
Denna masih berpikir dia menuju rumah utama memakai sepatu apa tanpa alas kaki?
"Nona mau saya ambilkan sepatu lainnya?"
"Tidak perlu! Aku jalan kaki saja tanpa alas kaki, pasti menyenangkan berjalan di atas rumput yang basah."
Denna kemudian melangkah dengan kaki polosnya menuju rumah utama. Dimas yang berjalan di belakangnya dengan membawa sepatu Denna.
Terkulas senyum pada bibir pria dengan wajah dingin yang berjalan dengan terus tidak melepaskan pandangannya pada gadis yang dia jaga.
"Aduh!" Denna tiba-tiba terhenti dan melihat pada kakinya yang mengeluarkan darah segar karena tergores oleh sesuatu.
"Nona Denna kenapa?" Dimas berjongkok dan memeriksa kaki Denna. Dia mencabut pecahan kaca yang menancap pada telapak kaki Denna.
"Sakit, Dimas!"
"Sudah tidak apa-apa. Kita segera ke rumah utama dan mencari alkohol agar dapat aku balut lukanya."
Dimas berdiri dan menggendong Denna ala bridal style. Dimas berjalan menuju rumah utama. "Denna, kamu kenapa?" tanya Nara yang melihat putrinya dalam dekapan Dimas.
"Kakiku terkena pecahan kaca, Ma."
Dimas meletakkan Denna di atas sofa dan bertanya di mana dia bisa mendapatkan alkohol. Nara memberitahu jika di dekat laci arah dapur dia kemarin melihat ada kotak P3K yang besar.
Dimas segera berjalan ke sana. Nara duduk di sebelah putrinya.
"Ayah mana, Ma?"
"Ayah kamu sedang bersama uncle Leo. Mungkin sebentar lagi akan ke sini."
Dimas membawa kotak obat dan mengobati kaki Denna. Nara yang di sana hanya diam memperhatikan Dimas yang bisa dengan cekatan mengobati kaki Denna.
"Sudah tidak apa-apa kakinya. Saya permisi dulu."
Dimas melihat pada Nara dan izin pergi. Sang mama duduk di dekat putrinya yang kakinya di balut perban.
"Masih tidak mau di kawal sama Dimas?"
"Tidak mau, Ma. Aku bukan anak kecil yang harus diikuti terus."
"Buktinya, kalau ada Dimas dia bisa menjaga kamu. Dia juga baik dan sangat perhatian."
__ADS_1
"Dia lebih dingin dari kutub utara dan kadang menyebalkan."
"Tapi dia tampan dan sangat bertanggung jawab. Dimas itu sudah mama kenal dari dia kecil, Denna."
Denna melihat bingung pada mamanya. "Maksud Mama apa? Mama kenal Dimas dari kecil?"
"Iya, dia pernah menyelamatkan mama, dulu saat dia masih kecil. Dimas sangat pemberani."
Nara menceritakan tentang apa yang sudah Dimas perbuat pada Nara. Denna sangat kaget mendengar apa yang terjadi pada mamanya dulu.
"Dimas anak kecil yang sangat pemberani, ya Ma?"
"Benar, bahkan dia sampai dipukuli oleh teman-teman jahatnya karena ketahuan menolong mama."
Di hati Denna tiba-tiba terasa sesuatu yang entah Denna sendiri juga bingung. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan pria yang pernah menolong mamanya dan juga menjadi pahlawan baginya.
"Denna, kaki kamu kenapa?" tanya Jaden yang baru saja datang dengan Leo di sana.
"Tadi Denna tidak sengaja menginjak pecahan kaca di halaman dan Dimas sudah mengobatinya," terang Nara.
"Bagaimana kalau terjadi infeksi? Kita ke dokter terdekat di sini saja, Sayang." Jaden tampak cemas pada putrinya.
"Tidak perlu, Yah. Dimas sudah membalutnya dengan baik. Yah, malam ini kita menginap di sini, Kan? Aku besok tidak masuk sekolah saja karena besok hanya ada acara persiapan untuk pesta perpisahan sekolahku jadi aku tidak perlu masuk."
