Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Peran Ayah


__ADS_3

Jaden menemani Denna bermain, bahkan uncle Leo juga ikut bermain. Jaden sangat menikmati kebersamaannya dengan putri kecilnya.


"Nenek, Nenek kenapa terlihat sedih begitu? Apa ada yang mengganggu pikiran nenek?"


"Nara, aku sangat senang melihat Jaden bisa bermain dengan putrinya seperti ini. Andai Jacob bisa berkumpul dengan anaknya juga, pasti kebahagiaan aku juga akan lengkap. Renata pasti sudah melahirkan seorang anak yang adalah cicitku." Air mata wanita tua itu menetes.


Nara memeluk nenek dengan erat. "Nenek kalau merindukan Jacob, bisa bilang Jaden untuk datang ke Kanada. Aku mau menemani Nenek."


Kepala nenek Miranti menggeleng perlahan. "Carlos tidak menerima nenek untuk melihat Jacob. Carlos sangat marah padaku."


Nara tertunduk sedih. Dia bingung harus berbuat apa? Nenek Miranti sebenarnya merasa sangat bersalah karena menyebabkan Jacob seperti itu.


"Nek, apa kita minta tolong Mas Leo untuk mencari keberadaan Renata dan anaknya?"


Kedua mata yang tampak keriputan pada sekitar matanya menatap sayu pada Nara. "Apa kamu yakin Renata mau ikut dengan orang yang sudah menyebabkan ayah dari bayinya mengalami koma?"


"Renata pasti masih dendam dengan kita."


"Iya, tapi aku ingin melihat dan bertemu dengan cicitku."


"Suatu hari nanti pasti Renata akan menampakkan dirinya, Nek, aku yakin. Namun, aku tidak tau dia datang untuk balas dendam atau malah mengakui kesalahannya. Aku sudah memaafkan Renata dari dulu dan jika dia ingin berubah, maka dengan senang hati aku akan menerimanya."


"Nenek selalu berdoa supaya kedua cicitku selalu dilindungi di manapun mereka berada.


Nara dan Nenek yang duduk di ruang tengah dapat melihat Jaden dan putrinya yang sedang bermain.


"Uncle Leo, tangkap bolanya."


"Iya, sudah uncle tangkap. Denna pintar sekali melempar bolanya."


"Terima kasih uncle Leo." Denna mengambil bola dari tangan Leo.


"Kamu sudah sepantasnya menikah dan memiliki seorang anak, Leo."


"Maaf, Tuan, saya masih belum memikirkan hal itu. Saya masih nyaman dengan kehidupan yang saya jalani saat ini."


"Sampai kapan, Leo? Aku tidak akan melarang kamu untuk memiliki sebuah keluarga, tapi tetap saja kamu juga harus memikirkan tentang resikonya karena kita masih hidup di dunia yang penuh bahaya."


"Saya sudah tau hal itu."

__ADS_1


Tidak lama ponsel Leo berdering. Leo tersenyum melihat nama yang muncul pada layar ponselnya.


"Siapa Leo? Kekasih kamu?" Jaden terlihat tersenyum pada Leo.


"Saya permisi mau menjawab telepon dulu, Tuan."


"Iya, pergi sana."


Leo beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan menuju depan rumah. Nara melihat wajah bahagia Leo tampak penasaran.


"Sayang, Mas Leo kelihatannya sedang bahagia. Memangnya, siapa yang menghubunginya?"


Jaden mengangkat kedua pundaknya memberi isyarat jika dia tidak tau siapa yang menghubungi Leo.


"Apa mungkin kekasih Mas Leo?" tebak Nara.


"Memangnya kenapa kalau kekasihnya? Kamu cemburu?"


"Enak saja, siapa yang cemburu?" Nara menepuk dada suaminya. "Aku cemburu kalau ada wanita yang menghubungi kamu seperti sekretaris centil bernama Angel itu. Kenapa dia seperti obat selalu menghubungi kamu tiga kali sehari?" Nara mengerucutkan bibirnya kesal karena beberapa hari ini Jaden sering mendapat telepon dari sekretaris rekan kerjanya yang terkesan menggoda jaden.


Jaden tertawa dengan kerasnya mendengar Nara kesal pada Angel. "Kamu lucu sekali kalau kesal dengan seseorang. Angel itu manusia, kenapa mengatakan dia mirip hal yang aku benci?"


