Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Harus Tau


__ADS_3

Jaden berjalan menuju meja keluarganya. Nara yang melihatnya tampak gelisah.


Pria di samping Nara seolah tau jika Nara terlihat sedang cemas. Dia menyematkan tangannya pada tangan Nara dan menggenggamnya dengan erat.


"Selamat malam, Ma." Jaden mengecup pipi wanita yang sudah sangat baik membesarkannya.


"Kakak kapan tiba di sini?" tanya Jacob.


"Tadi pagi, tapi maaf aku baru bisa menemui kalian di sini karena aku ada urusan sedikit."


"Kamu itu selalu mementingkan urusan kamu daripada keluarga kamu, Jade," ucap Miranda terlihat kesal pada Jaden.


"Justru aku menyelesaikan urusan yang membuat masalah untuk orang yang aku cintai."


"Maksud kamu?" Raut wajah Miranda bingung.


"Aku sudah membereskan orang yang berani mengganggu Nara waktu di mini bar milik Cathy dan aku pastikan dia tidak akan membuat ulah lagi."


Nara seketika kaget mendengar hal itu. "Tuan JL bagaimana bisa tau tentang pria itu?" tanya Nara seketika.


"Aku yang memberitahu Jaden agar mengurus masalah di tempat kekasihnya itu. Aku juga tidak terima jika Nara diganggu oleh pria itu. Andai kakiku dapat digunakan, aku tidak akan tinggal diam."


"Tuan JL, apa yang kamu lakukan pada pria itu?" Nara berdiri dari tempatnya dan menatap Jaden tajam.


"Kamu pasti tidak ingin tau apa yang aku lakukan terhadap pria itu."


"Jangan menyakiti orang seenaknya. Aku juga sudah tidak mempermasalahkan hal itu."


Jaden terdiam menatap Nara. "Lain kali tidak perlu berbuat hal yang menyakiti orang lain karena itu akan dapat berbalik kepada diri kita sendiri. Aku sudah melupakan kejadian itu." Nara yang kesal berjalan pergi dari sana.


Nara marah karena dia tidak suka Jaden menyiksa orang karena dia sedang mengandung anaknya. Nara pernah mendengar ucapan temannya di kelas tentang kakaknya yang mengandung dan suami kakaknya membunuh binatang karena waktu itu suka memancing ikan dan percaya tidak percaya anak yang dilahirkan kulitnya bagian tangan kirinya seperti ada sisik ikan.

__ADS_1


Nara jadi takut karena mendengar hal itu. Dia antara percaya dan tidak, tapi tadi dia benar-benar marah karena Jaden pasti berbuat kejam pada orang yang mengganggu Nara waktu itu.


"Jacob, Jaden, kenapa kalian malah membuat Nara bersedih? Mama tidak mau tau, kalian buat Nara tidak marah lagi dan kamu kenapa tidak bilang sama mama dan ayah, Jacob? Kalau kamu bilang pada ayah kamu, pasti dia dapat menyelesaikannya."


"Tidak perlu, Ma. Pria itu adalah urusanku karena sudah mengganggu orang yang aku cintai."


"Lagi pula kekasih kamu Cathy itu harus menyadari jika dia membuka tempat seperti itu, resikonya memang banyak hal-hal buruk seperti itu."


Miranda ini tidak paham jika yang dimaksud Jaden adalah orang yang di cintai adalah Nara. Dia mengiranya pria itu membuat ulah di tempat kekasihnya, yaitu Cathy.


"Ma, aku mau mencari di mana Nara dulu. Mama tidak apa-apa, Kan, kalau aku tinggal sendiri di sini? Ayah juga katanya akan segera kembali setelah berbicara dengan salah satu rekan bisnisnya yang juga hadir di acara ini."


"Biar aku yang mencari Nara, Jacob."


Jacob memandang pada Jaden yang berdiri di depannya. "Kalian mungkin memang harus bicara berdua," ucap Jacob lirih dengan melirik sekilas pada mamanya yang sibuk melihat pada acara yang sedang berlangsung.


