
Nara melanjutkan pekerjaannya setelah berbicara panjang kali lebar pada Tami.
Hari ini restoran Paijo tampak ramai karena hari ini adalah hari libur. Nara sampai ikut membantu dan kadang mengurusi meja kasirnya untuk membuat Bill.
Seseorang dari kejauhan mengangkat tangan untuk memanggil Nara. Nara yang melihat semua sibuk dia berjalan menuju meja pria itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Kamu pegawai baru di sini? Kenapa aku baru melihat kamu di sini?"
"Saya memang baru beberapa bulan bekerja di sini, tapi beberapa hari saya tidak masuk karena sakit, jadi mungkin Tuan baru melihat saya di sini." Nara tersenyum manis.
"Oh begitu. Ya sudah, kalau begitu saya mau pesan sup yang enak di sini. Dua porsi ya, sama es lemon tea."
"Oh sup. Kebetulan saya baru saja membuatnya. Segera saya ambilkan, Tuan."
"Kamu yang membuatnya?" Pria itu mengkerutkan kedua alisnya.
"Iya, ada apa, Tuan?"
"Bukannya kapan hari ada seorang gadis yang bilang jika dia yang membuat sup yang enak itu dan itu bukan kamu."
Nara teringat ucapan Tami waktu itu. "Itu teman saya, dia memang ikut membantu membuat sup itu." Nara tidak mau kalau Tami dicap pembohong dan Nara sekarang tau pria yang menjadi idola Tami.
Dalam hatinya Nara berkata jika Tami apa tidak salah mengidolakan pria yang jelas-jelas terlihat pasti sudah memiliki istri, dan Nara juga tidak terlalu suka dengan pria yang melihat wanita seperti melihat santapan lezat.
"Kalau begitu saya ambilkan dulu supnya. Permisi."
Nara berjalan menuju dapur memberitahu pada Tami jika pria idolanya memesan sup.
"Sugar daddy itu datang?"
"Sugar daddy? Tapi memang benar kalau dia pantas di panggil dengan sebutan itu. Kamu tidak salah menyukai pria itu? Dia tampak sudah memiliki istri. Apa lagi dia terlihat seperti om-om genit," bisik Tami.
"Masak, Sih?" Tami berjalan menuju ke depan ingin melihat pria yang dia idolakan apa benaran ada di sana?
"Itukan orangnya yang duduk di meja paling ujung?"
"Bukan dia Mba Nara. Itu temannya, dia waktu itu datang dengan satu pria yang tinggi, putih dan penampilannya membuat aku mau pingsan. Auranya itu terpancar dengan sangat kuat. Aura seperti seorang mafia di televisi yang sering aku lihat.
Deg!
__ADS_1
Jantung Nara tiba-tiba berdetak keras. Dia teringat dengan suami yang sangat dia cintai, yang tak lain adalah seorang mafia dingin.
"Mba Nara, kamu melamun apa?"
"Tidak melamun apa-apa." Nara tersenyum.
"Aku sudah bilang jika dia sepertinya tidak merespon padaku. Buktinya dia tidak datang, hanya temannya itu. Kalau begitu aku mau kembali melanjutkan tugasku di belakang."
Tami berjalan dengan mulut manyunnya masuk ke dalam dapur. Nara akhirnya yang akan membawakan pesanan ke meja pria yang Nara sebenarnya tidak suka.
"Ini supnya, Tuan." Nara meletakkan dua mangkuk sup di atas meja.
"Terima kasih. Maaf nama kamu siapa?"
"Nama saya Nara. Maaf, apa ada yang mau di pesan lagi?"
"Tidak ada, terima kasih, kamu cantik dan menyenangkan sekali. Ini tips untuk kamu." Pria itu menyodorkan beberapa lembar uang pada Nara.
Nara hanya melihat pada uang di depannya. "Tuan, saya sudah mendapat gaji yang cukup di sini. Terima kasih, tapi saya tidak bisa menerimanya." Nara ini takut karena melihat pria itu jika melihat Nara dengan pandangan yang berbeda. Apa lagi Nara sebenarnya bukan pelayan, jadi dia seharusnya tidak menerima tips.
