
Nara kembali tertidur di pelukan Jaden setelah tadi menangis. Di wajahnya masih tampak kesedihan yang teramat dalam.
Jaden beranjak dari tempat tidur Nara secara perlahan agar Nara tidak terbangun.
Jaden mengecup lembut dahi Nara dan kembali duduk di sofa panjang yang ada di sana.
"Leo."
"Iya, Tuan JL, ada apa Tuan menghubungi saya tengah malam begini? Apa ada masalah dengan Nara?"
"Tidak ada, dia tadi terbangun sebentar dan menangis karena teringat bayinya, tapi sekarang dia tertidur lagi."
"Nara pasti sangat bersedih karena aku lihat dia sangat menyayangi bayi kalian."
"Tidak hanya Nara, bahkan rasanya sebagian dari diriku melayang entah ke mana? Hal ini sangat menyakitkan sekali, Leo."
"Saya juga sangat bersedih. Padahal saya sudah bermimpi akan memanggil saya dengan sebutan paman Leo jika nanti bayi Tuan dan Nara lahir."
Jaden tampak terdiam di tempatnya. Dia sendiri bingung dengan semua yang terjadi saat ini. Semua begitu cepat.
"Leo, aku ingin tau apa yang terjadi sampai Nara mengalami kejadian seperti ini. Cari siapa yang menghina Nara dan membuat Renata marah. Dia yang membuat Nara kehilangan bayinya." Jaden tampak marah.
"Baik, Tuan, saya akan segera mencari tau apa yang Anda inginkan."
Mereka mengakhiri panggilan dan Jaden kembali terdiam memikirkan apa yang akan dia lakukan pada orang yang sudah membuat kekacauan acara pernikahannya sampai seperti ini?
***
Pagi itu Jaden melihat Nara yang sudah bangun tampak mukanya yang sembab menatap Jaden yang penampilannya berantakan duduk di sofa panjang.
"Tuan JL, kamu semalaman tidak tidur?"
"Aku terjaga menjaga kamu yang semalaman kadang menangis dalam tidurmu dan berteriak memanggil mama kamu."
__ADS_1
"Aku bermimpi bertemu mamaku dan menceritakan semua yang aku alami." Nara berkata dengan terbata.
Jaden berjalan mendekat pada Nara. Dia menarik dagu Nara kemudian mengecup lembut bibir Nara. Nara tampak mengusap air matanya yang menetes perlahan.
"Kamu jangan bersedih lagi. Aku akan memberi pelajaran orang yang sudah menyebabkan bayiku sampai tidak bisa dilahirkan." Tangan Jaden mengusap perlahan mata Nara.
"Apa maksud kamu, Tuan JL?"
"Mona akan segera mendapat hukuman karena sudah berani menyebabkan semua ini. Aku tidak akan melepaskannya."
Nara benar-benar terkejut. Nara tau jika memang Mona yang sudah membuat kejadian semua ini terjadi, tapi dia tidak mau jika Jaden sampai melukai Mona bahkan membunuhnya.
"Tuan JL." Nara memegang tangan Jaden. "Jangan melukai siapapun. Semua ini sudah takdir yang memang harus aku alami. Aku mohon jangan melukai seseorang."
"Apa maksud kamu? Gadis tidak tau diri itu sudah berani menghina kamu bahkan sampai membuat calon bayiku harus pergi. Aku tidak akan memaafkannya." Tatap Jaden dengan tajam.
"Tuan JL, apa dengan melukai bahkan membunuh Mona, bayiku akan kembali lagi ke dalam perutku. Aku sudah kehilangan bayi kita, aku tidak mau kamu kenapa-napa."
Tangan Jaden mengusap wajah Nara perlahan. "Aku tidak akan kenapa-napa, kamu jangan khawatir."
Jaden menarik tangannya dari pipi Nara yang dari tadi dia usap dengan lembut. "Kamu ini kenapa? Aku ingin memberi pelajaran dengan gadis tidak tau diri dan jahat itu!"
