
Jaden hanya memandang datar pada wanita yang sedang duduk di atas mejanya dengan menyilangkan kedua kakinya.
"Apa yang kamu inginkan dengan datang ke sini menemuiku?"
"Aku ingin kamu." Mata Mauren menatap tajam pada Jaden.
"Kenapa? Apa karena adikku lumpuh dan kamu sudah tidak memiliki seseorang yang bisa mewujudkan obsesimu?"
"Tidak, Sayang. Aku dari dulu masih sangat mencintaimu. Jacob yang membuatku harus meninggalkan kamu."
"Mauren, aku tidak peduli apapun itu alasan kamu meninggalkan aku. Aku tidak mencintai kamu sama sekali, dan kamu harus tau jika aku sudah menikah dengan Nara."
Terdengar tawa wanita yang dipanggil Nara rubah licik. "Dia menjadi istrimu hanya sebagai status saja, kan? Ayolah, Jaden! Aku tau siapa kamu dan aku mau menawarkan sesuatu yang pastinya masih kamu harapkan dariku. Aku ingin menjadi menjadi milikmu kembali. Kita akan bisa hidup bahagia, bahkan lebih bahagia dari kehidupan kamu dengan pelayan bodoh itu." Jemari Mauren mengusap bibir Jaden.
Jaden dengan cepat mencengkeram kuat tangan Mauren. "Jangan pernah menyentuhku dengan tanganmu, Mauren karena tubuhku milik Nara, dan jangan pernah berbicara buruk bahkan menghina istriku, atau aku akan lupa pernah mengenalmu." Jaden menghempaskan tangan Mauren dengan kasar.
"Apa kamu Jaden yang ku kenal dulu?"
"Aku masih tetap Jaden yang dulu hanya saja sekarang aku hanya milik Nara. Pergi dari ruanganku sekarang."
Mauren tersenyum miring. "Aku akan buat hidup Nara menderita nantinya karena sudah berani mengambil kamu dariku."
Mauren melangkah pergi dari kantor Jaden. "Kamu sama saja seperti Damian tidak pernah mau menerima kekalahan."
Tidak lama ponsel Jaden berdering dan ternyata itu dari sang istri tercinta.
"Halo, Sayang."
"Ada apa, Nara?"
"Kamu ada di kantor, kan?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku ada di kantor. Memangnya aku harus ada di mana? Club Malam?"
"Mana ada club malam buka di pagi hari? Aku tadi mencoba menghubungi Leo, tapi panggilannya sibuk terus."
"Untuk apa kamu menghubungi Leo? Apa kamu diam-diam ingin bertemu dengannya?"
"Aku mau bertanya pada Leo di mana kamu?"
"Kenapa bertanya pada Leo? Tanya saja padaku langsung."
"Aku takut kamu sedang sibuk atau ada rapat."
"Aku sedang tidak sibuk, tapi ada apa kamu menghubungiku? Tidak biasanya."
"Entah kenapa aku takut si nenek sihir mendatangimu."
__ADS_1
"Nenek sihir? Maksud kamu siapa?"
"Itu, sih rubah licik. Entah sebutan apa lagi yang pantas aku sematkan padanya."
"Mauren? Dia memang baru saja ke kantorku."
"Apa? Dia ke kantor kamu? Feelingku benar ternyata. Apa yang dia lakukan di sana? Apa dia merayu kamu lagi?"
"Dia ingin aku kembali padanya, tapi aku sama sekali tidak memperdulikan ucapannya."
"Tau begitu aku bunuh saja dia kemarin malam dengan pisau makan di restoran itu," ujar Nara.
"Kenapa kamu jadi sekejam itu?"
"Kenapa? Tidak rela kalau aku membunuhnya? Masih menginginkan dia?"
"Oh God! Kenapa kamu jadi sangat sensitif seperti ini? Kamu hamil, aya?"
"Hamil? Siapa yang hamil? Wajar saja aku begini karena aku tidak mau suamiku di rayu oleh wanita lain."
"Tidak ada yang akan mempan merayuku kecuali kamu. Sudahlah! Mauren tidak akan menggangguku lagi. Sekarang aku mau melanjutkan pekerjaanku. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak karena kalau kamu strez kita akan lama memiliki seorang bayi."