"Tidak apa-apa, terimalah!" Paksa pria itu.
Nara yang reflek sampai memundurkan langkahnya hingga dia tidak sengaja menabrak seseorang dibelakangnya.
"Saya minta ma--." Nara terdiam melihat siapa yang ada di depannya.
"Hati-hati." Pria di depan Nara itu pun terdiam melihat Nara.
"Jaden," ucap Nara lirih.
"Kalian kenal?" tanya Juan.
"Aku tidak kenal, tapi kenapa aku seperti pernah melihat kamu." Jaden tampak heran melihat Nara.
Deg!
Ada apa dengan Jaden? Kenapa dia bilang tidak mengenal Nara?
"Kamu baik-baik saja?" Tangan Nara reflek memegang lembut pipi Jaden.
Jaden tampak mengkerutkan kedua alisnya. "Siapa yang mengizinkan kamu menyentuhku?" Tangan Jaden melepaskan tangan Nara.
__ADS_1
Nara meneteskan air mata melihat sikap Jaden yang seperti dulu kasar pada Nara.
"Jaden, apa kamu mengenalnya?" tanya Juan sekali lagi.
Jaden menggeleng pelan. "Aku tidak kenal dia. Bisa kamu pergi dari sini? Kepalaku pusing melihat wajah aneh kamu."
Jaden duduk dengan kesal tanpa memperdulikan Nara yang masih berdiri menatap Jaden.
Juan yang di sana juga bingung melihat sikap Nara yang terus memperhatikan Jaden. "Nara, kamu bisa pergi dari sini. Terima kasih sudah membawakan supnya."
Nara bingung dan kemudian dia pergi dari sana. Nara berlari menuju kamar mandi dengan mengusap air matanya. Paijo yang baru datang agak heran melihat Nara yang terlihat seperti sedang menangis.
"Jaden, apa kamu yakin tidak mengenal gadis cantik itu?"
"Aku tidak kenal. Kenapa dia malah berani sekali memegang pipiku seperti itu?" Jaden sebenarnya juga bingung kenapa dia merasa memiliki perasaan yang begitu dekat dengan Nara, tapi dia tidak pernah kenal atau bertemu dengan Nara.
"Kamu jangan bohong. Mungkin kamu pernah punya hubungan dengan gadis itu, tapi kamu tinggalkan dia begitu saja." Juan tertawa dengan senangnya sambil menghabiskan minumannya.
"Aku tidak pernah mengenal wanita atau gadis manapun selain Mauren, tapi wanita itu malah mengkhianatiku."
"Kalau begitu kamu sama Nara saja," celetuk Juan.
"Siapa? Nama dia siapa tadi?"
"Nara, tadi dia mengatakannya padaku."
"Nara?" Jaden seketika merasakan sakit pada kepalanya.
"Jaden, kamu baik-baik saja? Aku minta maaf, seharusnya aku tidak mengingatkan kamu tentang masa lalu karena kamu kehilangan ingatan. Tenanglah, kamu minum dulu." Juan memberikan segelas air dan Jaden langsung menghabiskannya.
Beberapa detik kemudian Jaden tampak mulai tenang. Dia mengambil obatnya dan meminumnya.
"Aku tidak apa-apa." Jaden mencoba mengatur napasnya.
Juan tampak khawatir pada Jaden. "Apa perlu kita ke rumah sakit? Aku akan panggilkan Leo.
"Tidak perlu, Juan. Aku tidak apa-apa."
"Maaf jika mengingatkan kamu akan hal masa lalu." Juan ini tau tentang kecelakaan yang dialami oleh Jaden.
"Tidak. Aku tidak mengenal gadis itu bahkan di masa laluku. Aku hanya pusing saja." Jaden tampak melihat datar pada Juan
__ADS_1
Di tempatnya Nara sedang menangis. "Dia kenapa Tuhan? Apa yang terjadi dengan suamiku? Kenapa dia bahkan tidak mengingatku?" Nara menangis sampai terduduk di lantai bawah.
Beberapa menit dia menangis akhirnya dia bangkit dan mencoba mencari tau. Jaden pasti mengajak Leo ke sini, dan Leo pasti tau semua yang terjadi pada Jaden.