
Denna terdiam sejenak saat Diaz bertanya tentang hal yang ingin Denna ceritakan waktu itu.
"Diaz, kamu janji jangan sampai hal itu diketahui orang lain karena aku pasti sangat malu nantinya."
"Ada apa sih? Kenapa kedengarannya serius sekali?"
"Evans hampir saja menodai aku di malam acara ulang tahun waktu itu," ucap Denna lirih.
"Apa? Kamu serius? Tapi bagaimana bisa?"
Denna menceritakan bagaimana dia dibohongi oleh Mandy yang tak lain adalah saudara sepupu Evans, tapi Denna bisa selamat saat bodyguard yang ayah Denna utus untuk menjaganya selama ini datang dan dia juga yang membuat Evans masuk rumah sakit.
"Dia pantas menerima semua itu. Aku tidak menyangka jika Evans sampai berbuat seperti itu sama kamu. Dia benar-benar jahat."
"Aku juga tidak menyangka jika di dalam pikirannya bisa merencanakan hal sejahat itu padaku."
"Denna, apa kamu sudah menceritakan hal ini pada kedua orang tua kamu?"
Denna menggeleng pelan. "Kenapa tidak kamu ceritakan? Kalau perlu kamu seret dia masuk ke dalam penjara." Diaz tampak geram.
"Kalau ayahku sampai tau, dia tidak akan memaafkan Evans, dan aku tidak mau hal ini sampai diketahui orang banyak, tetap yang mendapat malu keluargaku. Keluarga Evans pasti tidak tinggal diam, dan akan menjadi masalah besar."
"Aku tau maksud kamu. Jadi sekarang kamu dijaga oleh seorang bodyguard?"
"Iya, dan yang membalas pesan kamu waktu itu adalah bodyguardku."
Diaz mengedarkan pandangannya mencari di mana sosok bodyguard yang menjaga Denna. "Mana dia?"
"Siapa?"
"Kang somay. Bodyguard kamu, Denna! Siapa lagi?"
"Dia tidak di sini," bohong Denna. "Kapan-kapan saja aku kenalkan. Sekarang kita masuk dulu."
Denna menarik tangan Diaz dan menyuruhnya beranjak dari bangku kantin.
Beberapa jam kemudian sekolah Denna bubar, semua murid berjalan keluar kelas masing-masing.
"Diaz, kamu dijemput sama Mas Rio, kan?"
"Iya, seperti yang aku katakan kemarin malam di pesan. Memangnya kenapa? Kamu mau bareng?"
"Tidak, kalau begitu aku pulang dulu. Bye, Diaz!" Denna berlari ke luar gedung menuju tempat parkiran khusus mobil.
__ADS_1
Denna melihat Dimas sedang tiduran bersandar pada kursi kemudi dan pintu mobil tidak ditutup.
"Dia pasti capek, tapi wajahnya kenapa agak pucat?" Denna mendekat dan mencoba membangunkan Dimas. "Tangannya terasa panas. Dia demam?"
Denna meletakkan telapak tangannya pads dahi Dimas dan sontak membuat pria yang sedang tertidur itu membuka kedua matanya.
Mata coklat itu memandang wajah Denna yang dekat dengannya. "Nona Denna." Dimas agak kaget.
"Kamu sakit, Dimas?"
"Saya tidak apa-apa. Apa Nona sudah selesai? Kita pulang sekarang."
"Tunggu!" Denna beranjak dari posisi jongkoknya dan berlari kembali ke kantin sekolahnya.
Tidak lama Denna kembali dengan membawa sebotol air mineral. "Dimas, kamu pasti demam karena kecapekan dan terkena hujan kemarin. Sekarang, kamu minum obat dulu." Denna mengeluarkan sebutir obat dari dalam sakunya.
Dimas hanya melihati obat di depannya. "Saya tidak membutuhkan obat. Saya baik-baik saja."
Denna kesal dengan sikap keras kepala Dimas. Sikap dinginnya dan kakunya itu membuat Denna harus sabar mempunyai bodyguard seperti Dimas.
"Dimas, aku perintahkan minum obat ini supaya kamu tidak sakit."
"Saya tidak mau. Kenapa Nona suka sekali memaksa? Saya bisa mengurus diri saya sendiri."