Jaden berjalan mencari di mana Nara berada. "Aku tadi melihat ada gadis yang sangat cantik yang datang dengan keluarga Thomson."


"Oh, gadis manis yang memiliki leher indah itu. Dia memang sangat cantik. Nasib anak lumpuh Tuan Carlos Thomson sangat baik. Dia memiliki kekasih yang begitu cantik."


"Tahan, Jaden ... tahan. Kamu pasti tidak mau kalau sampai Nara marah lagi dengan kamu karena berbuat arogan lagi." Jaden mencoba meredam emosi yang ingin sekali meledak.


Jaden kembali mencari di mana keberadaan Nara. Dari kejauhan Jaden melihat Nara sedang berdiri dengan ponsel pada telinganya. Sepertinya Nara sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


"Nara." Tangan pria itu melingkar pada perut Nara dan mendaratkan kepalanya pada pundak Nara.


"Tuan JL."


"Nara, aku minta maaf tentang ucapanku yang tadi pasti menyakiti kamu." Nara terdiam di tempatnya. Perlahan dia memasukkan ponselnya pada dompet yang dia bawa.


"Aku tidak marah dengan hal itu. Aku sudah tau, pasti Tuan JL akan menjawab seperti itu dan aku tidak mau mempermasalahkannya." Nara melepas tangan Jaden dari pinggangnya.

__ADS_1


Nara berjalan menjauh dari Jaden. Dia menatap datar pria yang sudah memberinya cinta pada rahimnya.


"Tuan, aku mengatakan hal ini hanya untuk Tuan tau jika ada bayimu di dalam perutku, tapi aku sama sekali tidak ingin meminta pertanggung jawaban Tuan JL dalam hal ini."


"Nara, aku tau, kamu pasti berpikiran jika aku tidak menginginkan anak itu, tapi--."


"Anak ini tidak akan merasa, tidak memiliki sosok ayah karena Jacob bersedia menjadi ayah dari mereka."


"Apa?" Jaden tampak terkejut.


"Jacob sudah mengetahui hubungan kita berdua, bahkan bayi ini, dia juga sudah mengetahuinya.


Flashback


"Katakan, ada apa sebenarnya, Nara? Kenapa kamu seolah menutup diri kamu sendiri?" Tangan Jacob mengusap perlahan pipi Nara.


"Sebenarnya, aku sudah tidak jujur sama kamu, Jacob. Bahkan aku tidak jujur dengan kedua orang tua kamu."


"Apa maksud kamu?"


"Aku memang adalah pelayan Tuan JL--kakak kamu, tapi aku juga adalah kekasihnya."


"Apa? Kamu dan Jaden sepasang kekasih?"


"Ceritanya panjang kenapa akhirnya aku jatuh cinta pada Tuan JL, dan aku awalnya mengira Tuan JL juga mencintaiku, tapi ternyata dia hanya membohongiku." Nara tampak menangis.


"Oh Tuhan! Jadi pria yang kamu ceritakan sangat kamu cintai dan berusaha melupakannya adalah kakakku sendiri?" Nara mengangguk. "Jaden benar-benar keterlaluan!"


"Aku ingin menceritakan hal ini sama kamu, hanya saja aku ingin melupakan hal itu. Biar itu menjadi masa laluku yang akan aku simpan rapat."


Jacob menangkup lembut wajah Nara, menghapus air matanya. "Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan mempermasalahkan hal ini. Aku bisa menerima kamu, Nara. Asal kamu juga bisa menerima keadaanku seperti ini."

__ADS_1


"Jacob tidak hanya itu ada satu hal lagi yang ingin aku katakan sama kamu. Aku hamil anak Tuan JL, Jacob," ucap Nara lirih.


Bak di sambar petir di siang hari. Jacob tampak lemas mendengar hal itu. "Nara, apa sudah sejauh itu hubungan kamu dengan Jaden? Kenapa kamu begitu mudah memberikan diri kamu pada Jaden?" Jujur saja, jika Jacob dapat berdiri dia pasti akan mencari Jaden dan menghajarnya sampai pria itu tidak berdaya. Darah Jacob sudah mendidih saja.


__ADS_2