Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Hari Pernikahan Part 1


__ADS_3

Mona dan Lisa masuk ke dalam rumah. Mona tampak bahagia melihat ada nenek Jaden yang baru saja keluar dari rumahnya.


"Yah, itu nenek Tuan Jaden? Ada apa dia ke sini? Apa dia mencari menantu untuk cucunya yang tampan itu?"


"Iya, dia sedang mencari menantu untuk cucunya yang sombong itu." Pria itu tampak menghitung uang di depannya.


Istrinya yang membawa air minum untuk nenek Miranti seketika membulat matanya melihat uang yang sangat banyak di depannya.


"Banyak sekali uangnya. Apa Nenek Miranti yang memberikannya, Yah?"


Tangan Soraya yang ingin mengambil uang itu dipukul oleh suaminya. "Jangan ikut campur dengan uang ini. Aku akan memberikan uang ini pada juragan minyak itu supaya dia tidak jadi menikahi Mona."


"Lagi pula siapa yang mau menikah dengan si tua bangka itu? Ayah juga, kenapa aku malah dibuat jaminan? Kalau aku dibuat jaminan pada pria kaya dan tampan seperti Jaden, aku akan dengan senang hati mau menerimanya." Mona mengkerutkan wajahnya.


Lisa yang masih kecil bingung dengan apa yang sedang keluarganya bicarakan. Dia hanya mendengarkan saja, tapi kadang tidak paham.


"Mona, juragan minyak itu kaya raya, kamu mau saja menikah dengan dia. Toh! Kamu juga nanti bisa jadi kaya raya. Setelah itu kalian bercerai dan kamu mendapat harta Gono gini."


"Mama enak saja kalau bicara! Aku tidak sudi menikah dengan pria jelek dan tua itu. Bagaimana kata teman-temanku? Yah, nenek Jaden tadi ada apa ke sini? Dan untuk apa memberi uang? Apa untuk agar aku mau menjadi istri Jaden?"


Pria itu menghentikan jarinya yang sedang menghitung uang. Lalu, dia melihat wajah Mona.


"Nenek Miranti mau kita semua hadir di acara pernikahan Jaden dan Nara. Apa lagi ayah harus menjadi wali untuk Nara nanti."


"Apa?" Mereka berdua kaget bersamaan.


"Nara akan menikah dengan Jaden? Ayah serius?"

__ADS_1


Mereka sudah tau jika waktu mereka bertemu di restoran itu Nara dan Jaden belum menikah karena mereka yakin bahwa Jaden tidak akan menikah dengan seorang pelayan, dan pasti Benu akan di cari untuk menjadi wali.


"Serius dan lusa kita harus datang ke sana."


"Aku tidak mau datang dan ayah juga tidak perlu datang. Biar saja pernikahannya batal dan dia tidak jadi menikah. Gadis tidak tau diri begitu bermimpi ingin menjadi seorang ratu berdampingan dengan Jaden. Dia itukan hanya pelayan dari Jaden Luther. Pasti dia sudah tidur dengan Jaden dan Jaden terpaksa mau menikahinya." Mona bersidekap.


"Kak Mona bicara apa sih?" Lisa tampak bingung dengan ucapan Mona.


"Lisa, kamu sebaiknya pergi ke kamar kamu dan kerjakan tugas sekolah kamu."


"Mama, aku mau ikut kalau kita ketemu Kak Nara."


"Iya, nanti pasti mama ajak kalau kita ke rumah Nara. Sekarang pergi ke kamar." Tangannya mengusir Lisa.


"Anak itu suka sekali membela Nara. Lama-lama aku buang saja dia ke rumah Nara. Yah, pokoknya ayah tidak boleh datang ke sana. Aku tidak mau Nara sampai menikah dengan Jaden.


"Tidak bisa Mona. Ayah harus datang ke sana dan jadi wali untuk Nara."


"Soraya, apa kamu tau? Jika aku tidak datang ke sana aku bisa mendapat masalah dengan Jaden Luther. Dia itu mempunyai kekuasaan yang besar dan kita tidak bisa melawannya."


