Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Perasaan Saling Menginginkan


__ADS_3

Nara mengambil gantungan kunci dari Mas Leo dan memandanginya dengan senyam-senyum sendiri.


"Kamu sedang apa di sini sendirian, Nara?" Tiba-tiba suara Jaden terdengar di sana.


"Tuan JL? Kenapa Tuan bisa sampai ke sini? Lalu, mana Mba Sandra?" Nara celingukan mencari keberadaan Mba Sandra.


"Sandra kembali ke dalam rumah untuk


mencari ponselnya. Apa yang kamu bawa itu?" Jaden penasaran dengan apa yang ada di tangan Nara.


"Ini buku dan hadiah dari Mas Leo." Nara menunjukkan apa yang ada di tangannya. "Aku selalu membawa gantungan kunci ini agar aku tidak merasa kesepian."


"Coba lihat gantungan kunci dari Leo." Tangan Jaden menjulur meminta gantungan. kunci Nara dan Nara memberikannya. "Biasa saja. Gantungan kunci ini jelek. Nanti akan aku berikan yang lebih bagus." Jaden dengan seenaknya dan tanpa rasa bersalah melempar gantungan kunci itu.


"Hah! Kenapa dibuang?" Nara kaget setengah pingsan melihat gantungan kunci miliknya dibuang sembarangan seperti itu.


"Nanti aku belikan yang lebih mahal dan bagus dari itu," ucap Jaden santai.


Muka Nara mendengus kesal melihat pada Jaden. "Tuan JL menyebalkan! Tidak seharusnya Tuan melakukan hal itu."


Nara berjongkok mencari di mana gantungan kunci yang diberi oleh Leo.


"Tidak perlu kamu cari. Nanti aku akan belikan kamu yang lebih bagus dan lebih mahal dari itu, Nara."


"Tidak mau! Bagaimanapun juga ini pemberian dari orang yang sangat berharga bagiku dan aku akan selalu menyimpannya."


"Leo juga tidak akan marah."


"Akhirnya ketemu!" Nara membersihkan gantungan kuncinya yang terkena lumpur.


"Buang saja, Nara, untuk apa menyimpannya." Jaden terlihat sangat kesal.


Nara dengan muka ditekuknya berjalan menuju Jaden yang duduk di atas kursi roda. "Aku tidak akan membuang gantungan kunci ini." Nara mendekap dalam telapak tangannya."


Jaden yang melihat hal itu ingin sekali merampas gantungan kuncinya, dan membuangnya sangat jauh sampai tidak bisa ditemukan.


"Buang, Nara," ucap Jaden singkat.


"Tidak mau!" Nara mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Jaden yang melihatnya semakin gemas dan kesal. Tangannya yang panjang dan kekar itu dapat menjangkau tubuh Nara dan menariknya sampai Nara yang tidak pasang kuda-kuda jatuh duduk di pangkuan Jaden.


Kedua mata Nara bertemu dengan kedua mata Jaden. Jantung Nara tiba-tiba berdetak kencang.


"Kamu tetap saja suka membangkang." Tangan Jaden yang tidak disadari oleh Nara sudah berada tepat di tengkuk Nara. Tangan itu bergerak tanpa aba-aba menarik kepala Nara sehingga wajah Nara menyentuh wajah Jaden.


Jaden sekali lagi mencium bibir Nara. Hal yang sangat Jaden sukai dan inginkan dari kemarin. Nara yang ingin sekali menolak hal itu, tapi hati dan tubuhnya tidak mau bekerja sama. Dia sekali lagi terhayut dalam sentuhan sang pria dingin sampai gantungan kunci yang dia bawah jatuh di pangkuan Jaden.


Beberapa detik kemudian Jaden melepaskan ciumannya, tapi dahi mereka masih menyatu. Ada gemuruh hebat pada dada Nara yang Nara sendiri tidak tau itu perasaan apa. Tangan Gadis itu masih melingkar pada leher si pria dingin.


"Ck! Kenapa aku sangat menyukai berciuman denganmu," ada rasa kesal dari ucapan Jaden.


Nara yang mendengar apa yang baru saja Jaden katakan tampak bingung juga karena dia sendiri juga kenapa menyukai ciuman yang Jaden berikan? Apa karena Jaden pria satu-satunya yang sudah menciumnya?


