Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Sikap Buruk Roy


__ADS_3

Will yang tidak terima mukanya di lempar kue oleh Jaden, dia mengambil cup cake juga dan mencoba membalas melempar pada Jaden, tapi tidak kena dan malah kena pada Sandra.


Nara sekali lagi membulatkan kedua matanya melihat hal itu. "Mba Sandra."


"Lemparan kamu parah sekali, Will. Kamu bahkan kalah denganku saat main bisbol."


"Dokter Will!" seru Sandra marah karena wajahnya terkena lemparan kue.


"Sandra, kamu jangan marah, bukannya hari ini adalah hari ulang tahun kamu, dan dulu saat kita masih sekolah bukannya kalau ada yang berulang tahun mendapat lemparan telur dan tepung. Anggap saja kamu sedang terkena seperti itu," jelas Will panjang agar Sandra tidak marah.


"Tapi aku tidak pernah melakukan hal itu dengan teman-temanku, Dokter." Sandra juga akhirnya mengambil cup cake dan ingin melempar pada Will, tapi yang ada malah kena pada salah satu pengawal di sana karena Will berhasil menghindar. Jadilah para pengawal itu saling melempar kue satu sama lain.


"Nara, kamu juga harus mendapatkannya biar adil." Will mencoba mengenai wajah Nara. Nara yang ingin menghindar malah menabrak kursi roda Jaden. Nara duduk di pangkuan Jaden dengan wajah yang sempat terkena kue.


Dokter Will yang melihat hal itu malah tersenyum dan dia tidak mau mengganggu malah mengalihkan perhatian semua yang ada di sana.


Kedua pasang mata milik Jaden dan Nara saling berpandangan. Telunjuk Jaden terangkat dan mengusap lembut bibir Nara yang terkena kue kemudian memasukkan telunjuknya pada mulutnya. Nara segera beranjak dari pangkuan Jaden sebelum orang-orang di sana sadar akan posisi mereka. Semua tidak memperhatikan karena terlalu bersemangat saling melempar.


Beberapa jam kemudian acara pun selesai. Nara tampak menarik napas panjangnya melihat semua yang ada di hadapannya sekarang. Sebuah ruangan dengan banyak sisa kue yang tadi dibuat perang lempar-lemparan.


"Huft! Bisa sampai malam ini aku nanti akan mengerjakannya," ucapnya lirih.


Tidak lama dokter Will berjalan ke ruang depan dengan penampilannya yang sudah rapi dan bersih.


"Nara, aku pulang dulu, Ya. Kamu sebaiknya mandi dulu baru membersihkan tempat ini."


"Nanti saja, Pak Dokter. Aku bersihkan dulu baru aku nanti membersihkan diriku."

__ADS_1


"Kalau begitu aku pulang dulu karena hari hampir malam. Kamu semangat ya membersihkannya." Tangan Will menepuk pundak Nara.


"Tenang saja, Pak Dokter, aku sudah biasa melakukan hal bersih-bersih rumah seperti ini."


Will izin pulang dan ada beberapa pengawal di sana ingin membantu Nara, tapi Nara tidak memperbolehkannya. Nara sendiri yang akan membersihkannya.


Nara mulai mengambil sampah yang ada di sana, dan memasukkannya ke dalam kantong besar, dan mengelap semuanya.


Hampir satu jam Nara membersihkan ruangan itu sendirian. "Nara, maaf ya kalau aku tidak bisa membantu kamu. Aku sudah capek sekali dan ingin segera tidur."


Lah, dipikir Nara tidak capek. Sandra kan merasa memang ini sudah tugas Nara sebagai pelayan.


"Mba Sandra silakan tidur saja, dan aku bisa mengerjakan ini semua."


"Malam ini aku ingin tidur dengan memakai kalung pemberian Jaden. Bagus sekali, kan, Nara kalung ini?" Tangan Sandra mengusap kalung yang terpasang di lehernya.


"Tentu saja, dia menganggap aku istimewa dalam hidupnya, makannya dia memberikan hadiah yang istimewa ini untukku." Sandra tak hentinya tersenyum pada Nara. Nara hanya membalasnya dengan senyum tulusnya.


