
Leo masih memperhatikan Nara yang malah bersikap aneh. "Mas Leo, aku tadi tidak sengaja mendengar apa yang Mas Leo dan Tuan JL bicarakan. Apa benar tuan JL akan menjualku ke luar negeri suatu saat nanti? Aku tidak mau Mas Leo, aku akan menurut menjadi pelayannya saja, aku tidak mau menjadi gadis penghibur." Nara tiba-tiba memegang tangan Leo.
Pria charming ini memperhatikan tangannya yang di pegang oleh Nara. Leo dapat merasakan ketakutan dari gadis di depannya yang seolah meminta tolong padanya.
"Apa yang kamu dengar dan kamu pikirkan belum tentu dua hal yang sama. Kamu tenang saja." Leo menepuk lengan tangan Nara dengan lembut dan tidak lupa Leo juga memberikan senyum manisnya.
"Maksud Mas Leo apa? Aku minta tolong pada Mas Leo agar mengatakan pada Tuan JL untuk tidak menjualku ke luar negeri."
Leo tidak menjawab, dia malah berjalan pergi dari sana. Nara yang berdiri di tempatnya merasa bingung. Leo ini kenapa malah sikapnya lebih parah cueknya daripada Jaden.
"Apa aku bertanya pada JL langsung saja? Kalau perlu aku akan memohon padanya agar tidak menjualku."
Nara masuk ke dalam kamar setelah mengetuk pintu dan mendapat izin dari pemiliknya.
Jaden terpaku melihat Nara dengan baju yang sudah dibelikannya. "Apa baju itu sesuai sama selera kamu?" tanya Jaden melihat pada Nara.
"Aku suka bajunya, terima kasih Tuan JL," jawab Nara lirih.
"Bagus kalau begitu. Mulai sekarang kamu harus bisa berpenampilan lebih baik karena aku malas jika diurus oleh seseorang dengan penampilan yang sama sekali membuat mata sakit."
"Bilang saja kalau aku harus bisa tampil cantik dan menarik agar dapat menarik para pria hidung belang kelak saat akan di jual," geritu Nara dengan wajah kesalnya.
Jaden bingung melihat mulut Nara yang komat-kamit sendiri. Dia tau jika Nara lagi-lagi menggerutu akan suatu hal. "Kalau mau bicara kamu bicara saja, aku sudah katakan tidak suka mendengar kamu menggerutu seperti itu, Nara," ucap Jaden tegas.
"A-aku tidak ingin bicara apa-apa. Aku tadi hanya menghapal sebuah resep masakan yang aku lihat di televisi." Nara berbohong.
"Ya sudah, sekarang bantu aku untuk membersihkan tubuhku dengan air hangat dan waslap. Aku merasa tidak nyaman belum mandi dari tadi."
Nara mengangguk dan dia berjalan keluar mencari tempat air untuk menyeka tubuh Jaden. Beberapa menit kemudian Nara sudah siap dengan alat-alatnya. Dia membuka baju Jaden perlahan, dan tampak pria itu meringis seperti menahan sakit.
"Apa masih sakit sekali?" tanya Nara yang sebenarnya tidak tega melihat wajah Jaden. Bagaimanapun juga Nara ini tidak tegaan, apalagi Jaden seperti itu karena sudah menolongnya.
__ADS_1
"Menurutmu?"
Nara mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban pria yang bagi Nara dingin seperti es itu. Nara mulai mengelap perlahan-lahan punggung Jaden yang terlihat otot-ototnya yang terbentuk dan tertata sempurna.
"Ini bekas apa?" Nara melihat pada lengan tangan Jaden yang ada sebuah bekas luka.
"Luka bakar."
"Luka bakar? Kenapa sampai bisa terjadi luka bakar ini?" Nara menyentuh perlahan luka itu.
"Aku tidak perlu menceritakan semua sama kamu. Cepat! Selesaikan pekerjaan kamu dan siapkan aku makan malam. Aku sudah lapar."
"Hm! Bertanya saja tidak boleh. Makannya jangan suka bermain api karena api itu berbahaya."
