
Jaden memberikan tatapan lekat pada Nara. Nara yang mendapat tatapan seperti itu jadi salah tingkah sendiri.
"Kenapa Tuan melihat aku seperti itu?" Nara akhirnya memberanikan diri mengeluarkan suaranya.
"Kamu cemburu aku dekat dengan Sandra?"
Mata Nara mendelik mendengar pertanyaan Jaden. "A-apa cemburu? Tuan jangan bicara hal yang tidak mungkin. Aku malah berdoa semoga Tuan JL dan mba Sandra bisa menjadi sepasang kekasih, bahkan menikah."
"Apa semua yang kamu katakan itu berasal dari lubuk hati kamu yang paling dalam, Nara?" Mata pria itu bertanya dengan tatapan serius.
Nara terdiam, dia melihat aneh pada pria di depannya. Sebenarnya apa yang ingin pria di depannya ini ketahui? Kenapa dia bertanya dengan pertanyaan yang menyudutkan Nara.
"Tentu saja aku serius. Kalau Tuan menikah dan memiliki seorang istri, aku tidak perlu jadi pelayan Tuan JL."
Jaden menarik pinggang Nara dengan gerakan cepat, dan tentu saja membuat Nara kaget sampai reflek kedua tangannya bertumpu pada pundak Jaden. Nara menatap Jaden dengan pupil membesar.
"Aku tidak akan menikah dengan siapapun karena bagiku pernikahan adalah hal yang rumit, dan kamu yang akan melayaniku sampai aku tidak membutuhkan kamu, Nara," Jaden mengucapkan kalimat itu satu persatu dan ditekankan.
"Tapi ... apa selama aku ikut Tuan JL aku tidak boleh berkomunikasi dengan orang lain? Mas Roy kan bisa jadi temanku di sini. Itu saja, dan aku tidak akan mengatakan hal apapun padanya."
"Huft!" Jaden menundukkan kepalanya, seolah dia lelah harus bicara tentang hal ini terus pada Nara. "Di sini ada Sandra, Nara, apalagi kalian sama-sama wanita. Pasti akan lebih menyambung."
Memang Nara dan Mba Sandra sama-sama wanita, tapi setiap mba Sandra bicarakan selalu tentang Jaden, dan entah kenapa hal itu membuat Nara kesal hatinya?
"Memangnya kenapa sih, Tuan, aku tidak boleh bicara dengan seorang pria? Waktu itu sama Mas Leo, sekarang Mas Roy, terus Paijo juga? Sikap Tuan JL aneh."
"Jangan menyebutku aneh, Nara. Aku tidak suka."
"Memang Tuan aneh. seolah aku kekasih atau istri Tuan JL saja? Berbicara dengan laki-laki tidak boleh, padahal kita hanya bicara biasa saja."
"Aku tidak suka, aku tidak suka kamu dekat dengan seorang pria dan merayunya sampai akhirnya dia akan kamu pengaruhi untuk membawa kamu pergi dari sini."
__ADS_1
"Kasihan sekali nasibku. Sudah dijual, menjadi pelayan dan tidak punya kebebasan sama sekali, bahkan berteman pun tidak bisa."
Jaden menyunggingkan senyumannya. "Kamu terima saja nasib kamu, Nara. Sudah baik kamu dijual padaku."
"Baik apanya? Dijual pada orang aneh seperti Tuan, sama saja hidupku menyakitkan."
"Aku sudah peringatkan jangan mengataiku Tuan aneh, Nara," ucap Jaden kesal.
Nara melirik pada Jaden yang mendengus kesal. Nara bukannya takut malah bagi Nara wajah Jaden tampak lucu. Apa karena Nara sudah keseringan melihat wajah Jaden yang biasa marah dan kesal?
"Tuan memang aneh karena takut menikah, bahkan hidup ditempat terpencil dan sendiri seperti ini. Apa sebutannya kalau tidak aneh?"
Jaden menunjukkan seringainya. Seketika wajah Nara yang tadinya hanya ingin bermain-main dengan Jaden berubah cemas. Nara ini sukanya gangguin jaguar yang sedang tidur.
"Kamu benar-benar sudah menguji kesabaranku, Nara." Seketika tangan Jaden menarik tubuh Nara dengan keras dan cepat sampai tubuh gadis itu menabrak tubuh Jaden yang duduk di atas tempat tidur.
