
Denna berada di kamarnya, dan dia dari tadi tidak dapat tidur karena hatinya sedang bahagia mengetahui jika pria yang sangat dia cintai ternyata juga mencintainya.
"Dimas pasti sudah tidur. Bodohnya aku ini! Kenapa mengharapkan bakal di telepon oleh Dimas dan kita bicara mesra seperti layaknya orang berpacaran. Kita saja belum ada kata jadian." Denna menutup kepalanya dengan bantal.
Tidak lama ponsel Denna berbunyi. Denna langsung menyingkirkan bantalnya dan mencari di mana ponselnya berada.
"Dimas? Dia menghubungiku?" Denna tampak kaget dan bingung sekarang.
"Halo, Nona Denna."
"Halo, Dimas. Ada apa kamu menghubungiku malam-malam begini?"
"Maaf, apa saya mengganggu tidur Nona?"
"Iya, tadi aku sudah tidur dan aku terkejut mendengar suara ponselku." Denna berbohong, dia bersikap seolah-olah dia biasa saya dengan kejadian tadi siang. Padahal hatinya sangat senang sampai tidak bisa tidur.
"Kalau begitu saya minta maaf, dan besok saja saya berbicara dengan Nona Denna."
"Dimas, tunggu! Kamu mau bicara apa? Aku sudah terbangun dan tidak mungkin bisa tidur lagi. Kamu jangan main tinggal begitu saja."
"Saya tidak akan meninggalkan Nona Denna. Kalau perlu malam ini saya akan menemani Nona Denna sampai Nona tertidur lagi."
"Kamu serius?"
"Sangat serius."
"Ya sudah, sekarang kamu katakan apa yang tadi ingin kamu bicarakan sama aku?"
"Saya ingin mengajak Nona Denna besok jalan-jalan."
"Serius?" suara Denna terdengar senang. Denna yang sadar dia terlalu berlebihan segera meralatnya. Dia tidak mau Dimas mengetahui jika dirinya sangat mengharapkan hal itu. "Maksudku, kamu memangnya tidak ada acara besok? Bukannya besok hari libur untuk kamu? Siapa tau kamu ada acara dengan keluarga kamu."
"Adik saya besok ada urusan sendiri dan saya tidak ada kepentingan apapun, atau Nona Denna besok yang ada keperluan?"
"Aku tidak pernah keluar jika tidak dengan keluargaku atau Diaz, tapi sekarang Diaz sudah memiliki calon suami, jadi dia lebih sering menghabiskan waktu dengan calon suaminya," terang Denna sedih.
"Suatu hari nanti, jika Nona Denna menikah, juga tidak akan ada waktu dengan sahabat atau bahkan juga keluarga Nona sendiri, Nona akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan suami Nona. Saya pun akan melakukan hal yang sama. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan istri saya."
__ADS_1
"Memangnya siapa yang akan menjadi istrimu kelak?" celetuk Denna.
"Saya tidak tau. Bisa saja orang yang pertama kali saya cium."
"Mitha," jawab Denna lirih.
"Nona Denna."
"Apa?" Denna agak kaget. Apa yang di maksud Dimas adalah dirinya atau bukan?"
"Besok saya ke rumah pukul sepuluh pagi, dan sebaiknya sekarang Nona Denna tidur karena hari sudah sangat larut. Tidak sopan juga berbicara dengan seorang gadis di telepon sampai larut malam."
"Ya sudah, besok aku akan menunggu kamu di rumah. Selamat malam Dimas."
"Selamat malam, Nona Denna."
Denna langsung berjingkrak senang setelah menutup panggilannya. "Aku dan Dimas akan berkencan besok." Denna sekali lagi tersenyum bahagia sendiri. "Eh, tunggu! Memangnya apa saja yang dilakukan dua orang yang berkencan? Pasti beda dengan saat aku jalan seperti biasanya dengan Dimas." Denna sekarang tampak bingung.
"Kenapa sih aku ini? Anggap saja aku jalan seperti biasanya dengan Dimas." Denna menutup kepalanya dengan bantal.
"Kamu kenapa hari ini kelihatan bahagia sekali, Sayang?"
"Nenek, aku tiap hari, kan, selalu kelihatan bahagia?" Denna tersenyum dan menghabiskan makanannya dengan lahap.
