
Nara tidak dapat mengeluarkan air matanya padahal dia ingin sekali menangis, tapi di depan Jaden justru air mata Nara seperti tertahan.
"Apa kamu bilang? Aku di jual oleh paman Benu?"
Jaden menerbitkan senyumnya yang sama sekali bukan senyuman simpatik. "Tentu saja kamu sudah di jual oleh paman kamu yang brengsek itu padaku untuk menebus semua hutang-hutangnya yang sangat banyak."
"Pamanku mempunyai banyak hutang? Untuk apa? Padahal selama ini juga aku tidak pernah diberi uang jajan yang cukup, bahkan uang sekolahku juga beberapa bulan tidak di bayar?"
"Si brengsek itu suka bermain judi di tempatku dan dia sering sekali kalah. Dia meminjam banyak uangku dan karena tidak bisa membayarnya, kamu yang dijual untuk membayar hutangnya."
Nara terdiam sejenak di tempatnya. Dia benar-benar tidak dapat percaya dengan semua ini. "Kenapa dia tidak menjual anaknya saja, kenapa harus aku?" gerutu Nara.
"Mungkin kamu menjadi beban untuknya karena itu dia menjual kamu." Jaden menjauh dari Nara untuk mengambil minuman.
__ADS_1
"Memangnya aku berguna untuk kamu? Tolong lepaskan aku. Aku berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun tentang penculikan aku ini." Nara menatap pada Jaden yang malah berdiri dengan tangan memegang gelas minuman.
"Melepaskan kamu? Kamu pikir aku bodoh? Aku akan memanfaatkan kamu untuk mendapatkan uangku kembali."
"Memangnya, kamu mau aku berbuat apa? Apa nanti, kamu mau menyuruhku bekerja yang dapat menghasilkan uang untuk kamu?"
Jaden terdiam dan sekali lagi memperhatikan Nara dari atas sampai bawah. Nara yang sadar diperhatikan sekali lagi mengeratkan tangannya menutupi tubuhnya.
"Aku tau supaya kamu dapat menghasilkan uang dengan cepat untukku. Aku akan menjadikan kamu seorang penari di salah satu klub malam milikku. Tubuh kamu sangat bagus dan pasti akan dapat mendatangkan banyak uang untukku."
"Diam!"
"Tolong, aku tidak mau menjadi wanita malam, aku tidak mau, Tuan. Tolong lepaskan saja aku." Nara seketika menangis ketakutan, dia sudah membayangkan hal yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Kamu kira siapa kamu? Kamu sudah tidak bisa menentukan hidup kamu karena hidup kamu adalah milikku, Nara," Jaden menekankan kata-katanya.
"Aku tidak mau... aku tidak mau!" Nara seketika kembali mencari pintu kamar Jaden. Dia ingin berusaha sekali lagi kabur dari rumah itu. Nara berlari seketika menuju pintu, tapi dengan cepat langkah Jaden yang lebar langsung menangkap tubuh Nara.
"Lepaskan! Tolong lepaskan aku?" Nara mencoba berontak dalam dekapan Jaden.
"Gadis bodoh! Kamu lupa ini rumah siapa? Kamu kira dapat berbuat sesuka kamu di sini?" Jaden dengan cepat membopong tubuh Nara dan dengan kasar melemparkan tubuh Nara di atas ranjang besarnya. Jaden langsung menindih tubuh Nara yang terlihat kecil di bawahnya.
"Kamu mau apa? Lepaskan atau aku akan berteriak minta tolong!"
Tangan Nara mencoba mendorong tubuh Jaden, tapi dengan cepat Jaden langsung menahan kedua tangan Nara dan menaruhnya di atas kepala Nara. Kedua mata itu saling menatap dengan tanpa ada suara.
Entah kenapa, Nara tampak terhipnotis dengan manik mata coklat milik pria yang sedang berada di atas tubuhnya. Begitupun dengan Jaden yang entah kenapa saat melihat wajah Nara dari jarak sangat dekat seperti itu membuat dirinya lebih tenang.
__ADS_1
Tidak lama terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang dari luar. Jaden dan Nara langsung tersadar dari lamunan masing-masing.