"Lalu, kenapa Tuan tadi menciumku lagi?"


"Hukuman karena kamu sekali lagi membangkang padaku." Nara menarik wajahnya dan tanpa takut kedua mata Nara menatap pria di depannya. "Apa kamu menyukai Leo, Nara?" tangan Jaden mengusap lembut pipi Nara.


Nara reflek menggelengkan kepalanya. "Memang aku masih ada hak untuk menyukai seseorang? Tuan, kan, tidak memperbolehkan aku mencintai siapapun apalagi mas Leo karena aku harus terus jadi pelayan Tuan sampai Tuan sendiri yang melepaskan aku."


"Pintar." Jaden tersenyum.


"Gantungan kunciku mana?" Nara celingukan mencari di mana gantungan kunci miliknya.


"Ini yang kamu cari?" Jaden dengan datarnya menunjukkan benda yang dicari oleh Nara.


"Iya! Gantungan kunciku." Saat Nara mau mengambil dari tangan pria itu. Jaden malah menjauhkan, dia ingin menggoda Nara. "Tuan, berikan, nanti rusak,"


"Katakan dulu jika aku pria yang kamu inginkan."


"Apa? Tentu saja aku tidak mau karena itu sama saja Tuan menyuruhku berbohong." Sekali lagi Nara mengerucutkan bibirnya.


"Kalau begitu kamu tidak akan mendapatkan gantungan kunci ini lagi."


Nara seketika menyipitkan kedua matanya melihat pada Jaden. "Aku akan mengambilnya dengan caraku."


Setelah mengatakan hal itu Nara mencoba merebut gantungannya dari tangan Jaden. Mereka malah terlihat seperti dua orang bocah sedang bermain rebutan mainan, cuma ini versi orang dewasa.


"Kalian berdua sedang apa?"

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara seseorang di sana. Jaden dan Nara seketika menoleh bersamaan dan melihat ada Sandra berdiri menatap aneh pada mereka berdua.


"Mba Sandra?"


"Nara, apa yang sedang kamu lakukan?"


Nara yang baru sadar jika posisinya tidak semestinya langsung menarik dirinya dan berdiri dengan canggung.


"Kenapa kamu tadi sampai memeluk Tuan Jaden?"


Ya! Tadi posisi Nara saat berebut gantungan kunci itu tangannya sekali lagi melingkar leher Jaden dengan posisi tubuh di condongkan ke arah Jaden.


"Tadi aku sedang mengambil gantungan kunci yang ditemukan oleh Tuan Jaden."


"Aku sedang bermain saja dengan Nara dia tidak sengaja jatuh tadi. Ini gantungan kunci kamu, Nara." Jaden memberikan hadiah dari Leo. "Oh ya, Sandra, apa terapinya sudah selesai? Kalau selesai aku mau kita pulang saja."


"Kalau Tuan Lelah, kita sudahi saat latihannya kali ini. Perkembangan Tuan sudah banyak sekali. Aku yakin Tuan akan segera sembuh."


"Terima kasih, dan ini berkat kamu."


Sandra tampak bahagia dan tersenyum pada Jaden. Mereka berdua kembali ke rumah dengan Nara yang berjalan di belakang Sandra yang mendorong kursi roda Jaden.


Di sepanjang perjalanan Nara memperhatikan dua orang yang saling berbicara berdua itu.


"Bodoh ... Nara Bodoh! Kenapa melakukannya lagi dan lagi? Tapi aku benar-benar tidak bisa menolak pesona Tuan Jaden, apalagi sentuhan bibirnya begitu lembut dan rasanya aku menginginkan hal itu," Nara berdialog dengan kesal pada dirinya sendiri.


Sampai di rumah, Jaden dan Nara langsung di sapa oleh Roy yang berdiri di samping pintu.


"Selamat siang, Tuan,"


"Siang," jawab Jaden singkat.


"Hai, Nara!" Roy semangat saat menyapa Nara.


"Hai, Mas Roy, tadi aku lihat Mas Roy tidak ada si sini? Mas Roy ke mana?"


Jaden yang melihat hal itu menyuruh Nara segera masuk karena pekerjaannya masih banyak.


"Iya, nanti aku akan masuk. Tuan."

__ADS_1


__ADS_2