
Nara yang mendengar ucapan Jaden barusan merasa ada yang mencubit hatinya. Mba Sandra akan tidur di kamar Tuan Jaden? Apa dia akan tidur seranjang dengan Tuannya? Seketika pertanyaan itu muncul begitu saja di benaknya.
Sandra melihat pada Jaden, dan dia tidak percaya jika Jaden menyuruhnya untuk tidur dengannya di kamar.
"Kalau begitu kamu tidur saja dulu, Nara. Kamu pasti sangat lelah hari ini, biar aku saja yang mengurus Tuan Jaden jika dia membutuhkan sesuatu."
"Iya, kalau begitu aku permisi dulu." Nara melihat pada Jaden dari depan pintu. Sandra menutup pintu kamar Jaden dengan senyum lebarnya, di depan Nara.
Jleb ...
Rasanya ada sesuatu yang menghantam dada Nara dengan keras, tapi Nara tidak tau kenapa hal itu terasa sakit di hatinya.
Nara berjalan perlahan menuju dapur, dia meletakkan teko yang dibawanya di atas meja makan, dan dia terduduk lemas di kursi makan.
"Kenapa aku ini? Tuan Jaden dan Mba Sandra tidak akan melakukan apa-apa di dalam kamar itu. Lagipula kalau mereka melakukan apa-apa di dalam kamar, itu hak mereka. Bukannya mereka sama-sama sudah dewasa, apalagi mba Sandra sangat mencintai Tuan Jaden." Nara menghentakkan kakinya beberapa kali.
Malam ini di dalam kamarnya Nara tidak dapat tidur tenang, dia beberapa kali membolak-balikkan badannya gelisah. Kadang dia duduk, kadang dia kembali berbaring seenaknya di atas ranjang.
"Aku kenapa tidak bisa tidur? Seharusnya aku bisa tidur nyenyak." Nara menutup kepalanya dengan bantal. "Apa yang aku harapkan akan terjadi. Jika Mba Sandra dengan Tuan bisa jatuh cinta, Tuan Jaden pasti tidak akan membutuhkanku." Nara malah ngomel di balik bantalnya.
"Dia ini kenapa? Apa dia terlalu bahagia bisa memiliki kenalan baru si bodoh Roy itu? Sampai-sampai dia tidak bisa tidur?" Jaden berdialog sendiri melihat Nara dari layar tabletnya.
Jaden juga tidak dapat tidur malam ini. Setelah melihat Sandra tertidur di sofa depan ranjangnya, dia membuka layar tabletnya untuk melihat Nara yang berada di dalam kamarnya.
"Gadis itu benar-benar membuatku kesal. Dia mudah sekali bersikap manis dengan para lelaki. Apa benar dia seperti yang Sandra bilang jika Nara memang gadis perayu?"
__ADS_1
Jaden memutar rekaman di mana Nara dan Roy sedang bicara berdua. Dia ingin tau apa yang Roy dan Nara bicarakan.
Saat mendengar apa yang Roy katakan bahkan yang dilakukan tangan Roy pada Nara. Seketikan membuat darah beku Jaden menjadi mendidih. Ingin dia lempar tablet miliknya, tapi di urungkan karena mahal. Enggak, author ngarang itu. Tablet itu tidak jadi dilempar karena pasti akan membuat Sandra terbangun.
"Berani sekali dia akan melakukan hal itu. Apa dia tidak tau dengan siapa dia berurusan? Dia ingin menjadikan Nara kekasihnya? Pasti Nara sudah berbuat hal yang lebih sehingga pria bodoh ini begitu yakin bahkan ingin membawa Nara dari sini." Jaden mengepalkan erat genggaman tangannya.
Mereka berdua sama-sama tidak bisa tidur malam ini. Mereka berkelana dengan pikiran masing-masing
***
Keesokan harinya, saat Jaden terbangun dia tidak melihat Sandra di sofanya. Jaden berpikir jika mungkin Sandra sudah bangun pagi-pagi sekali dan kembali ke kamarnya.
Pintu kamar Jaden diketuk oleh seseorang dan Jaden mendengar suara seseorang yang semalaman membuatnya tidak dapat tidur nyenyak.
