
Ciuman yang tidak sengaja tadi sebenarnya adalah ciuman pertama bagi Denna. Denna juga berharap itu ciuman pertama bagi Dimas.
"Nona Denna, sedang memikirkan apa?"
"Soal ciuman tadi. Ups!" Denna langsung menutup mulutnya melihat dengan rasa malu pada Dimas.
"Saya minta maaf jika ciuman tadi membuat Nona Denna merasa menyesal. Jika kekasih Nona ingin penjelasan, maka akan saya jelaskan supaya tidak salah paham."
"Aku tidak memiliki kekasih, Dimas. Memangnya kamu pernah tau aku dengan kekasihku?"
"Tidak ada. Lalu, apa yang membuat Nona memikirkan terus ciuman itu?"
"Karena itu ciuman pertamaku, Dimas, tapi malah aku berikan pada kamu, bukan pada kekasihku atau suamiku."
DEG!
"Apa Nona menyesal?"
Denna tampak bingung mau menjawab apa. Dahal, itu hanya sebuah ciuman yang tidak sengaja.
"Aku--?"
"Bagaimana kalau kita lupakan saja tentang ciuman itu," jawab Dimas cepat.
"Maksud kamu?"
"Kita anggap saja jika hal itu tidak pernah terjadi. Saya juga tidak akan mengingat kejadian itu."
Ada rasa sakit yang mengenai hati Denna saat kata-kata yang sebenarnya juga Denna pikirkan. Lupakan tentang ciuman yang baru terjadi karena memang seharusnya begitu, tapi entah kenapa saat Dimas mengatakan hal itu rasanya sangat sakit.
"Benar! Kita lupakan saja. Anggap ciuman yang terjadi di antara kita tidak ada artinya." Dimas mengangguk.
Denna mengambil buku yang tadi dia beli dan membukanya. Dia ingin mengurangi rasa sakit yang menyerang hatinya yang entah dia sendiri kenapa merasakan rasa sakit itu?
Tidak lama makanan yang mereka pesan datang. "Nona, makanannya."
"Iya, biarkan saja dulu. Aku mau menandai beberapa hal penting yang ada di dalam buku ini." Denna membaca dengan serius dan satu tangannya memegang pensil untuk menggaris bawahi tulisan yang baginya memberi informasi penting.
Denna ingin sekali lulus kuliah di bidang ilmu kedokteran. Dia tidak capek untuk belajar dari sekarang. Buku yang dia beli adalah rekomendasi dari sahabat ayahnya, yaitu Dokter Will, agar dia benar-benar bisa mencapai cita-citanya menjadi dokter dan tidak menemui kesulitan.
"Nona, makan dulu."
"Nanti Dimas," jawab Denna tanpa melihat lawan bicaranya.
Dimas mengambil piring Denna dan menyendokkan satu sendok nasi goreng dengan sedikit telur mata sapi yang sudah dia potong kecil.
__ADS_1
"Nona ini."
"Iya, Dim--." Denna terdiam melihat Dimas mencoba menyuapinya. "Aku bisa makan sendiri, Dimas" ucap Nara lirih.
"Tidak apa-apa. Nona Denna lanjutkan saja membaca bukunya dan biar saya yang menyuapi Nona. Saya tidak keberatan." Dimas tersenyum manis sekali, senyum yang tidak pernah Denna lihat sebelumnya. Apa lagi Dimas hari ini tidak memakai baju formal seperti biasanya. Jadi, Dimas hari ini sungguh berbeda.
"Makan saja, Nona."
Denna sangat senang dalam hatinya, dan entah dorongan dari mana, akhirnya dia mau menerima suapan Dimas.
"Kamu tidak makan?"
"Saya makan, gantian setelah Nona."
Denna kembali membaca bukunya dan Dimas menyuapinya dengan sangat sabar.
Beberapa orang yang ada di sana melihat mereka seolah mereka adalah sepasang kekasih yang romantis.
Tidak lama ponsel Denna berdering dan dia melihat nama mamanya di sana.
"Halo, Ma. Ada apa?"
"Sayang, kamu di mana? Bukankah kamu hari ini kamu tidak ada kegiatan sekolah?"
