
Jacob tengah menunggu kakaknya yang masih belum tersadar. Leo sedang mencoba menghubungi beberapa anak buahnya untuk mencari di mana keberadaan Nara.
"Nara!"
Jaden terbangun dengan berteriak dengan keras memanggil Nara. "Kak, tenangkan dirimu."Jacob memegang tangan kakaknya.
"Aku di mana, Jacob?"
"Kamu mengalami kecelakaan, tapi kamu harus bersyukur karena tidak ada cedera parah yang kamu alami. Kak, tenangkan dulu diri kamu dan baru kamu bisa berpikir untuk mengambil langkah selanjutnya.
"Aku harus mencari Nara, dia pasti belum jauh, atau dia berada di rumahku yang dulu." Jaden menarik jarum infus yang ada di tangannya membuat darah segar keluar, tapi Jaden tidak merasakan apapun.
"Kak, kamu mau ke mana?" Jacob yang mau menahan kakaknya, tapi keterbatasannya malah membuat dia jatuh ke lantai.
Jaden berhenti dan kembali membantu Jacob. "Aku mau mencari di mana istriku, Jacob. Kamu duduk tenang saja di sini."
"Kak, kalau kamu mau mencari di mana Nara jangan seperti ini. Nanti yang ada malah mencelakai dirimu sendiri, lihat saja yang sudah terjadi pada kamu sekarang."
"Aku baik-baik saja, Jacob. Kecelakaan ini tidak dapat melukaiku atau menghentikan aku untuk terus mencari Nara."
Setelah mengatakan hal itu dia kembali menuju pintu keluar, tapi langkahnya terhenti saat melihat Leo di depan pintu.
"Tuan Jaden, Tuan mau ke mana?"
"Leo, bagaimana? Apa kamu sudah menemukan Nara?"
"Maaf, Tuan, saya belum memiliki informasi tentang Nara."
"Kenapa kamu lelet sekali, Leo? Cepat temukan Nara! Kerahkan semua orang-orangmu untuk mencari di mana Nara berada. Aku mau istriku ditemukan, Leo." Jaden yang keadaannya memang belum pulih sampai duduk bersimpuh di kaki Leo. Jaden benar-benar terpukul dengan perginya Nara, dan entah kenapa dia kali ini merasa lemah. Masalah bertubi menyerangnya, dan bagaimanapun Jaden hanya manusia biasa.
Jaden kembali terbaring di rumah sakit untuk pemulihannya. Dia dipindahkan ke rumah sakit di mana neneknya berada.
"Jacob, apa kamu masih ingin di sini? Atau kamu ikut pulang dengan kami?" tanya kedua orang tua Jacob.
"Biarkan aku di sini saja sampai nanti kak Jaden kembali pulih. Nenek juga tidak ada yang menjaga."
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Ayah hanya tidak setuju sebenarnya dengan sikap kamu. Kamu jangan terlalu baik dengan Jaden yang sudah mengambil kebahagiaan kamu."
__ADS_1
"Ayah jangan bicara seperti itu. Aku sudah melupakan tentan hal itu. Sekarang Jaden dan Nenek sedang keadaannya tidak baik."
"Biarkan saja dia di sini. Sebaiknya kita kembali saja karena aku lusa harus ada pertemuan lagi, Carlos." Tangan wanita cantik itu memegang tangan suaminya.
"Iya, kalian berdua sebaiknya kembali saja ke Kanada dan biar di sini aku yang mengurusnya. Kalian sudah beberapa hari juga meninggalkan urusan bisnis di sana dan hal itu nanti bisa berpengaruh buruk pada perusahaan."
"Iya, kamu benar, Jacob. Kalau begitu kamu akan kembali nanti malam dan kamu baik-baik jaga diri kamu di sini."
Malam itu Jacob tidur di rumah sakit menemani Jaden. Jaden tampak terdiam di atas tempat tidurnya. Dia berjanji setelah pulih, dia akan menemukan di manapun Nara berada, dan kalau perlu Jaden akan kelilingi dunia ini untuk mencari Nara.
