
Nara berjalan paling depan dan belakangnya diikuti oleh Jaden dengan didorong oleh Sandra.
Nara tampak gusar dengan perasaannya saat ini dan dia tidak tau kenapa dengan dirinya. Kejadian saat Jaden dengan Sandra yang tengah akan berciuman tadi benar-benar membuatnya kepikiran.
"Tuan dan Mba Sandra silakan makan lebih dulu karena aku mau ke kamar, ada yang harus aku lakukan."
"Kamu sudah makan?" tanya Jaden cepat sebelum Nara melangkah pergi.
"Nanti saja aku makan setelah Tuan dan Mba Sandra makan."
"Tuan Jaden, saya mau ke kamar mandi sebentar, kalau begitu." Sandra berjalan pergi lebih dulu dengan kesal melirik Nara.
"Saya juga mau ke kamar dulu."
"Tunggu, Nara!" Tangan Nara dengan cepat di tahan oleh Jaden.
Nara tampak takut saat dipegang tangannya oleh Jaden karena Nara tidak mau mba Sandra melihatnya dan berpikiran yang tidak-tidak.
"Ada apa, Tuan?" Nara mencoba melepaskan tangan Jaden.
Pria itu memegang erat tangan Nara. "Kamu kenapa ketakutan begitu? Aku tidak akan menyakiti kamu."
"Tuan, aku tidak enak jika mba Sandra melihat Tuan memegang tanganku seperti ini."
"Memangnya kenapa dengan Sandra?" Kedua alis Jaden mengkerut. Nara bingung menjawabnya, dia sebenarnya tidak mau ikut campur dengan perasaan suka Sandra terhadap Jaden, biar Sandra sendiri yang mengatakan jika menyukai Jaden.
"Tuan ada perlu apa? Aku akan laksanakan."
Jaden melepaskan tangan Nara sedetik kemudian Sandra baru muncul di sana. Wajah Nara seketika tampak lega.
"Kamu ikut makan siang denganku di meja makan, jadi selesaikan segera urusanmu dan kita makan bersama," ucap Jaden tegas.
__ADS_1
Nara melihat pada Sandra yang mukanya tampak ditekuk kesal.
"I-iya, Tuan. Kalau begitu aku permisi dulu." Nara berlalu dari sana.
"Tuan Jaden, kita ke ruang makan, saya akan siapkan makan siang untuk Tuan." Sandra mendorong Jaden menuju meja makan.
Di dalam kamar Nara membersihkan diri, kemudian dia duduk di atas ranjangnya hanya dengan memakai handuknya. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau makan siang dengan mereka. Melihat wajah Mba Sandra saja, aku sudah tau dia tidak mau diganggu olehku."
Nara tampak cemas sambil menggigiti kuku jarinya, kakinya pun tidak berhenti menghentak beberapa kali di atas lantai. Nara benar-benar bingung harus berbuat apa?
Di ruang makan Jaden meminta Sandra mengambilkan tablet miliknya. Jaden kesal karena Nara yang dia tunggu untuk makan bersama tidak menampakkan batang hidungnya.
Sandra mengambilkan tablet Jaden yang berada di dekat kabin ruang makan. Jaden memiliki beberapa tablet yang dia letakkan di beberapa ruangan, tapi hanya dia yang bisa membukanya.
"Tuan, kita makan dulu saja. Mungkin Nara masih ada perlu di kamarnya."
"Kita tunggu dia dulu. Gadis itu memang sulit diatur," gerutu Jaden.
"Atau aku akan panggil dia di kamarnya." Sandra beranjak dari tempatnya, dia akan ke kamar Nara.
"Dia itu sedang apa? Apa yang sedang dia pikirkan?" Tampak Nara masih terduduk di atas ranjangnya masih menggunakan handuk mandinya yang melilit di bagian dadanya sampai atas lutut. Rambut Nara pun terkuncir lucu di atas kepalanya.
"Dia tidak ke sini dan malah sibuk melamun di kamarnya. Gadis bodoh, kenapa tidak memakai bajunya? Apa dia tidak takut jika sakit lagi, atau dia sengaja supaya bisa skin to skin denganku lagi?" Jaden tersenyum renyah mengingat saat dia dan Nara melakukan skin to skin waktu itu.
