Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Hubungan Berakhir


__ADS_3

Pria dengan aura dingin itu masuk ke dalam rumah, dia ingin mencari Nara, tapi yang dia lihat bukan hal yang ada dipikirannya tadi. Jaden mengira Nara akan menangis dan ingin pulang dari sana, tapi ternyata Nara berada di meja makan dan duduk bersama keluarganya.


"Jaden, kamu baru datang? Bukannya tadi Jacob bilang kamu akan makan pagi dengan kekasih kamu," tanya wanita cantik dengan rambut ikalnya.


"Aku mau sarapan pagi dengan kalian. Cathy sedang ada urusan mendadak tadi."


Pria yang duduk pada kursi utama di meja makan itu memperhatikan Jaden dengan seksama. "Jaden, wajah kamu kenapa? Kamu habis bertengkar?"


Plang ...


Seketika terdengar denting sendok milik Nara yang terjatuh. "Ma-maaf."


"Masak sih, Yah? Tadi aku tidak memperhatikan wajah Jaden." Jacob sekarang melihat wajah Jaden dari tempatnya. Bahkan Nara diam-diam juga memperhatikan wajah pria itu.


Langkah Jaden perlahan mendekat ke arah meja makan dan duduk tepat di sebelah mamanya.


Tangan wanita cantik itu menolehkan pipi Jaden kanan dan ke kiri. Memeriksa wajah putranya itu. "Kenap sampai bisa terkena pukul? Lalu, orang itu apa kamu habisi?" tanya wanita cantik itu dengan santai.


"Dia hanya masuk rumah sakit. Cathy menahanku waktu itu."


"Kamu suka sekali berurusan dengan hal-hal berbahaya seperti itu, Kak?"


"Bukannya suka, tapi mereka yang mencari masalah denganku."


"Kenapa? Mereka menggoda Cathy kekasih kamu? Hal itu wajar, apa lagi Cathy membuka bar di sana, pasti banyak pria-pria hidung belang yang tidak baik."


Nara merasakan sakit di hatinya mendengar percakapan mereka. Kedua matanya sekarang memandang pada Jaden yang juga melihatnya.


"Kalau begitu kita makan pagi saja dulu. Nanti biar mama panggilkan dokter."


"Tidak perlu, Ma. Aku baik-baik saja. Lagi pula ini bukan luka yang serius.


"Terserah kamu saja, Nak. Kalau begitu kita makan sekarang. Mama tidak sabar ingin mencicipi nasi goreng buatan Nara yang lama sekali mama tidak pernah makan dengan nasi goreng."


Salah satu Maid di sana berjalan dan hendak menyajikan nasi goreng di setiap piring mereka. "Biar aku saja yang menyajikannya." Nara meminta dengan sopan mangkuk besar yang berisi nasi goreng.

__ADS_1


"Nara, tidak perlu. Kamu duduk manis saja karena kamu tadi sudah lelah memasaknya," kata mama Miranda.


"Tidak apa-apa, Ma. Aku sudah biasa melakukan hal ini di rumah Tuan JL dulu."


Nara beranjak dari tempatnya dan menyajikan satu persatu pada piring mereka. Sampai di tempat Jaden, pria itu malah sengaja menjatuhkan garpu makannya. Nara yang reflek menunduk untuk mengambilkan garpu Jaden.


"Biar aku sendiri yang mengambilnya Nara." Jaden pun menunduk. "Temui aku di kamarku," ucap Jaden cepat.


Nara tidak menjawab, dia mengangkat kepalanya dengan tangan sudah memegang garpu milik Jaden.


"Ini garpu Tuan JL." Setelah memberikan garpu Jaden. Nara segera kembali ke tempat duduknya.


Mereka menikmati makan pagi bersama. Jacob terlihat menyukai nasi goreng buatan Nara. "Nara, ini enak sekali. Aku menyukainya."


"Terima kasih, Jacob."


"Iya, lama mama tidak makan masakan tradisional dan ini enak. Jaden, kamu tidak salah jika menyukai nasi goreng buatan Nara, tapi sekarang kamu tidak tiap hari akan makan masakan Nara karena Nara akan tinggal di sini sampai dia lulus kuliah nanti."


