Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Bukan Cemburu ?


__ADS_3

Jaden agak terkejut mendengar apa yang Leo katakan. "Itu artinya kamu memiliki perasaan pada Nara?"


"Iya, Tuan, tapi saya tau posisi saya dan Nara lebih pantas untuk siapa."


"Apa kamu tulus akan mencintai Nara jika kamu bisa memilikinya?"


"Ibu saya mengajarkan untuk bersikap baik kepada seseorang yang kita cintai, dan mencintailah dengan tulus tanpa ada pengkhianatan."


"Bagaimana jika orang yang kamu cintai mengkhianati kamu? Apa kamu akan tetap mencintainya?"


"Kalau wanita yang kita cintai mengkhianati kita, itu berarti ada yang salah dari diri kita atau kita dia sudah tidak nyaman dengan kita. Aku akan melepaskannya agar dia bahagia dengan orang yang bisa membuatnya bahagia."


"Apa kamu tidak sakit hati?"


"Rasa sakit hati pasti ada, tapi itu tidak akan membuat saya kecewa akan yang namanya jatuh cinta lagi pada orang lain."


"Sesimpel itu?" tanya Jaden tidak percaya.


"Iya, Tuan."


"Lalu, bagaimana menurut kamu tentang Nara? Apa dia gadis yang baik dan tidak akan mengkhianati pasangan dia seperti Mauren?"


"Saya tidak tau pasti. Namun, hati saya mengatakan jika Nara benar-benar gadis yang patut untuk dicintai dengan tulus."


"Kamu baru beberapa hari mengenalnya, Leo, tapi aku lihat kamu yakin sekali dengan Nara."


"Tuan, apa boleh saya bertanya pada Tuan Jaden?"


"Tentu saja boleh. Apa yang mau kamu tanyakan?"


"Selama beberapa hari Tuan mengenal Nara dan bersama dengan gadis itu. Apa tidak pernah terbesit sedikit saja ada perasaan istimewa pada gadis itu?"


"Apa maksud ucapan kamu, Leo?" bentak Jaden marah.


"Maaf, Tuan, saya hanya bertanya saja. Tuan Jaden kalau tidak mau menjawab juga tidak apa-apa."


"Tentu saja aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada si pelayan itu. Bagiku Nara hanya Lagipula kamu tau untuk apa aku membawa Nara ke sini."


"Iya, Tuan, sekali lagi saya minta maaf."


Tok ... tok

__ADS_1


Terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang. Jaden menyuruh orang itu masuk dan ternyata itu Nara.


"Tuan JL, makan pagu sudah siap. Tuan JL mau makan di kamar apa meja makan?" tanya Nara sopan.


"Aku makan di meja makan saja. Kalian juga akan makan di sana, kan?"


Leo dan Nara seketika saling melihat. "Iya, Tuan, saya dan Nara juga akan makan di meja makan kalau Tuan mengizinkan."


"Aku makan di luar saja bersama para pengawal lainnya saja karena aku tau di mana tempatku," ucap Nara dengan tatapan datar pada Tuannya.


Tangan Leo menepuk pundak Nara. "Kalau begitu aku akan ikut kamu makan di luar saja, Nara."


"Kalian berdua jangan bersikap sok manis seperti itu di depanku. Aku muak melihatnya, kalian berdua itu bukan sepasang kekasih, jadi bersikaplah biasa. Kalian dengar?"


Nara segera menganggukkan kepalanya. Beda dengan Leo, dia malah tersenyum melihat hal itu.


"Kalian berdua makan bersamaku dan Sandra di meja makan."


"Baik, Tuan. Oh ya, Nara. Kebetulan kamu di sini, katanya kamu mau meminjam buku. Ambil saja sekarang karena nanti kamu pasti membutuhkannya untuk menemani kamu di rumah selama aku pergi."


"Oh iya!" seru Nara senang, tapi tidak lama berubah wajahnya saat melihat wajah Jaden. "Em ... kapan-kapan saja, Mas Leo," ucap Nara kemudian melihat sekali lagi wajah Jaden.


"Ambil saja buku yang kamu mau, Nara. Aku sudah mengizinkan kamu," kata Jaden.