"Denna, Sayang, kamu hari ini libur kuliah, Kan?" Denna mengangguk cepat. "Bagaimana kalau nanti ikut nenek berbelanja tanaman? Tanaman di taman belakang mau nenek tambah lagi dengan bunga mawar merah supaya lebih cantik."
Denna seketika menghentikan acara menyendokkan makannya. "Bukannya kamu tiap liburan sekolah atau kuliah tidak pernah ada acara? Makannya nenek mau mengajak kamu berkebun di rumah."
"Nek, Denna minta maaf, Nanti Denna mau minta antar Dimas untuk pergi ke toko buku. Denna mau membeli buku." Denna terpaksa berbohong, tidak mungkin juga Denna mau mengatakan mau kencan sama Dimas.
"Kalau begitu nanti nenek temani juga beli buku. Setelah kamu membeli buku, kita bisa pergi ke toko yang menjual berbagai macam tanaman."
Denna semakin bingung sekarang. Masa kencan sama Nenek? Denna memutar otak mencari alasan agar dia hari ini bisa jalan berdua dengan Dimas.
"Nek, sebenarnya--." Denna tampak bingung mau bicara apa ini?
"Ada apa sih, Sayang? Kamu mau keluar mencari buku dengan teman dessert kamu itu?"
__ADS_1
Denna seketika mendelikkan kedua matanya. "I-iya, sebenarnya aku mau mencari buku dengan temanku." Denna merasa bersalah sebenarnya harus berbohong seperti ini.
Wanita yang sangat menyayangi Denna itu pun tersenyum manis. "Kenapa tidak bilang sama Nenek? Nenek tidak akan melarang kamu, tapi Dimas harus ikut dengan kamu."
"Apa benar Nenek mengizinkan aku pergi hari ini?" Mata Denna tampak berbinar.
"Tentu saja, Sayang, kamu itu sudah dewasa dan kamu boleh pergi dengan teman spesial kamu itu, atau kalau perlu nanti ajak dia makan malam di rumah, biar nenek bisa berkenalan dengan dia."
"Kalau soal itu nanti dulu ya, Nek. Dia pasti masih malu."
"Ya sudah tidak apa-apa, tapi kamu tetap harus mengajak Dimas ikut bersama kamu."
"Iya, Nek, Dimas memang harus ikut." Denna, kan, memang kencannya sama Dimas.
"Ya sudah, setelah makan kamu bersiap-siap saja."
"Aku masih nanti jam sepuluh perginya, Nek."
"Kalau begitu, mau tidak membantu Nenek berkebun sampai nanti kamu bertemu dengan teman dessert kamu."
"Nenek, namanya V, bukan teman Dessert. Kalau nanti dia memberikan aku omelette, Nenek bisa menyebutnya teman omelette." Denna menghela napasnya pelan.
"Oh ... jadi dia juga pernah memberikan kamu omelette?" Denna langsung mukanya aneh.
Kedua wanita beda usia itu sedang berada di taman sedang berkebun. Denna sangat senang membantu nenek buyutnya. Neneknya menceritakan tentang masa lalunya dengan mendiang suaminya, dan Denna sangat antusias mendengarkan.
Denna melihat jarum jam dan sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. "Nek, aku mau bersiap-siap dulu ya?" Nenek mengangguk dan gadis itu dengan senangnya berlari ke lantai atas kamarnya.
"Jangan berlarian, Denna, nanti kamu jatuh," teriak nenek. "Dia senang sekali, baru kali ini melihat cucuku sangat bahagia seperti itu. Semoga pria itu tidak akan menyakiti Denna," Nenek berdialog sendiri.
Denna bingung memilih baju yang akan dia gunakan untuk pergi bersama dengan Dimas. "Apa aku pakai baju hitam ini saja? Dimas itukan suka warna hitam?" Denna tampak berpikir.
"Tapi kita ini mau berkencan, masak pakai hitam?" Denna mencoba mencari baju lagi sampai akhirnya dia melihat ke arah jarum jam yang sekarang menunjukkan pukul sepuluh.
"Denna! Kenapa malah belum apa-apa?" Gadis itu kesal pada dirinya sendiri.
Denna akhirnya mengambil baju berwarna putih. Dress selututnya dan menguncir rambutnya sembarangan. Denna mengoleskan sedikit lipstik di bibirnya dan memakai bedak sedikit karena wajahnya yang sudah putih jadi dia sudah tampak glowing. Wajah Denna membawa dari Jaden yang tampan.
__ADS_1