Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Insiden Part 2


__ADS_3

Kedua preman itu tersungkur di tanah. "Dimas sudah!"


Dimas berjongkok dan dengan wajah kejamnya dia menusukkan botol yang akan ditusukkan tadi padanya dia tancapkan tepat pada paha salah satu preman itu dan dengan cepat dia menyumpal mulut preman itu dengan uang milik preman itu sehingga teriakan kesakitan preman itu tidak terdengar.


Denna yang melihat hal itu sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Jika kamu melakukan hal buruk seperti biasanya. Aku akan menghabisimu. Aku harap kamu mengerti." Preman yang merasakan sakit yang teramat pada kakinya hanya bisa mengangguk cepat.


Dimas berdiri dan mendekat pada Denna. "Ini uang Nona. Silakan kembali ke dalam mobil."


Denna tampak terdiam sambil mengedipkan kedua matanya beberapa kali. "Mereka bagaimana?"


"Kenapa masih memikirkan orang lain? Kita tinggalkan saja mereka."


Denna menurut dan masuk ke dalam mobil dengan wajah masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan.


Dimas melihat Denna yang tampak terdiam shock. "Apa Nona mau minum?"


"Iya, aku mau berhenti di suatu tempat untuk membeli minuman."


Dimas menjalankan mobilnya dan mencari toko yang menjual minuman. Mereka berhenti di mini market dan Denna langsung masuk ke dalam untuk membeli minuman dingin. Dimas hanya mengikuti dari belakang.


Denna langsung mengambil botol minum berisi jus jambu biji dan meneguknya dengan cepat.


Dimas mengambil air mineral dan juga meminumnya. "Huft! Kenapa aku bisa melihat kekejaman seperti tadi?" gerutu Denna pelan, kemudian dia melirik pada Dimas yang sedang meneguk botol air mineralnya dengan santai seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


"Apa dia bukan hanya bodyguard? Apa dia juga seorang pembunuh bayar? Wajahnya tidak seram, hanya dia terlihat sangat dingin. Ayah harus aku beritahu jika aku benar-benar tidak membutuhkan bodyguard.


"Nona, apa sudah selesai? Kalau sudah kita kembali melanjutkan perjalanan."


"Sudah, tapi aku mau membayar dulu minumanku."


"Biar saya saja." Dimas mengambil botol minuman dari tangan Denna dan berjalan menuju tempat kasir.


Tidak lama ponsel Denna berbunyi dan ada pesan masuk. Denna membuka pesan itu dan dia amat sangat terkejut melihat foto yang dikirimkan Diaz padanya.

__ADS_1


Diaz menuliskan pesan di bawah foto yang dia kirimkan. Diaz memberitahu jika memperoleh foto itu dari salah satu teman Evans.


"Kasihan sekali wajah Evans yang tampan menjadi jelek dan lebam seperti itu." tulis Diaz.


Denna tidak membalas dia melihat pria dengan tinggi badan 182 cm itu sedang berjalan ke arahnya. "Nona, kita kembali sekarang."


"Dimas, apa kamu yang melakukan ini pada Evans?" Denna menunjukkan foto wajah Evans yang lebam dan sedang berada di rumah sakit.


"Iya. Nona, silakan kembali ke dalam mobil karena perjalanan kita masih jauh." Dimas sekali lagi tidak menunjukkan wajah takut atau menyesalnya.


"Aku sebenarnya sangat berterima kasih sama kamu karena kamu aku bisa selamat, hanya saja aku tidak mau kalau sampai masalah ini kedua orang tuaku sampai tau bahkan banyak orang."


"Pak Leo sudah tau tentang hal ini, tapi saya tidak tau Pak Leo sudah memberitahu Tuan Jaden apa tidak."


"Apa? Jadi, uncle Leo tau?" Dimas mengangguk. Denna berjalan menuju ke dalam mobil dan segera menghubungi uncle Leonya.


Dimas mengemudi mobil sambil mendengarkan apa yang sedang Denna bicarakan pada uncle Leonya. Uncle Leo memberitahu Denna jika dia belum memberitahu pada ayah Denna tentang apa yang terjadi pada Denna dan Evans.