"Nara akan ayah dan mama angkat untuk menjadi putri kita di sini. Ayah sudah bicara dengan Nara dan dia setuju. Orang ayah akan mengurus semua kepindahan Nara di sini."


"Iya, itu hal yang sangat benar, Yah."


Makan pagi sudah selesai. Jaden yang berada di dalam kamarnya menunggu Nara yang tadi dia pesan untuk datang ke dalam kamarnya. Namun, sepertinya gadis itu tidak memperdulikan Jaden.


"Kenapa dia tidak ke sini? Aku hubungi ponselnya, tapi dari tadi ponselnya tidak aktif." Jaden mondar mandir di dalam kamarnya.


Dia memutuskan akan mencari Nara saja, dia akan beralasan ada hal yang ingin Jaden katakan pada Nara saat dia nanti tinggal di rumah keluarganya.


Pria itu terkejut saat melihat Nara keluar dari dalam kamar Jacob yang berada satu wilayah dengan kamar Jaden.


"Auw ...!" sebuah tangan membungkam bibir Nara dengan cepat dan membawa tubuh gadis itu masuk ke dalam kamar. Tubun gadis itu disandarkan pada daun pintu.


Kedua pasang mata itu saling menatap lekat. Jaden perlahan-lahan melepas tangannya pada mulut Nara.


"Kenapa kamu tidak mendengarkan apa perintahku tadi, Nara? Dan kenapa ponsel kamu tidak kamu aktifkan?"

__ADS_1


"Perintah? Tuan lupa jika mulai sekarang aku bukan pelayan Tuan JL lagi. Aku sudah bebas dari perjanjian hutang itu, dan Tuan JL juga sudah menyetujuinya."


Jaden terdiam di tempatnya. Dia ingat dengan semua yang sudah dia pernah katakan pada Jacob.


"Nara, aku ingin bicara dengan kamu."


"Tidak ada hal yang perlu kita bicarakan, Tuan JL. Semua sudah jelas, dan aku juga sangat bersyukur mengetahui semuanya lebih awal sebelum aku benar-benar masuk dalam semua permainan kamu."


"Nara, aku minta maaf sudah membohongi kamu tentang Cathy."


"Apa benar dia kekasih kamu?"


"Iya, aku dan Cathy menjalin hubungan sejak lama."


"Lalu, bagaimana dengan wanita bernama Mauren?"


"Dia juga salah satu wanitaku. Nara hidupku bebas dan aku bisa melakukan hal yang aku sukai. Aku tidak menyangkan jika kamu akan mendalami semua ini. Nara, aku minta maaf sudah menjadi orang yang menyakitimu sekali lagi."


Plak ...


Tamparan keras pada pipi Jaden dari tangan gadis yang amat sangat mencintai Jaden.


"Terima kasih untuk semuanya. Mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Aku benar-benar akan menghilangkan nama Tuan dari hidupku, bahkan aku akan akan menganggap tidak pernah mengenal Tuan JL."


"Nara, aku minta maaf tentang orang tua kamu dan hal ini." Jaden menggenggam tangan Nara, tapi gadis itu menangkis dengan marah tangan Jaden.


"Aku sudah memaafkan semuanya. Mungkin semua ini yang terjadi dengan orang tuaku adalah takdir yang harus menimpaku, dan semua yang sudah Tuan lakukakan akan aku anggap sebagai pelajaran yang berharga agar tidak percaya begitu saja dengan kata cinta seseorang."


Nara keluar dengan perasaan yang teramat sedih dan kecewa dengan Jaden. Kisah cintanya benar-benar berakhir tragis sekarang, dan Nara sudah memutuskan akan melupakan pria bernama Jaden Luther.


Jaden yang berdiri di tempatnya, tapi pria itu tiba-tiba beringsut duduk di bawah ranjangnya dengan wajah terlihat teramat sedih.


Flashback


"Halo, Yah."

__ADS_1


"Jaden, adikmu sepertinya menyukai Nara. Ayah berharap agar Nara dapat memiliki perasaan yang sama dengan Jacob." Seketika kedua mata Jaden membulat lebar.


__ADS_2