertinggal setelah kehilangan kakak perempuan Tuan waktu itu."


"Tapi nanti jangan kamu bahas di depan nenek karena akan membuat dia sedih."


Nara mengangguk perlahan. "Kalau boleh tau nama adik Tuan JL siapa? Dia kenapa bisa dirawat di rumah sakit?"


"Namanya, Jacob? Dia mengalami kecelakaan saat pergi dengan kekasihnya."


"Kasihan sekali. Kekasihnya bagaimana-? Apa dia meninggal?"


"Kekasihnya pergi meninggalkan dia saat mengetahui jika adikku koma dan walaupun dia nanti sadar, Jacob tidak akan dapat berjalan. Dia akan mengalami kelumpuhan pada kakinya."


"Oh Tuhan!" Nara sampai menutup mulutnya dengan tangan mendengar hal itu. "Aku kira nasib percintaan aku yang sangat miris, ternyata ada yang lebih tragis. Kenapa kekasih adik kamu itu keterlaluan? Dia mau saat adik kamu baik-baik saja, tapi malah meninggalkan saat adik kamu pasti sedang membutuhkan dukungan kekasihnya."


"Bukankah semua wanita begitu? Mereka akan sayang dengan kekasihnya jika ada maunya, tapi jika kekasihnya tidak berguna, maka dia akan meninggalkannya."


"Enak saja, tidak semua begitu. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Jika aku mencintai seseorang, aku akan mencintainya dengan tulus, mau dia sukses atau jatuh."


"Oh ya? Bagaimana jika kamu mencintaiku dan saat itu aku berada di bawah?"


Nara melihat pada Jaden. "Aku tidak mau menjawabnya. Kita tidak perlu bicara masalah romantis atau cinta karena kamu tidak tau apa itu cinta." Nara duduk dengan bersedekap melihat ke arah depan.


Jaden pun sepertinya tidak membahas lagi. Hingga mereka sampai di depan gerbang besar rumah nenek.


Kedua mata mereka tampak kaget melihat ada apa di sana. "Ada apa ini? Kenapa banyak sekali orang dan seperti sedang ada pesta?"


Nara juga tampak heran dan bingung. Bukannya tadi nenek bilang hanya akan mengundang makan malam, tapi kenapa di sini malah banyak orang?


"Tuan, kita turun atau kembali saja?"


"Kenapa kembali? Kita akan turun karena aku ingin tau ada acara apa di dalam. Nenek ini kenapa malah membuat pesta seperti ini?" Jaden terlihat kesal.


Mereka berdua turun dan tidak lama ponsel Jaden berdering. Ada nama nenek pada layar ponselnya.


"Sayang, kamu ada di mana?"


"Aku di depan pintu rumah nenek. Nenek bisa jelaskan ada acara bodoh apa di sini?"


"Ih! Kasar sekali!" Nara malah memukul lengan tangan Jaden.

__ADS_1


"Kenapa memukulku, Nara?"


"Jangan bicara kasar sama orang yang lebih tua Tuan JL!" seru Nara marah.


Nenek tertawa kecil mendengar apa yang baru saja Nara katakan. "Kamu ternyata benar membawa Nara. Kalau begitu cepat masuk, dan nenek akan memberi kamu sebuah kejutan."


"Aku tidak suka kejutan," ucap Jaden tegas.


"Dasar anak nakal. Cepat masuk."


Jaden menutup panggilannya. "Mungkin ide kemu untuk kembali pulang bukan ide buruk, Nara."


"Memangnya Tuan serius mau pulang?" tanya Nara serius.


"Iya." Tangan Nara digandeng oleh Jaden, tapi gadis itu malah melepaskan tangan Jaden. "Kamu mau ke mana, Nara?" Jaden melihat heran pada Nara.


"Aku mau masuk dan melihat kejutan nenek untuk kamu, Tuan."


Nara malah berbalik badan dan berlari kecil masuk ke dalam rumah nenek. "Nara!"


Gadis itu sangat keras kepala." Mau tidak mau Jaden ikut masuk ke dalam rumah neneknya.


Jaden mencari di mana Nara berada, dan akhir dia melihat Nara berdiri di dekat pintu masuk memperhatikan setiap sudut rumah nenek yang memiliki dekorasi dan ornamen yang indah.