"Uncle, aku minta tolong jangan memberitahu pada ayah tentang kejadian itu. Aku tidak mau kalau sampai nanti banyak orang mengetahui hal ini dan nama baik ayah jadi tercemar."


"Tapi apa, Uncle?"


Leo tidak mau kalau sampai Jaden menghilangkan anak muda teman Denna itu dari muka bumi ini. Jaden sejak memiliki Denna sudah mulai menjauhi dunia hitam yang dulu adalah bagian dari hidupnya. "Tidak ada, Denna. Uncle tidak akan mengatakan apapun pada ayah kamu, tapi mulai sekarang kamu berhati-hatilah pada siapapun."


"Iya, aku akan berhati-hati mulai sekarang dan tidak mudah tertipu pada orang lain." Denna teringat akan sikap Mandy yang dikira Denna sudah berubah baik.


"Denna, kamu jangan jauh-jauh dari Dimas. Dia orang yang dapat kamu percaya dan akan melindungi kamu."


Denna sekali lagi melirik pada Dimas yang fokus mengemudi. "Iya, Uncle."


Perjalanan kembali di lanjutkan sampai tidak terasa Denna ketiduran di dalam mobil. Dimas hanya melihat sekilas lalu kembali meneruskan perjalanan.


Siang hari, tepatnya pukul dua. Mobil Dimas berhenti di sebuah rumah di atas perbukitan yang indah dan terlihat taman dengan banyak hiasan bunga-bunga kecil serta ada lampu berbentuk love dengan ada inisial huruf di dalamnya.


"Nona, kita sudah sampai." Dimas mencoba membangunkan Denna, tapi sama sekali tidak mendapat respon dari gadis yang tengah nyenyak tertidur pulas.

__ADS_1


Tangan Dimas ragu-ragu untuk menepuk pipi gadis itu. "Huft!" Dimas takut nanti dikira kurang ajar jika menyentuh Denna.


"Pak Leo, saya dan Nona Denna sudah sampai di depan rumah, tapj Nona Denna tertidur, saya sudah berusaha membangunkan, tapi sepertinya Nona Denna tertidur dengan pulas."


"Aku akan bilang pada Tuan Jaden kalau begitu."


"Baik, Pak Leo."


Dimas menunggu sampai dia mendapat informasi apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Dimas keluar dari dalam mobil dan berdiri bersandar di depan kap mobilnya. Tidak lama pria tinggi besar yang tak lain adalah ayah Denna datang ke sana.


"Tuan Jaden," sapa Dimas.


"Aku akan membawa putriku masuk ke dalam lewat pintu belakang karena di depan banyak orang-orang."


"Silakan, Tuan." Dimas membuka pintu mobil dan Jaden mengendong putrinya. Dimas terdiam di tempatnya melihat seorang ayah yang begitu sayang pada putrinya.


Denna diletakkan di dalam kamar yang disediakan Paijo untuk Nara dan Jaden. "Putrimu kelelahan di perjalanan sampai tertidur seperti ini."


"Kamu, kenapa tidak menyuruh Dimas saja untuk membawa Denna ke kamar?"


"Aku harus menjaga putriku dengan baik, sampai nanti ada seseorang yang menggantikan tugasku."


"Kamu tidak akan tergantikan, Sayang." Nara memeluk suaminya.


"Permisi," sapa seseorang yang berada di balik pintu kamar yang tidak ditutup rapat.


"Iya, kamu masuklah." Nara dan Jaden melihat pada Dimas yang membawa ponsel milik Denna yang tergeletak di mobil.


"Dimas, apa kamu masih ingat denganku? Aku tidak percaya jika kamu sudah besar dan menjadi pria yang gagah dan tampan."


" Tentu saja saya ingat. Terima kasih, Nyonya Nara."


"Dimas, kamu panggil saja saya Ibu Nara atau Bibi Nara. Aku tidak nyaman jika kamu panggil dengan sebutan Nyonya."

__ADS_1


Dimas mengangguk pelan. "Saya minta maaf."


__ADS_2