Beberapa detik kemudian Jaden melihat Nara mengambil sesuatu dari atas ranjang. "Mas Leo, aku sedang bingung. Coba ada Mas Leo di sini. Sayang, aku tidak bisa berkomunikasi dengan mas Leo atau siapapun karena aku tidak memiliki ponsel." Nara memandangi gantungan kunci pemberian Leo.
"Apa-apaan dia, kenapa dia malah melihati gantungan kunci pemberian Leo? Apa Nara memang sudah jatuh cinta pada Leo?" Wajah tampan pria itu seketika berubah kesal. Dia dengan cepat mematikan layar tabletnya.
Tok ... Tok
Sandra mengetuk pintu kamar Nara agak keras dan terkesan marah. Nara segera berjingkat dari tempatnya dan berlari ke arah pintu.
__ADS_1
Nara membuka pintu itu separuh, dan tampak wajah Sandra yang kesal.
"Mba Sandra? Ada apa?"
"Kamu sedang apa di dalam kamar? Kenapa kamu tidak segera ke ruang makan? Tuan Jaden menunggu kamu."
"Maaf, Mba, tadi aku sedang membersihkan kamar karena masih ada beberapa yang harus aku bereskan."
Sandra melihat Nara dari atas sampai bawah dan dia kemudian menyelonong masuk ke dalam kamar Nara. Nara diam saja karena memang ini bukan rumahnya.
"Kamu sedang memandangi kado pemberian Leo?" Sandra mengambil gantungan kunci dari Leo yang tergeletak di atas ranjang Nara.
"Iya, Mba. Mba, bisa tidak aku tidak usah ikut makan siang dengan kalian? Aku makan siang nanti saja sendiri di dapur."
Sandra bersedekap dan seperti memikirkan sesuatu."Nara, jujur saja aku agak kesal tadi sama kamu, dan juga aku kesal kenapa Jaden seolah-olah sangat perhatian sama kamu? Dia sampai mengorbankan dirinya menolong kamu, dan sekarang makan siang pun harus ada kamu. Apa benar hubungan kalian hanya antara majikan dan pembantu? Gak lebih dari itu?" Sekali lagi tatap Sandra menatap curiga pada Nara.
"Maksud Mba Sandra apa?"
"Apa benar kamu tidak pernah menemani Jaden tidur?" tanyanya dengan suara menekankan pada telinga Nara.
Seketika kedua bola mata Nara mendelik mendengar apa yang Sandra ucapkan.
"Mba Sandra kenapa pikirannya sejahat itu sama aku? Aku benar-benar bekerja menjadi pelayan di sini."
"Siapa tau kamu diam-diam menyukai Jaden dan merayunya dengan cara kamu mau menjadi teman tidurnya."
"Aku sama sekali tidak tertarik dengan Tuan JL. Lagipula aku lebih baik mendekati Mas Leo yang lebih baik dan pengertian daripada dengan Tuan Jaden." Marah agak emosi dengan tuduhan Mba Sandra.
"Bagus kalau kamu memiliki pikiran seperti itu karena aku tidak ingin mempunyai saingan yang sebenarnya tidak selevel denganku."
"Aku tidak pernah berharap bersaing dengan Mba Sandra. Malahan aku mau membantu Mba Sandra mendapatkan Tuan Jaden. Itu artinya aku tidak tertarik dengan Tuan Jaden."
__ADS_1
Sandra tiba-tiba mendekati Nara dan memegang kedua tangannya. "Nara, aku minta maaf. Tadi aku benar-benar agak emosi, apalagi aku barusan mendapat telepon dari ibuku di luar negeri, bahwa beliau akan datang dan aku harus memperkenalkan seseorang sebagai calon suamiku kalau aku tidak mau dijodohkan dengan pria pilihannya." Sandra terduduk lemas.
Nara yang melihatnya tampak kasihan, dan memang Sandra ini terlihat begitu mencintai Tuan JLnya.