Denna yang tidak sabaran seketika mendorong tubuh Dimas dan dia naik di atas pangkuan Dimas.
"Minum!" Paksa Denna dengan menekan pipi Dimas sampai mulut Dimas seperti ikan koki dan dengan segera memasukkan obat pada mulut Dimas.
"Selesai."
"Denna, apa yang sedang kamu lakukan?" suara seseorang yang Denna kenali ada di sana.
Denna menoleh dan dengan cepat turun dari tubuh Dimas. "Pak Udin? Bapak sedang apa di sini?"
"Bapak sedang mencari kunci mobil sekolah yang siapa tau terjatuh di sini. Kamu sedang apa tadi? Dan siapa dia?" Pria paruh baya dengan kacamata tebalnya itu melihat pada Dimas.
"Bapak jangan salah paham dulu. Dia kekasihku dan tadi saya sedang memaksanya minum obat karena dia sedang sakit."
"Memaksanya minum obat? Kenapa sampai seperti itu? Kamu bohong ya? Kamu pacaran di sini?"
"Bapak Udin kan kenal saya. Mana mungkin saya melakukan hal di luar batas di sekolah? Ini sisa obat yang belum diminum dan pegang tangan pacar saya yang demam ini."
Pak Udin akhirnya memeriksa suhu tubuh Dimas dan memang panas. Apa lagi wajah Dimas pucat.
__ADS_1
"Kenapa tidak ke dokter saja?"
"Badannya tidak enak. Aku suruh minum obat dulu agar lebih baik dan nanti kita ke dokter, tapi karena dia menolak terus, saya jadi kesal dan terpaksa melakukan pemaksaan seperti itu." Denna meringis.
Pak Udin sampai menggeleng-gelengkan kepala. "Dasar kamu itu."
"Saya minta maaf, Pak. Saya tadi sudah mengatakan pada No--. Maksud saya Denna tidak perlu minum obat, tapi Denna khawatir dengan keadaan saya."
"Ya sudah, kamu istirahat sebentar, kalau mau di ruang kesehatan di dalam juga tidak apa-apa."
"Terima kasih, Pak. Saya tiduran di sini saja sebentar."
"Pak Udin percaya sama saya sekarang, Kan?"
"Iya, bapak percaya. Apa lagi kamu memang murid yang baik dan bapak tau itu. Denna," bisik Pak Udin mendekat pada Denna. "Kamu pintar sekali memilih kekasih. Pertahankan dia, kelihatannya dia baik dan bertanggung jawab," ucapnya pelan.
"Dia memang baik, tapi keras kepalanya minta ampun! Seperti es juga," gerutu Denna.
"Sama seperti kamu. Sudah! Bapak mau mencari lagi kuncinya."
"Saya bantu cari di sini ya, Pak?"
"Tidak perlu, kamu segera ke dokter saja kalau sudah enakan supaya sakitnya tidak tambah parah." Denna mengangguk.
"Pak Udin," panggil Dimas.
"Ada apa?" Pak Udin kembali menoleh pada Dimas.
"Apa kunci yang Bapak cari ada gantungan kunci boneka kecil berwarna pink?"
Pria paruh baya itu mengangguk cepat. "Bagaimana kamu tau?"
"Kunci itu tidak hilang, tapi ada di tas Bapak." Dimas menunjukan tangannya ke arah tali tas selempang yang di pakai pak Udin.
"Ya Tuhan! Di sini rupanya. Kenapa aku lupa jika menaruhnya di sini?" Pak Udin sampai menepuk jidatnya.
Denna menahan senyum melihat tingkah gurunya. "Gantungan kuncinya keren ya, Pak. Boneka berwarna Pink."
"Jangan salah paham dulu. Ini anak Bapak yang menyuruh memakai gantungan kunci itu." Pak Udin memutar bola matanya jengah.
"Iya, Denna percaya, Pak."
"Terima kasih ya, Pacarnya Denna. Bapak permisi dulu." Pria itu tersenyum pada Denna dan Dimas.
__ADS_1
Dimas tersenyum kecil. Denna memandang Dimas yang memiliki senyum sangat manis bagi Denna. Apa lagi baru kali ini Denna melihat senyum itu selama dia bersama Dimas.
"Kamu sudah baikkan?" tanya Denna. Dimas hanya mengangguk perlahan.