"Masuk," ucapnya tegas. Nara masuk ke dalam kamar dengan membawa baju Jaden yang sudah dia setrika. Nara tidak berkata apa-apa, dia berjalan menuju walk in closet milik Tuannya. Pun dengan Jaden, dia hanya memperhatikan gerakan Nara dengan wajah datarnya.
"Tuan, apa mau aku bantu duduk di kursi roda? Mungkin Tuan mau ke kamar mandi."
"Tidak perlu! Aku bisa meminta tolong pada Sandra," ucapnya agak ketus.
"Tapi Mba Sandra sedang pergi, tadi pagi-pagi sekali aku bertemu dengannya dan dia bilang akan pergi sebentar ke suatu tempat, dia meminta tolong untuk membantu Tuan JL kalau mau ke kamar mandi."
"Aku bisa sendiri." Jaden berusaha bangkit dari tempat tidurnya dengan sekuat tenaga. Menahan rasa sakit yang masih ada pada tubuhnya.
"Tuan, aku akan membantu Tuan JL." Nara memegangi tangan Jaden, tapi pria itu malah menangkis tangan Nara.
__ADS_1
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri. Sebaiknya kamu pergi saja dan urus pekerjaan kamu, atau bertemu dengan kekasih kamu itu."
Nara tampak bingung dengan ucapan Jaden. "Maksud, Tuan siapa? Aku tidak punya kekasih di sini, bahkan memikirkan punya kekasih di sini saja tidak terbesit dalam benakku."
"Pengawal bodohku itu! Apa diam-diam kamu merencanakan sesuatu dengannya?"
"Apa maksud kamu?" Nara tampak tersulut emosi.
Jaden yang duduk di atas ranjang dengan kaki yang menapak di lantai menatap Nara dengan tajam. Tangan Jaden tiba-tiba mencengkeram dagu Nara. "Aku mendengar apa yang kemarin malam dia katakan sama kamu, Nara. Dia menyatakan cinta sama kamu, dan siapa dia? Berani sekali ingin bicara denganku agar mau melepaskan kamu jika kamu mau menerimanya. Aku habisi kalian berdua jika berani melakukan hal itu," Jaden menekankan kata-katanya pada Nara.
Kedua mata Nara menatap datar pada Jaden. Nara seolah sudah kebal dengan sikap Jaden itu. "Tuan bukannya sudah mendengar semuanya? Dan pasti tau apa yang aku katakan sama dia. Aku tidak mau menerimanya karena aku juga tidak yakin jika dia pria yang baik. Lebih baik aku bersama Tuan JL yang jelas-jelas aku sudah tau bagaimana seramnya kamu."
Tangan Jaden melepaskan cengkramannya dari dagu Nara. "Kamu jangan coba-coba membuat rencana di belakangku dengan pengawal itu. Aku tidak suka dikhianati, dan kamu sudah menjadi barang milikku, aku tidak akan melepaskan kamu, Nara.
"Iya, Tuan JL tenang saja. Aku memang hanya barang atau bahkan boneka hidup milik Tuan JL. Aku tidak akan berani mengkhianati Tuan JL, apalagi melibatkan nyawa orang lain."
"Bagus, dan nanti aku akan panggil pengawal bodoh itu untuk aku pecat dari rumahku."
"Jangan, Tuan. Mas Roy orang yang baik, jangan membuat dia dalam kesusahan. Kita hanya berteman saja, Tuan jangan berbuat terlalu kejam."
"Baiklah, tapi aku tidak mau kamu dekat-dekat dengannya lagi. Jauhi dia, Nara!" seru Jaden tegas.
"Aku ini hanya pelayan di sini, tapi kenapa aku seolah menjadi burung di dalam sangkar. Memiliki teman saja tidak boleh," gerutu Nara.
"Jangan menggerutu."
__ADS_1
"Kamu sangat egois, Tuan. Tuan saja memiliki teman bicara di sini bahkan sampai menemani tidur. Aku hanya berbicara dengan pengawal di sini tidak boleh. Aku juga butuh teman bicara, apalagi Mas Leo juga akan lama di luar negeri. Nara mengerucutkan bibirnya.