
"Apa maksud kamu? Takut? Tidak ada di dunia ini yang aku takutkan kecuali kehilangan orang yang aku cintai."
"Kalau begitu minum obat kamu agar kepala kamu tidak sakit."
,b.a. bisa abu"Kenapa kamu banyak bicara? Aku sudah bilang jika itu bukan urusan kamu." Sekali lagi Jaden tampak marah.
"Aku bisa membantu kamu minum obat."
Jaden ini bingung, kenapa Nara bisa tau jika obat adalah hal yang dia takuti selain ditinggal orang yang dia sangat cintai?
"Bagaimana caranya?" tantang Jaden yang penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Nara.
"Ini obat kamu, bukan?" Tangan Nara menunjukkan obat di depan Jaden.
Jaden melihati tangan Nara dengan serius. Lalu, dia mengambil botol obat yang dipegang oleh Nara
"Ini. Sekarang aku ingin tau bagaimana cara kamu agar aku mau minum obat?" Jaden memberikan satu pil obat pada Nara.
Nara sekarang tampak bingung, apa dia akan melakukan hal biasa yang dia selalu lakukan saat Jaden minum obat?
"Sekarang kamu duduk dulu."
"Siapa kamu berani memerintahku?" Mata Jaden memicing.
Nara tidak menjawab, dia langsung naik ke atas meja kayu dan membungkam mulut Jaden dengan bibir Nara. Nara memasukkan obat dari mulutnya ke mulut Jaden. Seketika menjalar sengatan-sengatan kecil pada seluruh tubuh Jaden. Dia menyukai ciuman Nara, Nara pun merindukan hal itu.
Sepersekian menit mereka menikmati hal yang sudah lama tidak mereka rasakan walaupun Jaden tidak ingat akan hal itu.
Dirasa obat sudah diminum oleh Jaden. Nara mencoba menarik bibirnya dari bibir Jaden. Namun, pria itu malah menahan tengkuk Nara dan mendekatkan lagi bibirnya mencium bibir Nara.
Setelah puas, Jaden melepaskan ciumannya dan melihat Nara yang juga sedang menatapnya.
"Ck! Ternyata kamu benar-benar wanita penggoda. Buktinya, kamu sangat lihai membuat lawan jenismu merasakan hal yang luar biasa. Aku tidak heran banyak pria yang mengelilingi kamu."
"Aku hanya bisa melakukan hal itu sama kamu saja, dan aku bukan wanita penggoda. Aku istri kamu." Nara mengatakan dengan meneteskan air mata."
Jaden yang mendengar apa yang dikatakan oleh Nara tampak kaget. "Istri? Kamu sudah gila?"
"Terserah kamu menganggapku gila atau apa, yang jelas aku adalah istri kamu sebelum kecelakaan yang menimpa kamu terjadi."
__ADS_1
Jaden memicing menatap Nara dari atas sampai bawah. "Kamu memang cantik, tapi aku tidak mungkin menikahi wanita seperti kamu. Kamu sama sekali bukan tipeku dan aku juga tidak akan asal memilih seseorang untuk menjadi istriku."
"Tapi nyatanya aku memang istri kamu, tapi kamu tidak mengintatku."
"Kalau memang benar kamu istriku. Kenapa pada saat aku terbangun dari koma, kamu tidak ada di sana, bahkan beberapa hari aku masih di rawat kamu tidak ada di sampingku?" Tangan Jaden dengan kasar menarik lengan tangan Nara.
"A-aku--."
"Karena kamu tidak benar-benar mencintaiku, kamu mencari pria lain. Benarkan?" bentak Jaden.
"Aku sangat mencintai kamu, bahkan tidak ada di benakku untuk berselingkuh darimu. Aku memiliki alasan untuk melakukan hal itu dan kamu yang dulu tau akan hal itu."
"Cih! Apa lagi alasan seorang wanita meninggalkan kekasihnya kalau tidak dia ingin berselingkuh dengan pria lain."
"Aku Nara. Aku bukan Mauren. Aku istri kamu yang sangat mencintai kamu."
Jaden agak terkejut saat Nara mengatakan nama Mauren. Jaden bingung, Nara rau soal Mauren darimana?
"Tutup mulut kamu!" Jaden mencengkeram dagu Nara. "Kamu jangan coba-coba membohongiku."