"Ada yang terlupa saat meeting di kantorku."


"Terlupa? kenapa beberapa kali bisa terlupa? Awas saja kalau dia berani mendekati kamu!" seru Nara kesal.


"Kenapa sekarang jadi kamu yang lebih kejam dariku?"


Nara merangkul kedua tangannya pada leher Jaden, dan kakinya berjinjit agar bisa sama tinggi dengan Jaden. "Bukannya kamu yang mengajariku hal seperti itu?"


Jaden hanya tersenyum miring mendengar ucapan Nara. "Mama! Kenapa Ayahku di peluk begitu? Mama mau main juga denganku dan ayah?"


Nara melepaskan tangannya dan gantian menggendong putri kecilnya itu. "Mama tidak mau bermain, tapi mama mau membawa kamu ke kamar dan kita belajar. Kamu ada pekerjaan rumah, kan?"


Denna mengangguk dengan cepat beberapa kali. "Kalau begitu, berhenti dulu mainnya dan kita belajar dulu."


"Em! Kalau pekerjaan rumahku sudah selesai aku kerjakan. Apa Denna boleh tetap bermain dengan ayah?"


"Siapa yang membantu kamu mengerjakan pekerjaan rumah kamu?"

__ADS_1


"Uncle Leo. Tadi sepulang sekolah aku diajak beli ice cream oleh uncle Leo. Tentu saja aku mau, dan di sana aku mengerjakan pekerjaanku sampai selesai. Uncle Leo yang memeriksa pekerjaanku."


Nara melihat pada Jaden. "Huft! Sayang, lain kali kalau belum makan, kamu jangan minum ice cream dulu. Nanti mama mau bicara dengan uncle Leo kamu."


"Uncleku jangan dimarahi, Ma. Uncle Leo tidak bersalah karena aku yang minta dibelikan ice cream." Wajah Denna terlihat cemas jika Leo dimarahi oleh Nara.


"Hem! Kalau begitu kamu saja yang mama marahi." Nara mencium perut Denna dan mereka bertiga tampak sangat akrab.


Sore itu Jaden dan Denna membereskan mainan Denna yang tadi dibuat main.


Nara tidak membantu karena dia ingin putrinya bertanggung jawab dengan apa yang tadi dia katakan.


Setelah mainannya semua rapi. Nara mengajak Denna kembali ke kamar untuk menata jadwal pelajaran untuk besok, sedangkan Jaden membersihkan diri.


"Mama, tadi di sekolahku ada anak baru masuk ke kelasku."


"Oh ya? Siapa namanya?"


"Namanya Mandy, tapi dia kelihatan agak sombong, Ma."


"Sombong bagaimana?"


"Dia aku ajak bermain katanya tidak suka bermain denganku, bahkan tadi mainan kura-kura lilinku dia rusak." Denna tampak cemberut.


Nara memeluk putri kecilnya. "Kalau dia memang tidak mau bermain dengan kamu tidak perlu kamu paksa. Mungkin dia sedang tidak ingin bermain karena dia masih merasa asing di tempat baru."


Denna mengangguk. Gadis kecil putrinya Jaden ini mudah paham apa yang orang katakan padanya.


"Kalau begitu, aku tunggu saja dia sampai merasa lebih nyaman di sekolah. Nanti aku coba ajak main lagi."


Nara tersenyum. "Anak pintar." Nara mengecup kening Denna.


Malam ini mereka makan malam bersama, bahkan Paijo juga datang ke sana. Paijo ini hampir tiap hari ke rumah Jaden dengan membawa hadiah untuk keponakan yang sangat dia sayangi. Sebenarnya Paijo juga selalu khawatir saat Jaden berangkat bekerja.


Paijo takut jika Renata tiba-tiba datang dan sekali lagi melukai Nara, apa lagi ada putri kecil Nara. Paijo khawatir Renata masih menaruh dendam pada Nara."


"Paman, Jo, terima kasih kadonya, tapi jangan membawakan aku hadiah terus."


"Loh? Kenapa? Apa mama kamu tidak memperbolehkan kamu menerima kado dari Paman?" Paijo seketika melirik pada Nara.

__ADS_1


__ADS_2