"Semua yang terjadi denganku dan bayiku bisa saja karena semua yang sudah kamu lakukan selama ini. Suka menyakiti seseorang dengan kejam," Nara mengatakan dengan mata berkaca-kaca.
"Aku melakukan hal itu karena mereka yang mencari masalah dulu denganku, Nara!" Jaden sekarang tampak emosi dengan Nara.
"Aku tau, tapi untuk apa yang terjadi pada bayi kita kamu tidak perlu menyakiti Mona."
"Dia sudah kejam dan jahat dengan kamu sejak kamu kecil tinggal dengan mereka, dan sekarang dia ingin menyakiti kamu karena dia iri dengan apa yang kamu miliki sekarang. Dia menghina kamu di hari pernikahan kita sampai Renata yang tidak terima bertengkar dengannya dan terjadi hal ini. Dia sengaja, Nara!"
"Kalau kamu memang mencintaiku. Aku mohon jangan berbuat apa-apa padanya."
"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu, Nara."
__ADS_1
"Apa kamu menyesal sekarang karena mencintaiku?"
"Iya! Kenapa kamu begitu menjengkelkan. Aku ingin membalas orang yang sudah menyakiti kamu dan bayi kita, tapi kamu--." Jaden yang kesal dengan Nara berjalan pergi dari sana.
Saat Jaden membuka pintu dia agak terkejut melihat ada Renata berdiri di sana.
"Jaden, aku mau minta maaf," ucap Renata lirih.
"Bukan kamu yang salah dalam hal ini. Bagi Nara semua ini kesalahanku karena semua kejahatan yang aku lakukan pada musuhku." Jaden melangkah pergi dari sana.
Renata tampak sedih melihat pertengkaran Nara dan Jaden barusan.
Renata mengetuk pintu dan masuk perlahan ke dalam. Dia melihat Nara duduk bersandar memandang suasana di luar jendela kamarnya.
"Renata."
"Nara." Renata langsung memeluk Nara dengan sangat erat dan air matanya mengalir. "Seharusnya aku tidak perlu menanggapi ucapan gadis itu, dan aku baru tau jika dia ternyata adalah saudara sepupu kamu yang kejam."
"Semua sudah terjadi dan tidak akan bisa mengembalikan bayiku walaupun aku membunuh orang yang sudah menyakiti bayiku."
"Kamu harus semangat dan jangan bersedih terus. Nanti kamu dan Jaden akan bisa memiliki bayi kecil lagi yang lucu setelah kalian menikah." Renata seolah memberi semangat pada Nara dengan tangan mengepal ke atas.
Nara hanya melihatnya datar. "Aku tidak tau apa Tuan JL akan mau menikah denganku setelah tidak ada alasan yang kuat kenapa kita harus menikah?"
"Jangan bicara seperti itu, Nara. Jaden sangat mencintai kamu dan ini adalah ujian kecil untuk cinta kalian. Aku akan bicara dengan Jaden agar tetap melangsungkan pernikahan kalian. Nenek juga pasti akan mendukungnya."
Nara menggeleng. "Tidak perlu Renata. Aku tidak mau memaksa apa-apa lagi pada Tuan JL. Dia sudah tidak melukai Mona saja aku sudah sangat berterima kasih."
Nara kembali melihat ke arah luar jendela kamarnya dengan banyak sekali sesuatu hal yang berkecimpung di dalam kepalanya. Renata yang mendengar ucapan Nara tampak terdiam. Dia juga bingung apa yang harus dia katakan lagi pada Nara, jika Nara memang sudah mengambil keputusan untuk hidupnya.
Hari ini Jaden tidak menjaga Nara di rumah sakit, entah ke mana dia? Nara ditemani nenek di rumah sakit.
"Nara, kamu makan dulu, jangan menyiksa diri kamu seperti ini. Nenek bisa sedih jika kamu sampai sakit. Nenek mohon kamu makanlah sedikit, Nara.
__ADS_1
"Nanti saja, Nek, aku hanya ingin beristirahat saja. Nenek pulanglah, aku tidak apa-apa sendirian di sini."