
Dokter keluar dari kamar di mana Dimas menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru dari tubuhnya.
"Dok, bagaimana dengan keadaan kakak saya?"
"Kakak kamu sudah melewati masa kritisnya. Dia pria yang kuat." Tangan dokter menepuk pundak V.
"Dok, apa boleh aku melihat Dimas?" tanya Denna cepat.
"Nanti setelah dia dipindahkan ke kamarnya untuk pemulihan, kalian boleh menemuinya." Dokter itu berpamitan pergi.
Beberapa menit kemudian Dimas di pindahkan ke kamarnya yang sudah nenek pesanku, yaitu kamar VVIP.
"Tolong, jika ingin menjenguk pasien harus dua orang saja yang masuk ke dalam ruangan."
V ingin lebih dulu menemui kakaknya di dalam kamar. Dia ditemani oleh Jacob masuk ke dalam kamar Dimas.
V sedih melihat keadaan Dimas yang masih ada beberapa alat medis yang menancap pads tubuhnya.
"Kak, maafkan, aku." V memeluk kakaknya dengan hati-hati.
Dimas yang duduk bersandar pada ranjangnya yang diatur menekuk tampak membalas pelukan adiknya.
"Jangan berkata apa-apa, V. Kita tidak perlu membahas apapun."
__ADS_1
"Kakak selain adalah Kakakku, Kakak juga adalah malaikat penjagaku selama ini. Sekali lagi terima kasih, Kak."
"Kamu juga malaikatku, V."
Jacob berusaha mengangkat tangannya untuk memegang kaki Dimas. Dimas yang melihat hal itu merasa tidak enak.
"Apa yang Anda lakukan, Pak?"
"Aku ingin mengucapkan terima kasih sama kamu karena sudah menjaga dan merawat Vero. Aku ayahnya malah tidak bisa menjaganya."
"Jika Anda ayahnya V, berarti Anda juga ayah saya. Tidak pantas seorang ayah menyentuh kaki anaknya."
"Terima kasih sekali lagi, Dimas."
"Kak, Denna mencintai kamu. Aku juga sudah menceritakan semuanya. Aku tidak pantas untuk Denna, dan aku juga tidak mau memaksa Denna menerimaku hanya karena tidak enak padaku. Segera lamar dia, Kak, atau nanti dia bisa dilamar orang lain."
Sekarang Jaden serta Nara yang masuk ke dalam melihat Dimas. "Apa kabar calon menantuku? Kamu benar-benar seorang kakak yang hebat.'
Jaden mengerutkan kedua alisnya. "Calon menantu? Memangnya kapan aku merestui mereka?"
"Aku mamanya Denna dan aku merestui Denna dengan Dimas. Kamu keberatan?" Tantang Nara.
"Denna masih harus menyelesaikan kuliahnya. Dia pasti terbagi pikirannya kalau harus memikirkan pacaran." Jaden melirik pada Dimas.
__ADS_1
"Tuan, kalau saya mau menikahi Denna, apa Tuan dan Nyonya Nara merestui?" tanya Dimas tegas.
Nara seketika mendelik, beberapa detik kemudian dia melihat pada Jaden yang seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu serius mau menikah dengan anakku, Dimas?" tanya Nara memastikan.
"Tentu saja Nyonya Nara. Saya sangat serius. Setelah menikah, saya tidak melarang Nona Denna tetap kuliah. Nona Denna tetap dapat meneruskan kuliahnya sampai selesai."
"Anak muda, aku senang kamu dengan berani mengatakan ingin menikahi putriku, tapi aku akan pikirkan tentang hal ini, dan jangan ditanya tentang keputusanku."
"Kelamaan! Keburu Dimas tidak mau lagi sama putriku karena ayahnya yang terlalu takut ditinggal anak gadisnya, sampai tidak memberi kepastian pada pria yang mau melamar putrinya." Nara melengos kesal.
"Kita ikut aturan seperti orang pada lainnya jika anaknya dilamar oleh seseorang, Nara."
"Kita tanya saja Denna. Jika dia setuju menerima ajakan menikah Dimas, kamu sebagai ayah harus merestuinya."
"Tapi Nar?"
"Sayang! Kamu tidak pernah muda saja. Ingat saja bagaimana kamu dulu saat ingin mendekatiku. Menjengkelkan Dimas."
Dimas malah terkekeh pelan melihat orang tua Denna yang sedang ribut kecil.
"Baiklah! Kamu boleh menjadi kekasih putriku. Jaga dia baik-baik, jangan menyakitinya. Awas saja kalau kamu membuatnya menangis."
__ADS_1
"Saya janji tidak akan membuat Nona Denna menangis."