
Jaden terdiam melihat pada neneknya. Ini kenapa jadi begini? Wanita tua yang masih cantik itu mengatakan jika dia bisa mengenal Nara karena ponsel Jaden yang tertinggal siang tadi, dan Nara mengangkat ponsel Jaden. Kemudian mereka berbicara berdua, dan nenek berkenalan dengan Nara.
"Kenapa dia berani mengangkat ponselku?"
"Katanya kamu sedang keluar dan memang nenek menghubungi kamu beberapa kali."
"Tapi dia tidak seharusnya mengangkat ponselku." Wajah Jaden ditekuk kaku.
"Nenek tidak suka jika sudah melihat wajah kamu begitu. Jangan marahi gadis itu, atau kamu akan berurusan dengan nenek."
"Memangnya nenek mau melakukan apa? Dia itu sudah menjadi milikku, aku bisa melakukan apa saja padanya," ucap Jaden santai.
"Sayang, memangnya apa yang sudah kamu lakukan pada gadis itu? Apa kamu sudah pernah menidurinya?" tanya wanita paruh baya itu dengan wajah terkejut.
"Nenek frontal sekali pertanyaannya? Aku ini masih pria baik-baik."
Dalam hatinya, Jaden tidak memungkiri jika dirinya pernah hampir melakukan hal yang di luar batas tadi dengan Nara karena melihat tubuh Nara yang seolah menariknya sepertj magnet.
"Huft! Selamat kalau begitu. Sebenarnya nenek menyukai gadis itu. Nara sepertinya gadis yang baik dan menyenangkan."
"Nenek tau dari mana? Bukannya nenek baru mengenalnya, itupun hanya melalui suara."
"Cara bicara dia dengan nenek, nenek juga menyukai suaranya."
"Dia itu gadis yang pembangkang dan suka membuatku kesal karena sikap keras kepalanya."
Nenek di seberang telepon malah terkekeh. "Itulah yang nenek rasakan saat sikap kamu seperti sikap Nara yang kamu ceritakan, tapi nenek yakin gadis itu akan menjadi istri yang baik."
"Jangan terlalu yakin, Nek."
"Kamu tidak percaya feeling wanita tua ini? Nasib gadis itu buruk sekali. Masih muda, tapi harus bekerja menjadi seorang pelayan, apalagi memiliki majikan seperti cucu nenek yang menyebalkan ini."
Jaden melongo mendengar apa yang neneknya ucapkan. "Nenek ini keterlaluan, kenapa tidak bersyukur memiliki cucu seperti aku?"
"Nenek akan bersyukur jika kamu mau memberi nenek seorang cucu, atau kamu nikahi saja Nara dan berikan nenek cucu darinya."
"Dasar wanita tua, enak saja kalau bicara. Aku tidak akan begitu saja menaruh benihku dalam rahim seseorang sembarangan. Ini sudah malam, dan nenek mungkin sudah mengantuk. Bicara nenek melantur ke mana-mana."
"Cucu tidak sayang neneknya. Ya sudah kalau kamu tidak mau dengan Nara. Setidaknya kenalkan nenek pada gadis itu, nenek simpati sama dia."
__ADS_1
"Nara sudah tidur, Nek, dan nenek tidak perlu berkenalan dengan Nara.
Tok ... tok ...
"Tuan, apa Tuan Jaden sudah tidur?" Tiba-tiba terdengar suara Nara dari luar kamarnya.
"Nara? Untuk apa dia malam-malam ke sini?" Jaden melihat pada teko yang ada di sebelahnya. "Airku habis, mungkin dia membawakan air minum untukku."
"Apa itu Nara? Berikan ponselnya pada Nara."
"Nek, ini sudah malam."
"Jade, apa kamu mau nenek tidak berbicara dengan kamu," ancam wanita tua itu.
Jaden menyuruh Nara masuk dan benar gadis itu datang ke sana dengan membawa teko berisi air minum yang biasa ada di dalam kamar Jaden. Jaden melihati Nara terus sampai gadis itu merasa aneh.
"Apa kamu sudah baik-baik saja?"
"Sudah, Tuan, aku sudah baikkan. Maaf kalau mengganggu malam-malam, ini minuman Tuan dan aku mau mengambil pakaian kotor di kamar mandi." Nara berjalan masuk ke dalam kamar mandi Jaden dan membawa keranjang berisi pakaian kotor Jaden.
