Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Bertemu Cathy


__ADS_3

Nara menunggu beberapa kali, tapi panggilan Nara tidak dijawab. Nara tidak putus asa. Dia mencoba memanggil nomor ponsel Paijo sekali lagi.


"Halo, Paijo!"


"Maaf, ini siapa?" suara seorang wanita dari seberang telepon.


"Suara siapa ini? Apa panjul sudah menikah? Dan apa dia istrinya Paijo?" gerutu Nara pelan.


"Halo, ini siapa?"


"Maaf, aku Nara, aku temannya Joy. Apa Joy ada?"


"Si Paijo maksud kamu?"


"Iya, Paijo. Ini siapa?"


"Maaf, Nara. Paijo sudah tidak tinggal di sini, dia sudah lama ikut ibunya pergi ke luar negeri setelah neneknya meninggal."


"Apa? Nenek Paijo meninggal?" Nara tampak kaget.


"Iya, nenek Paijo jatuh sakit sampai akhirnya meninggal, dan rumah ini sudah diserahkan padaku untuk aku mengurusnya termasuk semua barang-barang yang ada di sini."


"Oh begitu. Maaf, apa bibi tidak tau nomor yang bisa aku hubungi untuk dapat bicara dengan Paijo?"


"Kalau nomor aku tidak tau, Nara, tapi nanti coba kalau ibu Paijo mengirim seseorang untuk mengantar uang agar aku bisa memperbaiki rumah ini. Aku akan memberitahu kamu, Nara."


"Kalau begitu terima kasih, Bi."


Mereka mengakhiri panggilannya. Nara merasa bersalah tidak bisa mendapingin Paijo saat Paijo kehilangan nenek yang sangat dia cintai. "Dia tinggal di mana sama ibunya? Apa dia baik-baik saja?" Nara berdialog sendiri.


"Nara, apa kamu baik-baik saja?" tanya Grace.


"Iya, aku baik-baik saja." Nara memberikan senyum manisnya.


"Yeah!"


Terdengar suara sorak bahagia dari Tim yang justru membuat Nara dan Grace kaget. Grace dengan cepat melempar botol kosong minuman miliknya pada Tim.


"Kamu ini kenapa? Sudah gila?"


"Hari ini aku senang sekali, Grace! Aku menenangkan permainan game ini dan aku akan mentraktir kalian minum di mini bar yang memiliki minuman yang sangat enak."


"Serius?" tanya Grace menyakinkan.


"Tentu saja, dan kamu Nara, kamu juga harus ikut."

__ADS_1


Wajah Nara tampak aneh. "Maaf aku tidak suka minum yang ada alkoholnya. Jadi, aku tidak bisa ikut kalian."


"Kamu tenang saja, di sana juga ada minuman yang tidak mengandung alkoholnya."


"Iya, Nara, pokoknya kamu harus ikut."


"Tapi aku harus bicara dulu dengan Jacob."


"Kami nanti yang akan bicara dengan Tuan Thomson, Tuan Thomson pasti akan memperbolehkan kamu ikut. Dia itu pria yang baik." Nara hanya mengangguk.


Kelas Nara kembali di mulai dan kali ini giliran Jacob yang mengajar di kelas Nara. Suasana seketika menjadi ramai saat Tim malah bersiul seolah menunjukkan ada kedekatan istimewa antara Nara dan Jacob.


"Tim, apa kamu bisa tenang sedikit?"


"Tentu saja bisa, Tuan Thomson, tapi apa kamu bisa menenangkan hatimu saat mengajar di depan kekasihmu?" goda Tim dan seketika yang lainnya di sana heboh dan tersenyum bahagia mengetahui dosen idola mereka memiliki kekasih.


Nara yang di sana hanya bisa tersipu malu dan agak canggung juga. "Kamu malu ya, Nara?" Goda Grace.


"Kalian ini apa-apaan. Aku dan Jacob tidak ada hubungan apa-apa."


"Sudah! Kita lanjutkan pelajarannya."


Pada saat selesai jam kuliah, Nara dan kedua teman barunya menghampiri meja Jacob yang masih terlihat sibuk dengan kertas-kertas di mejanya.


"Ada apa, Grace?"


"Kami ingin mengajak Nara jalan-jalan sebentar dan Tim ingin mentraktir Nara makan siang. Apa boleh?"


Jacob seketika melihat pada Nara. "Apa kamu mau pergi bersama mereka, Nara?"