"Hidupku selalu dipenuhi oleh bahaya, Gadis Bodoh! Dan luka itu tidak seberapa bagiku."
Nara tidak mau melanjutkan pembicaraan mereka karena pasti yang ada di tetap kalah dengan pria dingin bernama Jaden itu.
Setelah selesai, Nara memakaikan kemeja berwarna putih. Nara sengaja memberi Jaden kemeja agar Jaden tidak perlu mengangkat tangannya ke atas saat melepaskan bajunya.
"Sudah selesai."
"Cium aku, Nara," titah Jaden.
"Hah?" Nara tampak kaget mendengar tiga kata yang baru keluar dari mulut Jaden.
"Apa kamu tuli?"
"Aku tidak tuli, hanya saja aku mungkin salah pendengaran. Apa kamu baru saja mengatakan untuk mencium kamu?"
"Bagus, itu berarti kamu tidak tuli."
__ADS_1
Nara seketika memundurkan tubuhnya satu geseran ke belakang. "Aku tidak mau, untuk apa aku mencium kamu? Kita bukan sepasang kekasih."
"Mau membantah?" Jaden terdengar serius dengan ucapannya.
Nara agak takut jika Jaden sudah mode seperti itu, apalagi dia ingat pembicaraan Jaden dengan Leo. Apa karena Nara sering membantah dan tidak bisa jadi pelayan yang baik, makannya Jaden mau menjualnya saja.
"Tapi untuk apa aku mencium kamu, Tuan JL?" tanya Nara takut.
"Kenapa kamu banyak tanya? Lakukan saja apa yang aku perintahkan. Aku, kan, tidak menyuruh kamu membuka baju, apa masih tidak mau kalau hanya menciumku?"
Nara benar-benar dibuat kesal dengan Jaden. Nara berpikir dia akan menuruti saja daripada nanti Jaden menjualnya atau menyiksanya. Lagipula ini bukan pertama kali dia berciuman dengan Jaden.
Nara mendekat perlahan ke arah Jaden dengan jantung yang berdetak sangat keras. Pria di depannya ini sebenarnya sangat mempesona bagi Nara, tapi tidak sikapnya.Nara seolah berubah bukan Nara yang biasanya dia seolah kehilangan jati dirinya di hadapan Jaden.
Nara mendekatkan kedua tangannya pada kedua pipi Jaden untuk menarik wajah pria itu agar menunduk lebih dekat padanya. Gerakan Nara benar-benar sangat kaku.
"Sakit, Nara," ucap Jaden lirih. Sedetik kemudian tangan Jaden dengan cepat menarik pinggang Nara dan ciuman yang memang diharapkan oleh Jaden, tapi tidak diharapkan oleh Nara itu terjadi.
Jaden menikmati peraduan bibirnya dengan Nara, dan kenapa juga Nara sekarang malah menikmati hal itu. Tangannya malah mencengkeram kasar rambut Jaden.
Ciuman itu terjadi beberapa menit sampai Jaden akhirnya melepaskannya karena dia merasakan rasa sakit pada punggungnya.
Nara mengedipkan kedua matanya beberapa kali, dia juga baru sadar jika dia menikmati ciuman itu.
"Aku akan mengambilkan makan malam untuk Tuan." Nara segera beranjak pergi dari sana. Dia ingin secepatnya menjauh dari Jaden daripada pria itu sadar jika Nara juga menikmati ciuman mereka.
Jaden hanya duduk terdiam melihat punggung gadis yang baru saja berciuman dengannya menghilang dari pandangannya.
"Nara bodoh! Nara bodoh! Kenapa malah keenakan seperti itu? Dia itu bukan siapa-siapa kamu. Dia pria yang menyebalkan, dan kenapa juga tadi malah berciuman sangat lama," omel Nara sendiri.
"Nara, kamu kenapa?" Tiba-tiba Nara mendengar suara seseorang yang dia kenali. Nara langsung menoleh ke arah belakangnya dan dia amat sangat terkejut.
__ADS_1
Ternyata di meja makan dekat pantry dapur sudah duduk Leo dan para pengawal baru Jaden
"Mas Leo, dan kalian sejak kapan berada di sini?" tanya Nara kebingungan.