
Nara di dalam mobil memperhatikan suasana di luar karena dia takut jika diikuti oleh pria yang sedang mengawasi Jaden.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa ada yang kamu khawatirkan?"
Nara seketika melihat kaget pada Jaden. Kedua mata Nara mengedip beberapa kali. "Apa? Kamu tadi memanggilku apa?"
"Ada yang aneh?"
"Orang pacaran kan memang memanggil seperti itu."
"Kita tidak pacaran, Tuan JL."
"Calon istri kalau begitu. Wajar, kan, kalau aku memanggil kamu begitu?"
Nara terdiam. "Kenapa kamu diam? Apa aku berbuat salah sama kamu?"
Nara menggeleng, tidak lama mengangguk. "Aku sudah memutuskan bersama Jacob. Kamu jangan membuatku bingung dengan semua ini."
"Kenapa kamu bingung? Kamu mengandung anakku, dan wajar jika kamu bersama dengan pria dari bayi kamu. Bukan dengan orang lain."
"Kalau ayah dari bayi itu banyak menyakiti, lebih baik aku dengan orang yang tidak pernah menyakiti."
"Aku sudah minta maaf sama kamu. Aku juga mengakui semua kebohongan yang aku lakukan itu untuk keluargaku."
"Tuan JL, sebenarnya--
Tidak lama mobil Jaden berhenti di suatu rumau sakit, dan Nara tidak tau maksud Jaden membawa dirinya ke rumah sakit itu.
"Untuk apa kita ke sini, Tuan JL?"
"Memeriksakan kandungan kamu. Nenek mengatakan jika aku harus membawa kamu ke rumah sakit untuk memeriksakan bayiku dan ibunya. Kamu belum mendapat vitamin selama ini. Aku ingin kamu dan bayiku baik-baik saja sampai nanti bayi kita lahir."
Nara melihat dengan mata menyipit pada Jaden. Nara seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jaden.
Jaden keluar dari dalam mobil dan Nara masih duduk di bangkunya.
"Kenapa diam saja?"
"Kita kembali saja, aku bingung nanti kalau Jacob bertanya di mana aku. Ponselku saja sampai aku matikan."
__ADS_1
"Biar aku yang mengurus." Jaden sekarang malah menunduk dan menggendong Nara. "Kita periksakan kandungan kamu sekarang."
"Tuan JL, aku bisa berjalan sendiri."
"Nanti capek. Kata nenek wanita hamil tidak boleh lelah karena akan sangat bahaya untuk janin."
"Bagaimana tanggapan nenek saat mengetahui aku hamil anak Tuan?"
"Awalnya kaget karena kamu hamil padahal kita belum menikah, tapi aku sudah menjelaskan kenapa ini bisa terjadi dan nenek paham. Nenek sangat senang dan malah memberitahuku apa saja yang harus aku lakukan sama kamu."
Jaden membawa Nara langsung ke ruang dokter di mana ternyata Jaden sudah membuat janji. Nara dan Jaden berbicara bertiga. Dokter mencatat semua yang dia tanyakan pada Nara.
"Sekarang kamu berbaring dulu dan aku akan memeriksa kondisi bayi kamu."
Sebuah gel diusapkan pada perut Nara yang masih tampak rata. Sebuah alat di usapkan perlahan-lahan menjelajahi perut Nara dan tampak di sebuah tampilan layar monitor sebuah gambar belum terlalu jelas.
"Wah! Bayinya tampak sehat sekali."
Nara meneteskan air mata melihat sebuah benda yang masih sangat kecil dan belum jelas, tapi Nara tau itu calon bayinya yang kelak akan tumbuh besar pada perut Nara.
"Kenapa kecil sekali? Aku juga tidak bisa melihat wajahnya," celetuk Jaden.
Dokter cantik itu malah terkekeh pelan. "Dok, jangan menertawaiku. Jelaskan saja padaku, tidak perlu menertawakan aku," ucap Jaden tegas.
"Ini masih trimester pertama, Tuan, jadi belum terlihat bentuknya yang sempurna. Beberapa bulan lagi kalau ke sini pasti akan terlihat jelas yang terpenting dia sehat."
"Apa dokter tau dia seroang wanita atau pria?"