"Tuan akhirnya mau masuk juga." Nara malah tersenyum kecil.


Tampak seorang wanita paruh baya memperhatikan mereka berdua, dan tidak lama dia berjalan dan langsung memeluk cucu kesayangannya.


"Sayang, kamu kenapa lama sekali?" Wanita paruh baya itu mengusap lembut pipi cucunya.


"Selamat malam, Nek," sapa Nara.


Wanita paruh baya itu melihat pada Nara dari atas sampai bawah. "Apa ini yang namanya Nara?" tanya nenek dan melihat pada Jaden.


"Iya, Nek, perkenalkan nama saya Nara." Nara mengulurkan tangannya dan wanita paruh baya itu menyambut tangan Nara.


Seketika Nenek Miranti terkejut saat Nara malah mencium punggung tangannya dengan sopan.


"Kamu cantik sekali, Sayang." Pelukan hangat dari wanita paruh baya itupun dapat dirasakan oleh Nara.


"Nenek juga cantik."


"Sudah selesai, kan, perkenalannya? Sekarang sebaiknya kita pulang Nara." Jaden menggandeng tangan Nara.

__ADS_1


"Tuan JL ini! Kenapa malah seperti ini?"


"Sayang, kamu tidak perlu kaget dengan sikap Tuan JL kamu karena setiap tahun dia tidak mau jika hari ulang tahunnya dirayakan."


"Apa? Jadi hari ini adalah hari ulang tahun Tuan JL?" Nara mendelik kaget.


"Tidak perlu terkejut begitu. Nek, lain kali saja aku ke sini tanpa ada kebisingan seperti ini."


"Jaden, tapi nenek sudah menyiapkan semua ini untuk kamu. Kamu ke sana dulu agar orang-orang tau jika pesta ini nenek adakan untuk cucu tercinta nenek yang sangat tampan." Wanita paruh baya itu menggandeng Jaden.


"Tidak perlu seperti itu, Nek," ucap Jaden malas.


"Tuan JL ini aneh. Kenapa malah tidak suka ulang tahunnya dirayakan? Aku saja ingin sekali merayakan ulang tahunku."


"Memangnya kamu belum pernah dirayakan ulang tahun kamu dari dulu, Nara?" tanya Nenek.


"Hanya ketika saya masih kecil, Nek, dan itu baru dua kali."


"Sweet seventeen kamu, apa tidak dirayakan oleh orang tua kamu?"


Nara menggeleng. "Kedua orang tua saya meninggal dalam kecelakaan mobil dan hanya saya yang selamat karena ada seseorang yang menyelamatkanku waktu itu, Nek. Sejak kejadian itu saya tinggal dengan paman dan bibi. Memikirkan bisa sekolah sampai tamat saja sudah sangat bersyukur, jadi tidak pernah merasakan ulang tahun lagi."


Tangan wanita itu terangkat dan mengusap lembut rambut dan pipi Nara. "Kamu gadis yang baik sekali, Nara. Nenek sangat menyukai kamu walaupun kita baru bertemu. Kalau bicara pakai aku kamu saja. Jangan saya karena terdengar sangat formal."


"Iya, Nek.


"Nara, kalau boleh tau kapan hari ulang tahun kamu?"


"Untuk apa, Nek?"


"Supaya Nenek bisa membuat pesta ulang tahun untuk kamu. Entah kenapa dia tidak ingat umur, suka sekali mengadakan pesta seperti ini." Jaden menggelengkan kepala sambil berdiri dengan memasukkan tangannya pada saku celananya.


"Katakan saja, Nara, nenek mohon."


"Nenek jangan bicara seperti itu, kenapa harus memohon?"


"Ulang tahun Nara sudah lewat, Nek," jawab Jaden tegas.


"Aku berbohong waktu itu, Tuan," kata Nara lirih.


Jaden melihat pada Nara. "Berbohong?"


"Sebenarnya ulang tahunku sama dengan Tuan Jaden. Hari ini," terangnya dengan lirih dan agak takut.

__ADS_1


Kedua pasang mata cucu dan nenek itu langsung mendelik kaget.


__ADS_2