
Nara ingat saat dulu si kecil Dimas menyelamatkan dia dari sekapan preman pasar yang diperintahkan oleh Sandra. Dimas dari kecil menjadi sosok yang berani sampai akhirnya Jaden memberikan Dimas orang tua angkat yang mau mengurusnya sampai dia besar karena mereka tidak memiliki anak. Dimas hidup dalam kesederhanaan di sebuah tempat dengan bahagia.
"Aku bangga sama kamu, Dimas." Nara mengusap lengan tangan Dimas penuh haru.
"Saya sangat senang bisa membalas budi baik yang Tuan dan Bibi Nara sudah berikan padaku."
"Kamu yang mengajarkan kita tentang kebaikan dan keberanian."
"Saya mau permisi dulu kalau begitu." Dimas pergi dari sana.
Tidak lama Denna terbangun dan senang sekali melihat ada kedua orang tuanya. Denna segera beranjak dari tempat tidurnya dan memeluk ayahnya dengan erat. "Ayah, maafkan Denna." Denna menangis.
Jaden tampak bingung melihat sikap putrinya yang tiba-tiba minta maaf dan
menangis. "Sayang, kamu kenapa?"
Denna baru sadar jika dia hampir saja keceplosan mengatakan apa yang baru saja dia alami. "Aku minta maaf karena aku seharusnya ikut kalian ke sini kemarin malam. Acara pesta itu tidak menyenangkan sama sekali. Apa lagi aku memang tidak terlalu suka pesta semacam itu."
"Apa ada yang membuat kamu tidak nyaman di sana?" tanya Jaden lagi.
Putri kesayangannya itu menggeleng perlahan. "Tidak ada, hanya saja memang pestanya tidak menyenangkan bagiku, dan aku pasti melewatkan hal menyenangkan di sini."
"Tidak juga, nanti sore akan ada acara lagi yang paman tampan kamu adakan dan dia pasti akan sangat! senang melihat keponakan kesayangannya berada di sini." Nara mengusap lembut kepala Denna.
"Oh ya! Aku lupa mau bertanya pada kalian berdua."
"Tanya apa, Sayang?"
"Kenapa kalian tidak memberitahu tentang bodyguard bernama Dimas itu? Jujur saja aku tidak suka jika kehidupanku diawasi oleh seseorang walaupun itu demi keselamatan. Aku bisa menjaga diriku sendiri tanpa harus dikawal oleh bodyguard."
Nara dan Jaden saling melihat satu sama lain. Denna ini memang tidak tau siapa Jaden sebenarnya, yang dia tau jika ayahnya ini hanya seorang pengusaha besar saja.
__ADS_1
"Ayah minta maaf jika sebelumnya ayah tidak mengatakan tentang Dimas sama kamu, tapi apa yang ayah lakukan ini hanya ingin menjaga kamu."
"Iya aku tau, Yah." Denna sekali lagi memeluk ayahnya. "Tapi aku tidak suka jika selalu diawasi dan diikuti oleh seorang bodyguard. Boleh tidak jika Dimas tidak perlu menjadi bodyguardku lagi?"
Jaden yang sedang mengusap lembut kepala putrinya yang bersandar padanya melihat sekali lagi pada Istrinya yang tidak tau harus memberi jawaban apa?
"Uncle tidak setuju jika kamu tidak mau dijaga oleh Dimas," suara Leo tiba-tiba terdengar di sana.
"Uncle, kenapa tidak mendukungku sekarang? Biasanya Uncle selalu mendukung apapun keinginanku." Denna agak kaget dengan apa yang Uncle Leonya katakan.
"Uncle akan mendukung jika dirasa hal itu bisa kamu atasi sendiri." Kedua mata Leo memberi isyarat jika Denna harus ingat tentang kejadian kemarin malam yang dia alami.
"Jadi menurut Mas Leo benar jika Jaden menyuruh Dimas menjadi bodyguard Denna?" tanya Nara dan Leo menanggapi dengan menganggukkan kepalanya. "Aku juga akan lebih tenang jika Dimas bisa menjadi bodyguard Denna."