Sekali lagi dokter itu terkekeh pelan. "Huft! Kenapa dokter tertawa terus. Aku tutup juga rumah sakit ini," ucap Jaden kesal.
"Maafkan suamiku, Dok. Dia memang begitu." Nara merasa tidak enak dengan dokter cantik itu.
"Tidak apa-apa. Dia ayah baru, jadi wajar bersikap seperti itu." Dokter itu melihat pada Jaden yang masih memperhatikan layar monitor yang menunjukkan foto anaknya.
"Tidak perlu di jelaskan, Dok. Aku akan menunggu beberapa bulan untuk dapat bertemu dengan bayiku."
"Okay! Aku akan berikan resep vitamin yang harus istri kamu minum dengan teratur dan jangan sampai lupa. Ini untuk menjaga kandungan tetap sehat dan ibunya juga."
Nara dan Jaden akhirnya menebus obat itu dan mereka menuju tempat parkir.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba Jaden seperti menghindari sesuatu, dan Nara melihat tangan Jaden yang memegang lengan tangannya berdarah karena Jaden memakai kemeja hitam jadi Nara tidak tau awalnya kalau itu darah.
"Tuan JL, Tuan JL berdarah." Nara melihat sekeliling dan dia melihat pria yang Nara yakin itu suruhan ayah Carlos.
"Nara sembunyi di dalam mobil." Jaden mengambil senjata apinya di belakang kemeja hitam yang dia keluarkan.
"Tuan masuk ke dalam saja. Aku takut." Nara sudah berkeringat dingin karena ketakutan.
Jaden sudah membawa Nara masuk ke dalam mobilnya yang anti peluru dan dia yang berdiri tegap mencari di mana si penembak dirinya.
Dorr ... Dorr suara tembakan terdengar beberapa kali. Nara di dalam mobil Benar-benar cemas.
Di tempat parkir itu tidak terlalu ramai, tapi beberapa dari mereka berteriak histeris karena suara itu.
"Tuan JL aku mohon masuklah!" teriak Nara dari dalam.
Jaden yang takut kalau dia tidak masuk. Nara pasti akan keluar dan itu bisa membahayakan Nara dan bayinya.
Jaden segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya melesat pergi dari sana.
Jaden dengan menahan rasa sakit pada lengannya pergi dari sana. Nara yang melihat orang yang dicintainya terluka tampak menangis.
"Aku sudah bilang untuk tidak mendekat padaku, tapi kenapa kamu terus memaksa. Ini akhirnya yang terjadi sama kamu, Tuan JL." Nara berbicara dengan menangis.
"Memangnya kamu tau sesuatu tentang kejadian ini, Nara?"
Nara mengangguk. "Aku tidak boleh dekat dengan kamu Tuan, atau dia akan membunuh kamu," ucap Nara terbata.
"Apa maksud kamu? Siapa yang sudah mengancam kamu? Jacob?"
Nara menggeleng. "Ayah Carlos yang mengancamku, Tuan JL. Ayah Carlos tidak ingin Jacob disakiti perasaannya jika aku memilih bersama dengan Tuan JL. Dia mengancam akan membunuh Tuan, JL jika aku melukai perasaan Jacob."
"Brengsek! Aku akan menemuinya dan membuat semua ini menjadi selesai."
Jaden memutar arah mobilnya dan dia melaju menuju kantor ayahnya karena Jaden tau ayah Carlos masih berada di kantornya. Nara yang melihat itu tampak ketakutan. "Tuan, apa yang akan kamu lakukan? Jangan seperti ini."
"Dia tidak bisa memisahkan kamu dariku, Nara. Dia memikirkan tentang Jacob, tapi apa yang dia lakukan salah, aku juga menyayangi Jacob, tapi tidak harus memberikan kamu dan bayiku padanya. Tuan Carlos itu harus berpikir jika kamu dengan Jacob karena paksaan, akan kasihan juga pada Jacob yang perasaannya di bohongi."
"Ayah Carlos terlalu sayang sama Jacob."
__ADS_1
"Dia memang sangat sayang pada Jacob, bahkan dia mengancamku akan membunuh bayi dalam perut kamu untuk kebahagian Jacob."
"Apa?" Nara sangat terkejut mendengar hal itu.