
Langkah kaki cepat dan tegas itu memasuki ruangan yang cukup besar. Saat pintu dibuka tampak seorang pria berdiri dengan map di tangannya.
"Nona Renata, ada apa ke sini?" Leo tampak kagum melihat sosok wanita yang baginya punya dua kepribadian yang menyenangkan.
"Huft! Si muka es itu benar-benar membuatku kesal." Renata melangkah dengan langkah tegas dan tangannya langsung menyambar segelas air yang ada di atas meja.
Dia meneguk air itu sampai habis tidak bersisa. Leo yang melihatnya tampak bingung sampai kedua matanya mengerjap beberapa kali memperhatikan wanita di depannya.
"Maaf, kalau boleh tau memang Tuan Jaden melakukan apa sampai membuat Nona Renata kesal?"
"Dia itu mengajak kerja sama, tapi menghilang begitu saja. Ini sudah hampir seminggu dia pergi dan tidak ada kabar. Kamu sendiri tidak tau bagaimana menghubunginya. Terus ini dokumen membutuhkan tanda tangan Jaden agar bisa terlaksana proyek kita di London." Renata membanting map yang tadi di bawanya di atas meja.
"Soal itu sudah saya konfirmasi pada staf di London dan mereka bilang tidak masalah jika aku sebagai wakil Tuan Jaden yang menandatanganinya."
"Kamu serius? Kenapa malah aku dimintai tanda tangan Jaden? Apa aku yang tertinggal infonya? Mengesalkan sekali! Lama-lama aku urungkan saja diriku menjadi CEO karena sangat merumitkan diriku."
Leo menahan tawa melihat tingkah Renata yang lucu dan seperti anak kecil saat marah.
"Nona Renata kalau ada apa-apa lebih baik bertanya saja dulu padaku. Nanti aku akan menjelaskannya."
Renata malah duduk bersandar pada sofa panjang di ruangan Leo.
"Aku itu sebenarnya baru saja terjun di dunia bisnis ini, aku masih belum paham semua. Senang saat mendengar jika si muka dingin itu adalah rekan kerjaku. Aku bisa bertanya dan belajar banyak darinya, tapi kalau begini aku tanya siapa?"
"Nona boleh bertanya padaku jika
Nona mau, aku akan sangat senang sekali membantu Nona Renata."
"Bertanya sama kamu? Oh Iya Kamu asisten terbaik Jaden. Kamu pasti orang yang ada dibalik kesuksesan Jaden Luther."
"Tidak juga Nona Renata. Tuan bisa sukses karena memang Tuan Jaden pekerja keras dan Tuan orang yang memang pandai dalam mengambil kesempatan."
"Baiklah, kalau begitu aku mau mengundang kamu makan malam di rumahku dan Nanti malam aku tunggu kamu jam tujuh tepat. Banyak hal tentang bisnis yang mau aku tanyakan sama kamu."
__ADS_1
"Baik, Nona Renata."
Renata beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekat pada Leo. "Kamu jangan terlambat ya, Leo." Renata tersenyum manis lalu pergi dari sana.
Leo masih dengan sikap datarnya berdiri memperhatikan wanita cantik itu sampai wanita itu menghilang dari hadapan Leo.
Di tempat baru mereka Jaden dan Nara tampak bahagia hidup dengan orang-orang baru di sana yang sangat ramah. Cafe milik mereka juga ramai dikunjungi oleh penduduk di sana. Bahkan Nara tidak segan-segan memberikan minuman dan kue gratis untuk orang tua yang datang dengan membawa serta anaknya.
Nara juga belajar membuat kue khas kota itu dengan wanita pemilik rambut keriting yang adalah orang yang sangat baik membantu Jaden dan Nara selama tinggal di sana.
"Menyenangkan sekali tinggal di sini. Aku banyak belajar juga dengan orang-orang di sini, walaupun bahasaku masih belepotan, tapi mereka tidak pernah marah, yang ada mereka malah tertawa mendengar apa yang aku ucapkan."