Tangan putri Jaden yang cantik itu memeluk mamanya. "Sekali-sekali bolos tidak apa-apa, Kan? Lagi pula kalau pulang sekarang pasti nanti sampainya dini hari dan pasti capek, Ma."
"Ya sudah, besok kamu tidak perlu masuk sekolah. Lagi pula kaki kamu juga masih sakit. Besok mama akan menghubungi guru kelas kamu."
Akhirnya semua keluarga berkumpul di ruang utama sampai beberapa orang izin pulang Denna melihat dari arah jendela tempat dia duduk. Pria yang menjadi bodyguardnya sedang berbicara dengan seseorang melalui panggilan telepon.
"Dia bicara dengan siapa? Apa keluarganya? Atau kekasihnya?" Entah apa yang Denna rasakan, dia seolah mulai ingin tau tentang Dimas.
Denna melihat dia masih memakai suit milik Dimas. Tangannya tidak sengaja merogoh saku suit itu dan menemukan sebuah foto.
"Cantik juga wanita ini. Siapa dia? Apa mamanya Dimas?" Denna memperhatikan foto itu dengan lekat. "Mirip sama Dimas, pasti ini mamanya.
"Denna!"
Denna dengan cepat memasukkan foto itu kembali ke dalam saku suit milik Dimas saat mendengar panggilan dari mamanya.
"Ada apa, Ma?"
__ADS_1
"Kamu mau makan apa, biar mama ambilkan untuk kamu."
Denna tampak terdiam sejenak. Dia ingat Dimas belum makan dari pagi saat tadi dia ajak makan pagi.
"Ma, Dimas apa sudah makan?" celetuknya.
Nara langsung menarik garis senyum panjangnya. "Kenapa malah mengkhawatirkan Dimas?"
"Mama jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu. Tadi pagi di rumah aku mengajak Dimas makan pagi bersama, tapi dia tidak mau. Kita ke sini dan dia belum terlihat makan apapun. Kalau dia sakit siapa yang akan merawatnya?"
"Ya sudah biar nanti mama akan tanyakan pada Dimas. Kamu mau mama ambilkan makanan apa?"
Denna mencoba berdiri dengan kedua kakinya walaupun terasa nyeri sedikit. "Aku ke ruang makan saja sendiri. Aku tidak mau dianggap manja hanya karena kakiku sakit sedikit begini."
Nara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu memang anak Jaden Luther kalau begini. Mama mau menemui Dimas dulu kalau begitu."
Denna mengangguk dan Nara berjalan menemui Dimas. Denna duduk dekat Citra tunangan paman tampannya.
"Suit siapa itu?" tanya Citra dengan berbisik pada Denna.
"Ini milik Dimas, Tante."
"So sweet sekali dia memberi suit itu."
Nara nyengir. "Dia memberi suit ini karena aku bertemu dengan Farel yang melihatku dengan tatapan jahatnya saat aku memakai gaun ini, tapi dengan cepat Dimas memberikan suitnya."
"Farel? Huft! Dia itu memang berubah menyebalkan sejak kuliah di luar negeri. Kehidupannya bebas mengikuti gaya hidup di sana. Aku tidak suka dengan tingkahnya."
"Pantas saja. Bicaranya saja aku mendengarnya jadi kesal."
"Denna, Tante minta maaf jika Farel sudah membuat kamu tidak nyaman."
Denna meletakkan sendoknya dan memegang tangan Citra. "Tante tenang saja. Aku tidak menyalahkan Tante Citra."
"Terima kasih. Oh ya, Denna! Setelah lulus sekolah kamu mau kuliah di jurusan apa?"
"Aku dari dulu ingin masuk jurusan kedokteran dan mengambil dokter spesialis anak. Pasti menyenangkan jika dapat dekat dengan banyak anak kecil yang masih polos dan lucu."
"Cita-cita kamu mulia sekali. Kamu suka sama anak-anak ternyata."
"Suka sekali, makannya paman tampan dan Tante Citra cepat menikah dan memiliki anak, nanti aku pasti sering main ke rumah kalian untuk mengajak anak tante bermain."
__ADS_1
Uhuk ... uhuk ...
Paijo yang duduk di sebelah Citra langsung terbatuk mendengar apa yang Denna katakan.