Sandra melangkah pergi dari sana dan menuju kamar tidurnya. Nara kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit.


Nara melihat ke arah jam di dinding dan ternyata hampir tengah malam. Nara merebahkan tubuhnya sejenak di sofa karena dia sangat lelah.


"Ya ampun, aku belum mencuci baju-baju Tuan JL yang terkena kue." Nara kembali bangkit dan dia berjalan dengan malas ke kamar Jaden.


Nara mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar. Nara membuka perlahan pintunya dan melihat Tuan JLnya sudah tidur dengan pulas.


"Syukurlah dia sudah tidur." Nara mengelus lega dadanya. "Kalau dia belum tidur pasti aku dapat masalah."

__ADS_1


Nara berjalan perlahan dan mengambil baju Jaden di keranjang pakaian kotor pun dia lakukan secara perlahan-lahan juga agar tidak membangunkan Jaden Luther yang terlihat sangat nyenyak tertidur.


"Sebaiknya aku segera pergi dari sini." Nara berhasil keluar dari dalam kamar Jaden.


Dia berjalan menuju ruang untuk mencuci baju dan melihat banyak pakaian kotor yang akan dia cuci. Nara membersihkan dulu semua pakaian kotor.


Nara sampai tertidur dengan duduk saat menunggu mesin cucinya berputar. "Aku berbaring sebentar saja di kursi itu." Nara bangun perlahan dan memilih berbaring di sofa ruang tengah.


Nara tidak kuat lagi membuka matanya dan akhirnya dia malah tertidur. Beberapa menit kemudian Nara merasakan ada sesuatu yang menyentuh pipinya dengan lembut. Nara yang merasa risih akhirnya membuka kedua matanya dan dia amat terkejut melihat ada Mas Roy yang tangannya berada di pipi Nara, dan tidak hanya itu dia juga malah memberikan senyuman manisnya pada Nara.


"Mas Roy? Apa yang kamu lakukan di sini?" Nara menarik tubuhnya bangkit dari sofa. Rasa kantuknya mendadak hilang saat mengetahui Mas Roy berbuat hal yang tidak dia sangka.


"Nara, aku minta maaf sama kamu. Aku benar-benar merasa bersalah sudah berkata buruk tentang kamu. Maafkan aku, Nara." Tangan Roy menggenggam tangan Nara.


"Lepaskan, Mas Roy!" Nara mencoba menarik tangannya agar terlepas dari tangan Roy, tapi tidak bisa. "Mas Roy, aku sudah memaafkan Mas Roy, jadi kita sudah tidak ada urusan lagi. Aku mohon lepaskan tanganku." Nara sekali lagi berusaha melepaskan tangan Mas Roy.


"Baiklah akan aku lepaskan tangan kamu, tapi aku ingin kamu mau menerimaku menjadi kekasih kamu. Aku sangat mencintai kamu, Nara," ucapnya memaksa.


"Mas Roy jangan begini. Aku tidak bisa menerima Mas Roy karena aku tidak mencintai Mas Roy."


Roy seketika melepaskan tangan Nara. Dia berjalan mendekat ke arah Nara sampai Nara melangkah mundur dan jatuh di atas sofa. Roy dengan cepat menindih tubuh Nara. "Kamu tidak mencintaiku? Lalu siapa yang kamu cintai? Tuan Jaden?"


Seketika kedua mata Nara mendelik mendengar apa yang Mas Roy katakan. "A-aku tidak mencintai Tuan Jaden. Mas Roy jangan bicara sembarangan," ucap Nara terbata.


Pria di atas Nara itu menyeringai jahat. "Jangan munafik kamu, Nara. Kamu menyukai Tuan Jaden, Kan? Dasar wanita tidak tau diri! Kamu itu hanya pelayan di sini, jangan bermimpi menjadi nyonya besar. Bahkan Tuan Jaden itu hanya membelimu dari paman kamu. Kamu dijual oleh paman kamu, bukan? Cih!"


Hati Nara kembali merasakan sakit saat kata-kata kasar Mas Roy kembali terlontar. Nara mencoba menahan agar dia tidak menangis.

__ADS_1


__ADS_2