"Kalian ini, kenapa bertindak semaunya? Aku tidak mau jika Dimas mengawasiku terus." Denna yang kesal menghentakkan kedua kakinya berjalan keluar dengan kesal dari dalam kamar.
Mereka bertiga di dalam kamar tampak saling melihat satu sama lain. "Kenapa Di mirip sekali denganmu, Nara?" Jaden melihat pada Nara.
Di luar Denna yang berjalan menuju keluar rumah dan tepatnya di halaman depan. Kedua matanya menangkap sosok yang sekarang entah kenapa dia benci, yaitu Dimas yang berdiri membelakanginya sedang bersidekap melihat ke arah bawah bukit.
" Apa aku bicara saja dengannya dan memintanya mengundurkan diri untuk menjadi bodyguardku." Denna berjalan menghampiri Dimas. "Dimas, aku ingin bicara denganmu."
Pria itu menoleh dan melihat datar pada Denna. "Ada apa, Nona Denna?"
"Dimas, bisa tidak kamu bicara dengan kedua orang tuaku dan katakan pada merek jika kamu tidak mau menjadi bodyguardku."
Dimas melihat aneh pada Denna. "Maksud Nona Denna?"
"Jujur saja aku tidak suka diawasi dan diikuti seseorang. Maksud aku aku tidak mau memiliki seorang bodyguard."
"Kenapa bilang pada saya? Nona katakan saja pada tuan Jaden untuk memberhentikan saya dan akan saya lakukan."
__ADS_1
Denna terdiam dengan wajah cemberutnya. "Masalahnya ayahku tidak mau melakukan hal itu, bahkan uncle Leo juga sama, dia biasa mendukungku, tapi kali ini dia kenapa malah mendukung ayahku."
"Itu berarti ayah Nona masih tidak bisa percaya Nona bisa menjaga diri Nona sendiri dengan baik."
"Enak saja, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Buktinya kemarin malam itu kenapa hal itu sampai bisa terjadi?" Dimas menatap Denna dengan datar.
"Itu--." Denna gantian menatap Dimas dengan tatapan malas. "Aku waktu itu terlalu bodoh sampai bisa percaya sama saudara sepupu Evans yang katanya kena kanker otak. Aku akan membuat pelajaran pada merek berdua."
Dimas malah berjalan pergi dari sana tidak memperdulikan Denna yang sedang kesal sendiri. Denna sampai kesal melihat sikap Dimas." Dimas! Kamu mau ke mana? Aku belum selesai bicara sama kamu." Gadis itu mengejar Dimas yang malah tidak memperdulikan panggilan Denna.
BRUK!
"Aduh!"
Suara benda jatuh itu berhasil membuat Dimas menoleh ke arah belakang. Dia berjalan mendekat Denna yang ternyata terjatuh ke tanah dan memegangi Sikutny yang berdarah. "Nona Denna kenapa bisa sampai jatuh?"
"Ini semua gara-gara kamu, aku masih ingin bicara dengan kamu, tapi kenapa kamu pergi begitu saja?" Denna membersihkan sikut ya dengan tangan satunya.
BLUP!
Tubuh Denna tiba-tiba digendong oleh Dimas, Denna tercengang dengan sikap Dimas. Dia terus memandangi Dimas yang wajahnya sama sekali tidak melihat pada orang yang sedang dia gendong.
Dimas meletakkan Denna duduk di bangku taman dan dia berjalan menuju mobil mengambil sesuatu. Denna hanya terdiam di tempatnya melihat Dimas yang berjalan kembali mendekat ke arahnya.
"Oleskan obat ini pada luka Nona. Luka itu akan segera sembuh." Dimas memberikan obat berbentuk salep pada Denna. Denna mengambilnya dengan kasar. Dimas hanya melihat Denna mengoleskan salep pada lukanya.
"Dimas, aku mau kamu bicara pada ayahku dan katakan jika kamu mau mengundurkan diri menjadi bodyguardku karena aku tidak mau memiliki bodyguard."
"Maaf saya tidak bisa. Saya akan berhenti mengawal Nona Denna jika ayah Nona sendiri yang menginginkannya." Dimas berjalan pergi dari sana meninggalkan Denna dengan wajah ditekuknya.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak mau? Apa dia sangat membutuhkan pekerjaan ini?"