***
Pagi itu. Di tempatnya, Nara yang tinggal di sebuah rumah kecil yang dia kontrak untuk dirinya sendiri tampak duduk termenung sambil memegang gelas yang berisi susu coklat kesukaannya.
"Aku merindukan dia, dia pasti sudah berada bersama nenek, tapi aku tidak bisa mendekatinya lagi." Nara menghapus air matanya.
Dia keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Nara tidak mungkin hidup hanya dengan bermodal uang tabungannya. Jika tidak dia putar maka pasti akan habis uangnya.
Nara berjalan menyusuri jalanan yang agak sepi karena kota yang di tinggali Nara adalah kota yang tidak terlalu padat penduduknya. Nara sengaja bersembunyi di sana agar tidak ditemukan oleh Jaden.
Cit!
Seseorang keluar dari dalam mobil, dan dia melepaskan kacamata hitamnya untuk melihat Nara.
"Hai, Ratu Cerewet. Apa kabar?" ucapnya tegas sambil tersungging senyum pada sudut bibirnya.
Nara yang heran berjalan mendekati pria itu. "Kamu siapa?" tanya Nara heran.
"Apa aku sekarang berubah menjadi semakin tampan sampai kamu tidak mengenali wajahku?"
Nara masih mengamati pria dengan rambut cepak dan kulit putih bersihnya yang berdiri tepat di depannya.
"Aku Paijo, Nara," ucapnya pelan.
"Apa? Paijo? Si Joy itu?" tanya Nara meyakinkan.
"Apa kamu tidak merindukan aku?" Tangan pria yang mengaku dirinya bernama Paijo membuka lebar.
__ADS_1
Nara menutup mulutnya saat melihat ada tanda lahir pada pipi sebelah kirinya tepat di rahang tegas yang dimiliki pria itu.
"Paijo!" Nara memeluk erat dan menangis dengan bahagia. "Kenapa kamu bisa berubah setampan ini?" ucapnya disela tangisnya.
"Kamu juga kenapa bisa berubah jadi semanis ini? Ke mana saja kamu, Ratu Cerewet?"
Nara menarik dirinya dan sekali lagi melihat pada sahabatnya. "Kamu benar-benar berubah, Jo. Kenapa kamu sampai bisa di sini?"
"Lucu. Aku itu yang harusnya bertanya sama kamu, Nara. Kenapa kamu sampai bisa nyasar di sini?"
"A-ku--." Nara terdiam dan menunduk.
Paijo tau jika seperti itu berarti sahabatnya ini sedang ada masalah. Kebiasaan Nara masih sama seperti dulu. "Ya sudah! Kamu sekarang tinggal di mana? Aku akan mengantar kamu pulang dan aku ingin tau di mana rumah kamu."
"Aku tinggal di sebuah kontrakan kec di gank itu." Tangan Nara menunjuk sebuah gank kecil.
"Oh di situ."
"Tapi aku mau mencari pekerjaan, Jo. Aku butuh pekerjaan untuk menghidupi diriku selama tinggal di sini."
"Kalau begitu kamu ikut aku ke puncak bukit yang tidak jauh dari sini."
"Hah? Mau apa ke sana?"
"Mau mengajak kamu melihat pemandangan alam, biar kamu tidak terlihat menyedihkan seperti ini." Tangan Nara digandeng oleh Paijo dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.
Nara tampak tertegun melihat perubahan besar dari sahabatnya itu. "Ini mobil kamu, Jo?"
"Bukan, aku baru saja nemu di pinggir jalan," jawab Paijo santai sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Huft! Kenapa ditanya malah jawabnya seenaknya begitu?"
"Tentu saja ini mobilku, Nara. Aku akan menceritakan banyak tentang diriku sama kamu."
Nara yang duduk di samping Paijo mengangguk perlahan.
Mereka berangkat ke tempat yang di maksud oleh Paijo. Menaiki sebuah bukit dan ternyata di atas ada sebuah cafe indah dengan bertema out door dan banyak lampu-lampu berbentuk buah-buahan.
__ADS_1
Mobil Paijo diparkirkan di tempat parkir yang ada di sana. "Selamat siang, Pak," sapa seorang pria yang berpakaian sekuriti