
Nara selesai makan tampak bingung sekarang dia mau apa? Dia mencari tas sekolahnya di dalam kamar dan ternyata tas sekolahnya ada di lemari bajunya.
"Mending aku baca buku saja daripada aku bingung mau melakukan apa? Eh! Atau aku coba menghubungi Paijo saja. Aku mau bercerita pada Paijo tentang aku yang diculik. Siapa tau Paijo bisa menolongku, sebenarnya aku juga tidak mau menjadi pelayan si dingin itu. Aku hanya berpura-pura saja agar aku tidak dijual sama dia."
Nara turun ke lantai bawah dengan mengendap-endap, dia mencari di mana ada pesawat telepon. "Sepi. Aku sebaiknya cepat-cepat, tadi kalau tidak salah di ruang tengah ada telepon." Nara berjalan berjinjit agar tidak menimbulkan suara.
Nara sudah berdiri di depan pesawat telepon. Dia perlahan-lahan mengangkat pesawat telepon itu.
Di tempatnya Jaden sedang tidak melihat pada tabletnya karena dia sedang berjalan menuju ruangan di mana neneknya sedang di rawat. Jaden meninggalkan tabletnya di dalam mobil.
"Nona Nara, Nona sedang apa di situ?"
Kedua mata Nara mendelik mendengar ada suara Bi Ima tepat di belakangnya. Nara meletakkan gagang telepon dan menoleh perlahan pada Bi Ima.
"Bi Ima, aku ingin menghubungi temanku untuk mencari tau apa nilai ulangan aku mendapat hasil yang bagus. Aku baru saja selesai ujian dan tinggal menunggu kelulusanku."
Wanita paruh baya yang wajahnya tampak kaku dan tegas itu melipat kedua tangannya ke depan.
__ADS_1
"Kalau kamu mau menghubungi teman kamu, kamu harusnya minta izin dulu sama Tuan Jaden karena semua yang ada di rumah ini harus diketahui oleh Tuan Jaden."
"Jaden, kan sedang tidak ada di rumah."
"Tuan Jaden, panggil dia dengan sebutan yang benar."
"Iya, aku minta maaf."
"Sekarang sebaiknya kembali ke kamar kamu dan bawa barang-barang ini untuk kamu. Persiapkan diri kamu nanti malam." Tangan Bi Ima menyerahkan paper bag yang Nara sendiri tidak tau apa isinya.
"Ini apa, Bi?" tanya Nara heran dan kenapa tadi Bi Ima mengatakan untuk mempersiapkan dirinya.
"Oh iya!" Nara kaget dan dia langsung berjalan pergi dari sana.
"Anak itu pasti akan sangat merepotkan tuan muda." Bi Ima menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di dalam kamarnya Nara membuka paper bag itu dan dia sangat terkejut melihat di dalamnya.
__ADS_1
"Baju apa ini? Dan sepatu kets?" Mata Nara mendelik melihat barang-barang yang ada di sana. Ada juga satu set alat make up dan parfum. Nara bingung kenapa dia di berikan semua ini?
***
Di sebuah kamar rawat di rumah sakit yang cukup ternama di kota itu. Seorang wanita sedang berbaring di atas ranjang dan dengan tangan terpasang selang infus sedang duduk makan siang.
"Halo, Gadisku." Jaden mendekat dan mencium kening wanita tua yang sangat berarti bagi hidup Jaden.
"Akhirnya kamu datang juga, Sayang. Kamu benar-benar keterlaluan, apa kamu sudah tidak sayang pada nenek?"
"Tentu saja aku sayang sekali sama Nenek. Kalau aku tidak sayang. aku tidak akan datang ke sini, lebih baik aku pergi ke luar negeri mengurusi bisnisku.
"Bisnis kamu lebih penting dari segalanya, ya?"
"Nenek yang paling penting."
"Kamu bohong, Sayang."
__ADS_1
"Aku tidak bohong, Nek."
"Kalau kamu tidak bohong, kenapa sampai sekarang kamu tidak memberikan nenek seorang cucu?"