"Ya sudah, kalau begitu aku mau kembali membantu nenek berkebun. Aku mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu."
Sore itu, Jaden yang sudah menyelesaikan pekerjaannya langsung menuju ke rumah neneknya karena dia sudah merindukan bertemu istrinya.
"Hai, Nek."
"Kamu sudah pulang? Leo mana?" Nenek tidak melihat sosok Leo yang biasanya sama Jaden.
"Dia sedang mengurus pekerjaan yang aku perintahkan. Nek, istriku mana?"
"Dia baru saja naik ke atas kamar katanya mau mengambil ponselnya."
"Kalau begitu aku mau menemui Nara dulu di atas."
Jaden naik ke lantai dan saat membuka kamar dia tidak melihat Nara berada di dalam kamar.
"Dia di mana?"
Jaden melihat pada pintu kamar mandi. Terkulas senyum di sudut bibir Jaden.
"Sayang, kamu sudah datang?" Nara yang tadinya sedang berendam di dalam bathub kaget saat merasakan ada gerakan di dalam baknya.
"Kenapa tidak mengajakku untuk berendam bersama?"
__ADS_1
"Aku kira kamu pulang masih nanti. Tadi badanku merasa lengket setelah berkebun sama nenek, jadi aku memutuskan berendam saja."
Mereka berdua duduk saling berhadapan di dalam bathub. "Apa kamu senang tinggal di sini atau mau tinggal di rumah kita sendiri?"
"Aku sedang di sini, apa lagi nenek sangat baik dan kasihan kalau kita meninggalkan nenek sendiri. Di sini aku juga banyak belajar hal baru dari nenek."
"Aku senang sekali melihat kamu dan nenek seperti ini."
"Bagaimana pekerjaan kamu hari ini?"
"Semua berjalan lancar. Bulan depan perusahaan aku dan Renata akan ada acara di Paris. Aku akan mengajak kamu ke sana."
"Hah? Di Paris?"
"Iya, untuk peluncuran produk yang sudah aku dan Renata sepakati. Kita akan di sana selama seminggu."
"Jadi, kita akan berbulan madu lagi di sana?" Nara perlahan mendekat pada Jaden dan sekarang dia tepat di atas tubuh Jaden.
Tangan pria itu memeluk pinggang Nara dan mengecupnya lembut. "Kita akan bersenang-senang di sana."
Mereka menikmati waktu bersama di dalam bathub itu. Setelah selesai Nara dan Jaden turun ke lantai bawah untuk makan malam dengan nenek.
"Nek, ada apa ini?"
Jaden dan Nara agak terkejut karena mereka kedatangan beberapa petugas kepolisian.
"Jaden, mereka membawa surat perintah untuk menangkap kamu." Nenek melihat pada Jaden dan di tangan Nenek Miranti ada selembar kertas putih yang adalah surat penangkapan untuk Jaden.
"Kenapa suamiku harus ditangkap?" Nara tampak panik.
"Maaf, Tuan Jaden. Anda harus ikut kami ke kantor polisi karena pria yang sudah menabrak Mona meninggal di dalam sel tahanan karena di racun oleh seseorang yang sekarang sedang kamu cari. Sebelum meninggal pria itu menyebut nama Anda."
"Apa? Jadi kalian mencurigai aku mengirim seseorang untuk meracuni pria itu?" Jaden tampak terkejut.
"Sebaiknya Tuan Jaden ikut kami saja untuk menyelesaikan masalah ini."
"Oh Tuhan! Aku sama sekali tidak pernah melakukan hal itu."
"Jaden, sebaiknya ikut mereka saja terlebih dahulu. Nanti Leo akan mengurusnya."
Nara memegang tangan Jaden. "Aku mau ikut pergi." Nara tampak menangis.
"Kamu di sini saja. Biar nanti Leo yang akan ke sana."
"Tidak mau! Aku mau ikut kamu." Paksa Nara.
"Nek, tolong bicara sama Nara. Aku akan segera kembali, ini hanya salah paham. Semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
Nenek Miranti meyakinkan Nara agar di rumah saja bersamanya dan Leo yang akan menyusul Jaden ke sana.