"Jade, nenek mau bicara?" sekali lagi ucap wanita tua itu.
"Nara, kemari sebentar," panggil Jaden.
"Nenekku mau bicara sama kamu."
"Apa? Nenek Tuan JL mau bicara denganku? Memangnya ada apa, Tuan?"
"Ini semua karena kelancangan kamu mengangkat ponselku." Jaden memberikan ponselnya pada Nara. Nara tampak takut sekarang.
"Halo, Nek," sapa Nara.
Nenek Miranti tidak menjawab, tapi malah memandangi wajah Nara dari layar ponsel. "Nenek, ada apa ingin bicara dengan saya?" sekali lagi tanya Nara yang tidak mendapat jawaban dari nenek Jaden.
"Oh, maaf, nenek sampai terpukau melihat wajah kamu, kamu cantik juga ternyata. Wajah kamu persis sekali dengan nenek waktu masih muda."
Jaden mukanya tampak aneh dan malah bersidekap mendengar apa yang diucapkan neneknya pad Nara.
"Nenek juga cantik ternyata. Pantas saja Tuan JL memiliki wajah yang tampan."
__ADS_1
Jaden yang mendengar pujian Nara tampak malu sendiri.
"Nara, kapan-kapan mainlah ke rumah nenek. Nanti nenek akan buatkan masakan yang enak untuk kamu."
"Nenek suka memasak? Aku juga suka sekali mencoba resep masakan, tadi aku mencoba membuat sup jagung, tapi kata Tuan rasanya kurang enak. Apa aku bisa bertanya pada nenek resep sup jagung?"
"Tentu saja, nenek suka membuat sup jagung, tapi Jaden memang tidak terlalu suka sama sup."
"Tidak enak? Siapa yang mengatakan sup jagung Nara tidak enak?" Jaden tampak bingung. Padahal dia tidak mengatakan jika sup jagung Nara tidak enak. Sup jagung Nara enak.
"Nara, nanti nenek akan bicara dengan Tuan JL kamu agar mengajak kamu ke rumah. Kalau nanti dia tidak mau, nenek yang akan menyusul kamu ke sana."
"Jangan, Nek, Nenek jangan menyusahkan diri datang ke sini karena--."
"Nara berikan ponselnya!" seru Jaden cepat yang membuat Nara tidak menyelesaikan ucapannya.
"Nek karena sudah malam, besok kita lanjutkan lagi. Saya juga masih ada pekerjaan yang belum selesai. Selamat malam, Nek."
"Selamat malam, Nara."
Nara memberikan ponselnya pada Jaden. "Nek, sudah malam dan Nenek juga harus tidur."
"Besok nenek ingin bicara sama kamu, Jade."
"Iya, besok kita bicara lagi. Sekarang Nenek istirahat dulu."
Mereka mengakhiri panggilannya. Sekarang pandangan mata tuan dingin itu menatap datar pada Nara yang berdiri terdiam di depannya.
"Apa saja yang nenekku katakan sama kamu?"
"Nenek ingin aku ke rumahnya, tapi aku tau siapa diriku, Tuan. Aku juga tidak akan meminta pada Tuan agar bisa ke rumah nenek."
"Aku tidak masalah jika kamu bertemu dengan nenekku, tapi yang aku cemaskan jika nenekku tau aku tidak tinggal dj apartemen milikku karena tempat ini hanya sedikit orang yang tau, dan aku harap kamu jangan sampai mengatakan sesuatu yang bukan porsi kamu, Nara. Apa kamu paham ucapanku?"
Nara mengangguk beberapa kali. "Tuan, aku minta maaf karena tadi sudah lancang menjawab ponsel Tuan karena tadi Tuan masih berlatih dan nenek menghubungi beberapa kali."
"Aku tidak akan memarahi kamu karena wanita tua itu sudah mengancamku. Lain kali jangan lakukan itu lagi, kali ini aku maafkan kamu."
"Iya, Tuan. Tuan, aku mau permisi dulu karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
__ADS_1
"Jangan bekerja larut malam. Kamu istirahatlah."
Nara agak kaget dengan perhatian yang diucapkan oleh Jaden.