Jaden melingkarkan tangannya pada pinggang Nara dan menarik gadis itu di atas tempat tidur. Nara berbaring di samping Jaden, dan tubuh pria itu seketika agak menindihnya dari samping.
"Mau memberi hukuman pada pelayan yang suka mencari masalah dengan majikannya."
"Aku tadi hanya bercanda, Tuan, jangan dibuat serius. Aku minta maaf," ucap Nara memohon.
Jaden sekali lagi memberikan seringainya pada Nara. "Sayangnya, aku adalah orang yang susah memaafkan kesalahan orang yang berbuat salah denganku."
"Tapi memaafkan itu dapat membuat hati kita--."
Belum selesai Nara memberi kata mutiara bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Jaden.
Jaden mengecupi bibir Nara dengan lembut dan menikmatinya. Nara terdiam melihat lekat wajah pria yang sedang mengecup bibirnya itu.
Nara tidak tau perasaan apa ini sebenarnya? Dia menyukai dan bahkan merindukan kecupan pria di atasnya ini, tapi kenapa? Pria ini bukan kekasihnya ataupun memiliki hubungan khusus dengannya.
__ADS_1
Jaden melepaskan ciumannya karena dia merasa jika lawannya ini tidak merespon ciumannya seperti biasanya. Jaden memandang Nara dari atas. Nara masih tetap terdiam dan hanya memberikan tatapan datar pada Jaden.
"Kamu kenapa? Biasanya kamu marah aku cium, kalau tidak kamu malah membalas ciumanku seperti waktu itu."
"Sebenarnya kamu ini menganggap aku apa, Tuan JL?"
"Apa maksud kamu?"
"Selama ini kamu mengatakan jika aku adalah pelayanmu, tapi kamu sering sekali memperlakukanku bukan seperti pelayan. Kamu menyuruhku menemani kamu tidur walaupun kita tidak melakukan apa-apa. Kamu juga kadang sangat baik padaku, dan yang sering sekali kamu lakukan adalah menciumku, tapi kamu mengklaim itu sebagai hukuman, tapi aku merasakan ciuman kamu bukan hukuman."
"Apa yang kamu rasakan tentang ciuman yang aku berikan?"
"Ciuman itu--."
"Ciuman yang didasari oleh cinta? Ck! Jangan berkhayal sejauh itu, Nara. Aku sama sekali tidak akan memiliki perasaan seperti itu dengan seseorang. Aku hanya mencari kesenangan saja denganmu. Hanya itu," Jaden menekankan ucapannya pada kalimat terakhir.
Makjleb ...
Hati Nara rasanya tersayat pisau yang tajam, bahkan tidak hanya tersayat, tapi disobek begitu lebar. Sakit, tapi tidak terlihat lukanya.
Nara tersenyum seolah merutuki kebodohannya. "Terima kasih, ternyata Tuan sudah memberitahu aku akan satu hal. Aku tidak hanya jadi pelayan, tapi juga mainan yang bisa seenaknya dipermainkan. Begitu amat sangat rendah kalau begitu Tuan memandangku. Aku kira dibalik sikap dan wajah seram Tuan Jaden masih ada sisi baik yang Tuan pikirkan tentang diriku, tapi nyatanya tidak." Nara menghapus air matanya yang tanpa disuruh keluar dengan sendirinya dari kelopak mata cantiknya.
Jaden yang melihat hal itu menarik tubuhnya dan membiarkan Nara lepas dari kungkungannya. Nara berdiri dan merapikan dirinya.
"Nara--."
"Kalau tau begini, lebih baik aku dijual saja pada seorang mucikari karena sama saja, aku di sini juga Tuan anggap sebagai pemuas, Tuan Jaden. Lebih baik menjadi wanita penghibur sekalian saja. Setidaknya aku masih bisa memiliki kebebasan berkenalan dengan orang lain."
Nara merasa bahwa Jaden menganggapnya seperti budak pemuas nafsunya walaupun bukan hubungan intim. Nara benar-benar terluka kali ini dan ini sangat amat menyakitkan.
Jaden mengepalkan erat genggamannya. Dia ingin sekali menampar mulut Nara yang bicara sembarangan seperti itu.
__ADS_1