"Menjengkelkan! Nara tidak mungkin akan menjadi seorang ratu dan aku harus tetap menjadi seperti ini." Mona membanting tasnya dan berlari masuk ke dalam kamarnya.


Benu dan Soraya saling melihat. "Kasihan kalau melihat Mona. Apa kita bisa akan menguliahkan dia sampai selesai? Kamu jangan main judi terus. Mulailah cari pekerjaan, apa kamu mau menjual satu persatu anak kamu untuk membayar semua hutang kamu."


"Aku akan meminta bantuan pada Nara agar mau membantu kita menyelesaikan masalah ekonomi kita."


"Apa kamu yakin Nara mau membantu kita? Kemarin saja kita bertemu dia seolah-olah tidak kenal."

__ADS_1


"Aku akan mencoba bicara dengan Nara, bagaimanapun Nara itu anak yang baik dan pasti Nara mau membantu kita."


"Ya kamu coba saja. Aku pokoknya tidak mau kalau sampai harus mengemis di kaki Nara." Soraya juga pergi dari sana.


***


Hari bahagia Nara, akhirnya pun tiba. Nara tampak cantik dengan balutan gaun kebaya pengantin berwarna abu-abu dan rambutnya di sanggul modern. Nara berdiri di depan cermin besar sambil tersenyum memandangi dirinya sendiri.


"Ma, Pa, aku sudah dewasa sekarang dan aku akan menikah, tidak lama lagi aku juga akan memiliki seorang bayi yang lucu, cucu mama dan papa."Nara meneteskan air matanya.


Tidak lama pintu dibuka oleh seseorang dari luar. Nara yang kaget menoleh dan ternyata itu adalah Renata yang juga diundang dalam acara pernikahan Jaden. Renata sudah tau tentang Jaden dan Nara yang belum menikah, tapi mereka akan memiliki anak.


"Nara, kamu cantik sekali. Benar-benar sangat cantik," puji Renata dan dia berjalan mendekat pada Nara. "Eh! Kamu kenapa menangis? Jangan membuat make up kamu jadi jelek karena air mata ini." Renata mengusap lembut air mata Nara.


"Aku hanya teringat dengan mama dan papaku yang sudah meninggal, Renata."


"Mereka pasti akan bahagia melihat kamu akan menikah dengan orang yang kamu cintai dan akan melindungi kamu terus." Nara mengangguk. "Kalau begitu hapus air mata kamu dan kita habis ini turun ke lantai bawah untuk menemui suami kamu."


"Iya, aku sudah penasaran ingin mendengar Tuan JL mengucapkan ijab qobul. Apa dia tidak grogi?" Nara terkekeh.


"Hem...!" Renata menghela napasnya pelan. "Pasti senang sekali bisa ada di posisi kamu, bisa menikah dan memiliki anak dari pria yang sangat kita cintai dan mencintai kita."


Tangan Nara mengusap pelan lengan tangan Renata. "Kamu juga suatu hari nanti akan menemukan pria yang kamu cintai dan mencintai kamu, Renata."


"Apa iya? Dulu aku itu cuma menyukai satu pria, yaitu Jaden Luther karena dia temanku sewaktu kita kecil, apa lagi dia itu orangnya sangat cuek, hal itu yang membuat aku takut untuk mendekatinya. Makannya, dulu saat ayahku mengajak aku pindah aku mau saja karena aku pikir percuma saja di sini Jaden juga tidak akan menyukaiku."


"Apa rasa suka kamu dulu masih ada sampai sekarang terhadap Tuan JL?" tanya Nara ingin memastikan.

__ADS_1


"Aku mau jujur sama kamu. Waktu aku digendong saat di pemakaman itu. Aku merasakan rasa tertarik dengan Jaden, tapi setelah aku tau dia mencintai kamu bahkan mau menikah dengan kamu aku sadar kalau memang Jaden bukan jodohku dan dia tetap tidak bisa mencintaiku."


"Tuan JL memang pria yang bisa membuat seorang wanita menyukainya dengan caranya yang malah cuek."


__ADS_2