
Jaden melihat gadis dengan tubuh mungil di dalam dekapannya itu tertidur dengan wajah yang sangat cantik bagi Jaden.
Jaden tidak lepas memperhatikan setiap bagian wajah Nara. Mulai dari mata, hidung, alis dan bagian yang sangat dia sukai, yaitu bibir Nara.
"Jika dilihat dengan keadaan tenang begini, gadis ini benar-benar wajahnya menenangkan." Jaden semakin mengeratkan pelukannya.
Tidak terasa waktu berubah menjadi terang. Nara yang merasa silau karena sinar matahari yang menelusup dari balik tirai kamar Jaden yang tidak tertutup rapat dan tepat mengenai matanya, membuat Nara akhirnya mengerjapkan kedua matanya perlahan.
"Di mana ini?" Nara merasakan tangannya memeluk sesuatu yang agak keras, kepalanya perlahan menoleh ke arah siapa yang dia peluk.
"Ja-Jaden." Seketika Nara menutup mulutnya dengan tangannya. Dia menyingkirkan tangan Jaden perlahan dan saat akan bangkit dari tempat tidur, Nara menghentikan langkahnya karena melihat baju miliknya dan Jaden berserakan di atas lantai.
"Apa yang sudah terjadi?" Nara melihat pada balik selimutnya dan dia melihat di balik selimutnya, tubuhnya hanya menggunakan satu set pakaian dalam begitupun dengan Jaden hanya memakai celana boxernya.
__ADS_1
"Apa dia sudah--? Ini tidak mungkin, kenapa dia melakukan hal ini?" Seketika air mata Nara menetes perlahan dan dia segera bangkit dari tempat tidurnya.
Nara segera memakai bajunya dan benar-benar berniat akan pergi dari rumah Jaden. Dia sudah tidak peduli sekalipun Jaden nanti menangkap atau bahkan membunuhnya. Toh masa depan dia juga sudah hancur sekarang.
Keadaan rumah Jaden yang tidak ada penjaga membuat dia dengan muda untuk keluar dari rumah Jaden.
"Tempat apa ini? Kenapa aku seolah tinggal di hutan?" Nara tidak tau jika rumah Jaden berada di tengah hutan karena saat dia diculik matanya di tutup oleh kain penutup.
Nara mencoba mencari jalan dengan menyusuri setiap jalan dan dia berharap bertemu dengan seseorang di sana untuk bertanya jalan pulang.
Tidak lama suara gemerutuk itu semakin dekat, Nara semakin merasa ketakutan dan berjalan mundur secara teratur, tidak lama muncul kepala seekor rusa yang agak besar bersama rusa kecil--anaknya. Nara tampak menghela napasnya lega.
"Aku kira tadi harimau, tapi ternyata rusa." Nara berjalan menghampiri rusa dan anaknya yang terlihat agak takut dengan Nara.
__ADS_1
"Kalian jangan takut, aku tidak akan melukai kalian. Aku sedang bingung mencari jalan keluar dari tempat ini. Apa kalian bisa menunjukkannya?" tanya Nara pada kedua rusa itu.
Rusa itu tidak menjawab malah berlari pergi dari sana. Nara yang melihat itu malah tertawa. Dia menertawakan kebodohannya sendiri yang malah bertanya pada rusa.
"Sudah selesai main-mainnya," suara seseorang berada tepat di belakang Nara.
Nara dengan gerakan patah-patah menoleh pada asal suara itu dan dia amat terkejut melihat Jaden bisa berdiri di sana.
"Kamu ada di sini?"
"Ini wilayahku dan aku sudah memperingatkan kamu. Ayo pulang," ucap Jaden memberikan tangannya.
Nara melihat tangan Jaden dan teringat tentang apa yang sudah terjadi dengan mereka kemarin malam. Nara mengira Jaden telah menodainya di saat dia sedang tidak berdaya.
__ADS_1
"Aku tidak mau pulang dan menjadi wanita untuk memuaskan napsu kamu. Lebih baik aku pergi atau bahkan mati." Nara berlari dengan cepat dari hadapan Jaden.
"Nara ... jangan ke arah sana!" Teriak Jaden.