"Ada resep masakan juga! Aku mau yang ini." Nara mengambil buku itu, dan ada beberapa buku yang baginya menarik.


Nara mendongak ke atas rak paling atas dan dia tertarik dengan salah satu buku di sana. Nara mencoba mengambilnya, tapi tangannya tidak sampai.


"Ini bukunya." Tiba-tiba sebuah tangan meraih buku itu dan memberikan pada Nara.


"Mas Leo, terima kasih," ucap Nara diiringi senyum manisnya.


"Sama-sama, Nara. Apa ada yang mau kamu ambil lagi?"


"Tidak ada." Nara menggelengkan kepalanya. "Ini saja dulu nanti aku baca."


"Kalau sudah tidak ada, kita kembali ke meja makan sekarang," ucap Jaden ketus.


Nara berjalan lebih dulu di depan Jaden dan Leo yang mendorongnya. "Gadis yang manis," puji Leo.


"Carilah gadis yang lebih dewasa dan mengerti kamu. Nara tidak pantas untuk kamu," ucap Jaden sekali lagi dan masih dengan nada ketus.

__ADS_1


"Dia memang lebih pantas untuk Tuan Jaden," celetuk Leo yang membuat Jaden terdiam.


Di ruang makan, terlihat Sandra sedang menyiapkan peralatan makan pagi mereka. Nara mempersilakan Tuannya dan Leo untuk duduk dulu dan dia akan memberikan nasi goreng buatan dia ke depan untuk para penjaga.


Pandangan Jaden tak lepas memperhatikan tingkah pola gadis pelayannya itu. Nara kemudian kembali dan duduk tepat di sebelah Leo.


"Nara, kamu ikut makan di sini juga?" tanya Sandra.


Nara langsung celingukan bingung. "Aku yang mengizinkan Nara duduk satu meja dengan kita, kita akan makan berempat. Tidak ada masalah, Kan?" Jaden melihat pada Sandra.


"Tentu saja tidak ada masalah, Tuan Jaden, hanya saja aku kira para pelayan di sini makan di meja lain dengan pelayan atau pengawal lainnya." Sandra melihat pada Nara dan seolah menunjukkan siapa Nara di sana.


"Apa kalian ingin sarapan berdua? Aku dan Nara bisa pergi dari sini."


"Kamu mau berduaan sarapan romantis dengan Nara, Ya Leo?" Goda Sandra. Nara tampak canggung sekarang.


"Apa tidak bisa kita makan sekarang? Aku lapar dan kita juga bisa segera memulai terapinya."


Ketiga orang tersebut terdiam dan hanya saling melihat satu sama lain.


Sarapanpun akhirnya dimulai. Nara mengambilkan nasi goreng yang di minta oleh Leo. Jaden tampak tidak berselera dengan sup yang katanya buatan Sandra.


"Apa aku tidak bisa makan lainnya? Sebenarnya aku tidak terlalu suka sup."


"Tapi ini sangat baik untuk kesembuhan kamu dan aku sudah memberikan obat di dalamnya agar kamu segera membaik."


"Apa tidak bisa diberikan saja di air minum?"


"Tuan Jaden, saya sudah susah payah memasak sup ini. Cobalah dulu, Tuan Jaden pasti akan menyukainya." Sandra mengambilkan semangkuk sup dan Jaden mencobanya. "Bagaimana?"


"Kenapa rasanya seperti sup buatan Nara?"


"Sup buatan Nara? Tidak mungkin karena ini aku membuatnya sendiri."


"Rasanya sama karena Nara pernah membuatkan sup seperti ini." Jaden melihat pada Nara.


"Aku tidak membuatnya, dari tadi Mba Sandra yang berkutat di dapur. Mungkin hanya hampir sama saja rasanya, Tuan."


Nara tidak percaya jika pria dingin yang penuh pesona sebenarnya. Ini masih mengingat rasa sup buatan dia.


"Kamu ingat sekali rasa sup buatan Nara, Tuan."

__ADS_1


"Jika makanan itu enak, aku akan mengingatnya, seperti kebaikan seseorang padaku, aku juga akan terus mengingatnya."


__ADS_2