"Aku sedang berada di mall untuk mencari buku dengan Dimas, Ma."
"Iya, aku sedang bersama Dimas dan sebentar lagi aku akan pulang karena buku yang aku cari sudah aku dapatkan."
"Ya sudah, kalau begitu mama tunggu kamu di rumah saja."
"Memangnya ada apa, Ma? Apa ada masalah lagi dengan ayah dan Mama?"
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Ya sudah mama tunggu di rumah saja. Hati-hati di jalan."
Denna tampak terdiam sejenak. Dimas yang melihat tampak kasihan pada Nona Dennanya.
"Nona baik-baik saja?" tanya Dimas.
Denna tidak menjawab dengan kata-kata, tapi air matanya yang menetes menjadi jawaban untuk Dimas.
Dimas menghapus air mata Denna dengan sapu tangan miliknya. "Apa kita mau pulang sekarang?"
"Iya, aku mau pulang sekarang. Aku ingin tau apa yang ingin mama katakan padaku?"
Denna membereskan bukunya dan mereka segera menuju ke rumah. Dimas dapat melihat kecemasan pada diri Denna.
__ADS_1
Tidak lama mereka sudah sampai di rumah utama milik nenek. "Mobil Nenek belum ada, coba nenek di sini, pasti nenek bisa membantuku menyelesaikan masalah ini."
"Nona Denna percaya saja jika kedua orang tua Nona dapat menyelesaikan ini dengan baik."
"Aku mau berpikiran seperti itu, tapi tetap saja bayangan ketakutan akan mereka sampai berpisah selalu ada."
"Coba jangan biarkan ketakutan itu masuk. Berpikir positif saja, dan yakinlah masalah di antara ayah dan mama Nona akan segera berakhir."
"Terima kasih dukungannya. Dimas kamu boleh pulang saja."
"Baik, Nona."
Dimas pergi dari sana dengan membawa mobil yang diberikan padanya untuk dapat mengikuti ke mana Denna pergi.
Denna menarik napasnya pelan sebelum dia melangkah lebih ke dalam rumah.
Langkah kaki Denna terhenti saat mendengar suara mobil dari ayahnya.
"Hai, Sayang," sapa sang ayah.
"Halo,Yah." Denna menyapa lirih.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa ada yang mengganggu kamu? Dan kamu dari mana?"
"Aku dari toko buku dengan Dimas. Yah, sebenarnya Ayah dan mama ada masalah apa? Jujur saja aku sedih harus melihat kalian seperti ini."
Tangan Jaden mengusap lembut pucuk kepala putrinya itu. "Tidak ada apa-apa, kamu jangan khawatir tentang semua ini." Jaden melihat ke dalam rumah. "Ayah akan menemui Mama kamu dan bicara dengan mama kamu."
Jaden berjalan melangkah dengan tegap masuk ke dalam rumahnya.
Di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, dan putih menjadi warna dominan, mobil Dimas berhenti tepat di depannya.
"Motor? Apa dia sudah pulang?" Dimas keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Hai, Kak. Kamu sudah pulang? Tumben cepat sekali?"
"V Kenapa kamu berada di rumah? Bukannya kamu ada acara di sekolah kamu sampai malam?"
"Malas," jawabnya singkat sambil tangannya mengaduk masakan di atas penggorengan.
"Malas? Malas kenapa?" Dimas meletakkan goodie bag yang berisi bajunya yang kotor.
"Acaranya tidak seru, hanya berisi anak-anak orang kaya yang golongan masuk pagi lebih terlihat dominan di sana, dan mereka bukan pesta, tapi saling memamerkan kekayaan kedua orang tuanya masing-masing. Setelah ini mereka akan kuliah di luar negeri. Mereka akan diberikan mobil sport dan bla-bla banyak pembicaraan yang tidak penting."
Dimas tersenyum mendengar apa yang di jelaskan oleh seorang pemuda yang usianya sepantaran dengan Denna.
__ADS_1
"Kakak kenapa tersenyum? Aku itu kesal mendengar apa yang mereka katakan. Mereka harusnya sadar, di sekolah itu tidak hanya ada mereka anak-anak orang kaya, tapi ada juga dari golongan orang biasa."