Nara hanya terdiam melihat Jaden yang memandangnya dengan dingin.
Seketika Jaden melepaskan tangannya pada Nara. Dia merasa kasihan melihat wajah Nara.
"Baiklah! Kalau kamu memang istriku. Tunjukkan buktinya padaku!"
Nara bingung karena dia tidak memiliki bukti apapun. Dia pergi dari rumah tanpa membawa apapun.
"Aku ad foto kita berdua, tapi di kontrakan aku. Aku akan ambilkan sebagai bukti."
"Kamu mau ke mana?" Jaden menahan tubuh Nara dengan lengannya.
"Mau mengambil bukti di kontrakanku agar kamu percaya."
"Ck! Jangan mencoba menipu, Bodoh! Kamu kira aku akan membiarkan kamu pergi dari sini dengan mudah? Itu tidak akan."
Sekarang Jaden menarik tangan Nara dan membawanya ke dalam kamar Jaden.
"Lepaskan tanganku, tanganku sakit."
__ADS_1
Jaden tidak memperdulikan rintihan kesakitan Nara. "Untuk sementara kamu di sini dulu sampai urusanku dengan pria itu selesai."
Saat Jaden akan melangkah pergi, tangannya ditahan oleh Nara. "Jangan menyakiti orang lagi. Maafkan dia," mohon Nara.
"Lepaskan tangan kamu!" Jaden menepis tangan Nara dengan kasar.
Dia melangkah pergi dari sana dan menutup pintu kamar dengan menekan sandi. Jelas saja Nara tidak akan bisa keluar dari dalam kamar Jaden.
"Dia berubah menjadi seperti dulu." Nara tampak sedih. Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk Jaden. Indra penciuman Nara dapat mencium lagi aroma tubuh Jaden yang sangat dia sukai yang menyeruak dari sprei bantal.
Jaden yang di luar pintu kamarnya tampak terdiam mengingat ucapan Nara dan ciuman yang tadi dia rasakan.
"Entah kenapa aku merasa pernah merasakan sentuhan bibir itu? Apa benar Nara adalah istriku? Tapi kenapa nenek tidak pernah mengatakan apa-apa soal Nara? Apa wanita itu hanya berbohong?"
Banyak pertanyaan di benak Jaden. Dia sebenarnya tidak mau percaya pada Nara, tapi di dalam hatinya dia merasakan kejujuran dari setiap kata Nara.
Jaden melangkah pergi dari sana untuk menemui pria yang akan dia jadikan samsak hidup. Apa lagi saat ini Jaden butuh untuk melampiaskan kekesalannya.
Jaden menemui pria itu di sebuah tempat tersembunyi dan gelap agak jauh dari rumah utama.
"Tuan, dia mengatakan jika ini semua adalah perbuatannya sendiri dan tidak ada orang lain di belakangnya," terang pengawal Jaden.
"Dan kamu percaya? Bodoh!" Jaden berjalan menemui pria yang sedang duduk dengan tangan terikat dan mukanya sudah tampak lebam dan ada darah pada tepi bibir dan dahinya.
"Lepaskan pria itu," titah Jaden.
Pria itu dilepaskan dan Jaden menyuruhnya berjalan mendekat padanya.
"Aku sudah mengatakan semua jika aku hanya bekerja sendiri."
Jaden mencengkeram kra baju pria itu dengan erat. Tangan Jaden sudah terangkat dan mengepal erat untuk memukul wajah pria itu, tapi bayangan wajah Nara yang menyuruhnya untuk tidak berbuat kejam melintas di depan Jaden.
Jaden mengurungkan niatnya. "Aku akam melepaskan kamu dan menjamin keselamatan kamu jika kamu mengatakan siapa yang menyuruhmu mengambil lahan bisnis milikku."
Pria itu agak kaget dengan ucapan Jaden. Jaden biasanya terkenal kejam tidak ada ampun, kenapa malah hari ini memberikan seseorang kesempatan untuk bebas?
"Aku mengatakan akan tetap mati. Tidak mengatakan pun akan tetap mati."
"Pemikiran yang bagus, tapi kali ini aku memberi kamu kesempatan untuk hidup. Pegang kata-kataku. Bahkan aku akan melindungi kamu."
__ADS_1