Jaden tersenyum kecil. "Mereka tertawa karena bingung dengan bahasa kamu, tapi tenang saja, nanti pasti akan aku ajari kamu bahasa di sini dengan caraku."
Nara melihat wajah suaminya yang dia tau ada maksud lain dari ucapannya. "Apa maksud dari ucapan kamu itu? Kenapa aku menangkap hal lain dari apa yang kamu katakan?"
Jaden menarik tubuh Nara mendekat ke arahnya. "Aku memang mempunyai.maksud lain dari apa yang aku katakan sama kamu, tapi aku yakin kalau kamu menyukai hal itu." Jaden menunduk dan mengecup lembut bibir Nara.
"Nara. Oh, aku minta maaf, aku tidak tau kalian sedang berciuman." Seorang wanita baik hati yang diketahui bernama Esmera.
"Kak Esme, masuklah. Kami hanya sedang menikmati waktu berdua saja."
Wanita cantik itu berjalan masuk dan melihat pada Jaden, dia memberikan senyuman. "Kenapa tidak kamu bawa pulang saja istrimu dan buatlah Jaden kecil," celetuknya.
Jaden hanya tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya mendengar ucapan wanita itu.
"Kalian bicara apa sih?" Nara bingung karena Kak Esme menggunakan bahasa isyarat Brazil tidak memakai bahasa Inggris.
"Istriku baru saja keguguran anak kami, dan aku tidak boleh menyentuhnya dulu. Oleh karena itu beberapa minggu ini aku dan dia hanya saling berciuman saja."
"Tenang saja, aku akan buatkan minuman kesehatan untuk istrimu."
Nara bingung mendengar mereka bicara dengan bahasa yang Nara sama sekali tidak mengerti. "Kalian bicara apa, Sayang. Kenapa memakai bahasa isyarat? Apa kamu merencanakan sesuatu untukku?" Nara mencubit perut Jaden.
__ADS_1
"Sakit, Nara." Jaden mengusap perutnya yang dicubit oleh istrinya.
"Salah sendiri, kenapa bicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti."
"Esme akan menyiapkan sebuah kapal yang akan membawa kita ke tempat yang sangat indah. Aku akan mengajak kamu pergi ke sebuah tempat yang masih jarang terjamah oleh orang dan hanya Esme yang tau."
Esme sekarang bingung Jaden bicara apa sama istrinya karena menggunakan bahasa Indonesia.
"Kamu mau membawaku ke mana?"
"Nanti kamu lihat saja."
"Aku sampai lupa, Kak Esme ada apa ke sini?"
"Jangan lupa nanti malam seperti biasa kita melakukan kegiatan seperti biasa di rumahku."
"Tentu saja, Kak. Aku senang bisa melakukannya. Rasanya lega sekali jika bisa melampiaskan esmosi kita kepada hal yang tidak akan melukai orang lain."
Jaden mengerutkan kedua alisnya. "Sebenarnya apa yang kalian lakukan tiap malam di rumah Esme?" tanya Jaden yang memang tidak tau apa yang dilakukan istrinya.
"Ayolah! Aku, kan sudah bilang kalau belum saatnya kamu tau. Nanti setelah tiba waktunya aku akan menceritakan sama kamu, dan ingat! Jangan sengaja mencari tau." Nara menekankan.
"Iya, aku percaya sama kamu, Nara." Jaden kembali mencium Nara dengan lembut, tapi dalam.
"Jaden, lepaskan! Apa kamu tidak malu ada Kak Esme di sini." Nara mendorong tubuh Jaden sampai ciuman mereka terlepas.
Nara walaupun tinggal di luar negeri. Dia masih malu jika berciuman di tempat umum. Padahal di sana hal itu sudah lumrah.
"Aku akan membuatkan minuman kesehatan untuk istri kamu. Aku pergi dulu." Esme menepuk pundak Jaden.
"Obrigada," jawab Jaden.
"Aku tau kalau itu. Terima kasih, kan? Tapi yang dikatakan Kak Esme aku tidak tau. Nara cemberut, tapi Jaden malah mencium kembali bibir Nara
__ADS_1