"Aku terserah kamu saja, Jacob. Kalau kamu mengizinkan, aku akan pergi, tapi kalau tidak juga tidak apa-apa."


"Ayolah, Tuan Thomson aku janji akan menjaga kekasih kamu ini. Kita senang bisa berkenalan dengan Nara. Nara juga bisa nyaman di sini."


"Baiklah! Kalian boleh pergi, tapi nanti jangan bawa Nara ke tempat yang tidak baik. Jangan pulang malam dan kalian jangan membawa mobil dengan keadaan tidak sadar karena kebanyakan minum."


"Baik, Tuan Thomson tenang saja. Kekasihmu akan seperti saat kita membawanya."


"Jadi aku boleh pergi?" Jacob menganggukkan kepalanya. Nara seketika memeluk Jacob dengan senang. Mereka berdua yang melihat tersenyum senang.


"Hati-Hat Nara. Laporkan padaku jika mereka mengajak kamu pada hal yang tidak kamu sukai. Aku akan langsung membuat mereka gagal menjadi seorang dokter."


"Kenapa mengancamnya kejam sekali?" gerutu Grace.


Nara tersenyum, tapi hatinya malah langsung teringat Jaden. Jacob dikatakan kejam karena ancamannya. Nara tidak kaget karena kakaknya saja seorang mafia kejam.

__ADS_1


Mereka bertiga pergi dengan naik mobil Tim. Sepanjang perjalanan Nara melihat ke arah luar Jendela menikmati suasana kota Kanada. Hatinya juga merindukan seseorang.


Tidak lama mereka sampai di sebuah tempat yang Nara pernah ke sana. "Apa kita akan makan di sini?"


"Tentu saja, di sini minumannya sangat enak karena si cantik Cathy meracik sendiri minuman di sini."


"Tim menyukai pemilik mini bar ini. Eh, tapi benar yang dikatakan oleh Tim. Minuman di sini enak dan kamu harus mencoba mocktailnya. Masih aman, tidak akan membuat kamu mabuk."


"Mocktail? Itu apa? Kenapa namanya unik begitu?"


"Itu minuman tidak ada alkoholnya. Kamu tenang saja."


Tim dan Grace lalu tersenyum melihat Nara yang begitu polos. Mereka masuk ke dalam, tapi Nara agak ragu-ragu melangkah masuk karena dia tau ini tempat siapa.


"Hai, Cathy," sapa Tim. "Buatkan aku minuman biasanya dua dan kamu coba mocktail ya, Nara?" Nara hanya bisa mengangguk pelan.


Cathy mengenali Nara yang duduk dengan dua pelanggannya itu. Tidak lama Cathy berjalan menuju meja Tim dan memberikan minuman untuk mereka.


"Terima kasih, Cathyku yang cantik." Tim mengedipkan salah satu matanya.


"Sama-sama, Sayang." Cathy melihat pada Nara.


"Cathy, perkenalkan ini teman baruku di kampus, namanya Nara. Dia juga kekasih dosen tampan di kampusku."


"Iya, aku sudah mengenalnya," ucap Cathy santai.


"Kalian saling mengenal?" Grace melihat bingung pada Nara. "Bagaimana bisa? Memangnya kamu sering ke sini, Nara?"


"Aku baru dua kali ini ke sini. Pertama aku diajak oleh Jacob."


"Oh ... jadi Tuan Thomson yang mengajak kamu ke sini. Kalian kencan di sini ternyata?" goda Tim."


Cathy melihat aneh pada Nara. "Aku tinggal kalian dulu kalau ada perlu lainnya kalian bisa langsung memanggilku."


"Cathy, apa lusa kamu ada acara?" tanya Tim cepat.


"Lusa? Memangnya ada apa? Mau mengajakku kencan?"


"Tentu saja, kalau kamu mau aku ingin mengajak kamu bersenang-senang. Aku akan menjemput kamu."


"Aku mau pergi jika kamu mau membawaku ke Queen Island."


"Hah? Kamu mau meminta Tim mengajak kamu ke sana? Tempat itu sangat indah, tapi sangat mahal jika ingin ke sana." Grace tampak kaget.


"Tunggu aku menjadi seorang dokter spesialis bedah dulu, baru aku akan mengajak kamu ke sana, bahkan kalau mau aku akan menikahi kamu di sana," terang Tim.

__ADS_1


__ADS_2