Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Banyak Kemiripan


__ADS_3

V memesankan mereka makan siang dan ternyata mereka berdua sama-sama menyukai nasi goreng dengan telur sangat matang.


"Hari ini aku yang mentraktir kalian."


"Jangan begitu V. Kita bayar sendiri saja."


"Tidak apa-apa. Kebetulan hari ini adalah hari ulang tahunku dan anggap saja aku merayakan dengan kalian berdua."


"Jadi hari ini ulang tahun kamu?" V mengangguk. "Selamat ulang tahun ya. Semoga kamu mencapai semua yang kamu cita-citakan."


"Iya, semoga kamu juga panjang umur, sehat selalu dan bahagia."


"Terima kasih atas doa kalian berdua. Aku juga berharap kalian mencapai cita-cita kalian berdua."


"Terima kasih, V. V, kenapa tidak kamu rayakan dengan teman-teman kamu?"


"Aku sebenarnya agak susah jika berteman dengan seseorang. Aku di kampusku tidak ada teman sekolahku dan itu yang membuat aku susah akrab dengan lingkungan baru walaupun aku sudah beberapa bulan di sana."


"Tapi kenapa dengan kita tidak?" tanya Denna.


"Mungkin karena kalian memiliki kesamaan, Denna. Kamu juga tidak mudah akrab dengan orang baru."


"Oh ya? Kamu juga begitu, Denna?"


Denna menggedikkan bahunya. "Aku sebenarnya tidak merasa begitu, hanya saja aku memang tidak punya banyak teman karena aku anaknya memang suka sendiri atau hanya dengan keluargaku."


"Kalian berdua cocok kalau jadi sepasang kekasih," celetuk Diaz.


"Diaz!" Denna melotot pada Denna.


"Kenapa memangnya? Kalian sama-sama jomlo, atau V, kamu sudah punya pacar ya?"


"Pacar? Aku tidak punya, bahkan aku belum pernah pacaran."


"Serius?" Diaz bertanya dengan wajah terkejut.


"Serius? Aku dari dulu tidak pernah punya pikiran untuk berpacaran karena aku hanya ingin sekolah yang tinggi untuk meraih cita-citaku. Memiliki kekasih saat sekolah hanya akan mengganggu saja nantinya."


"Kan, kalian itu cocok."


"Apa sih, Diaz?" Denna memutar bola matanya jengah.


"Benarkan apa kataku? Kamu juga tidak pernah pacaran karena yang kamu pikirkan hanya sekolah dan biasa menjadi dokter."


"Eh! Maaf, aku harus kembali dulu. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi bicaranya. Senang berkenalan dengan kalian." V beranjak dari tempatnya dan pergi dari sana.


"Denna." Diaz menyenggol lengan tangan Denna membuat Denna yang sedang menghabiskan minumannya kaget.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Dia tampan juga ya?"


"Iya. Diaz, kamu itu mau menikah. Kamu jangan selingkuh dari Mas Rio. Bisa-bisa digetok kepala kamu."


"Siapa yang mau selingkuh? Aku mau menikah dengan Mas Rio. Aku tidak mungkin selingkuh dengan orang lain."


"Lalu?"


"Maksudku kamu cocok kalau sama dia."


"Kenapa sukanya menjodohkan orang. Aku dan V baru berkenalan dan dia sepertinya bisa jadi teman yang baik."


"Iya-iya, aku tau kalau kamu cintanya sama Dimas, tapi gak tau Dimasnya bagaimana?"


Denna langsung melihat pada Diaz. "Kemarin dia cerita soal mantannya, mereka putus karena orang tua kekasihnya itu tidak menyukainya, dan pas aku bertanya apa dia masih mencintai mantan kekasihnya, dia tidak menjawab."


"Wah! Jangan-jangan dia masih mengharapkan dia walaupun dia memperlakukan kamu dengan manis."


Denna terdiam sejenak untuk mencerna kata-kata sahabatnya. "Mungkin memang aku saja yang terlalu berharap dengannya ya, Diaz? Aku memalukan sekali."


"Kamu jatuh cinta beneran sama Dimas?"


"Sepertinya, Diaz, tapi Kalau Dimas memang tidak ada perasaan padaku, aku tidak dapat memaksanya."


"Cari saja yang baik dan tampan seperti V." Diaz terkekeh.


***


Kuliah Denna sudah selesai, dia masih menunggu Dimas di tempat parkir.


"Denna kamu belum pulang?"


"Aku sedang menunggu mobilku datang. Kamu pulang saja dulu."


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu karena aku mau membeli sesuatu di pasar tradisional sebelum tutup."


"Pasar tradisional? Kamu mau membeli apa?"


"Hari ini aku mau membuat makanan kesukaan kakakku untuk merayakan ulang tahunku seperti setiap tahun yang selalu kami lakukan."


"Kamu memasak?" Denna agak terkejut.


"Iya, aku suka sekali membuat masakan sejak kecil."


"Wow! Kamu laki-laki yang hebat. Calon dokter dan pandai memasak."


"Biasa saja. Kapan-kapan kalau mau aku akan mengundang kamu dan Diaz ke rumahku untuk mencicipi masakan aku. Bagaimana?"


"Boleh saja."

__ADS_1


"Kalau begitu aku permisi dulu. Bye, Denna." V memacu motornya pergi dari sana.


Tidak lama Dimas datang dari arah berlawanan. "Maaf, apa Nona sudah menunggu saya lama?"


"Tidak juga Dimas. Kamu dari mana? Apa kamu sedang ada urusan penting?"


Dimas menggeleng dan mereka pergi dari sana. "Dimas, kamu sudah makan siang tadi"


"Saya nanti makan di rumah saja, Nona."


"Oh ya sudah kalau begitu."


"Memangnya Nona Denna mau makan? Saya akan antarkan?"


"Aku sudah makan siang tadi di kantin. Kamu harusnya jangan telat makan biar tidak sampai sakit."


"Iya, Nona Dokter." Dimas tersenyum. Pun dengan Denna.


Denna menyuruh Dimas untuk pulang saja karena dia sudah tidak ada keperluan di luar rumah. Dimas sangat senang karena dia bisa membantu adiknya membuat masakan untuk merayakan ulang tahun adiknya.


Dimas yang baru datang mencium aroma masakan yang sangat enak dan lezat. "Selamat ulang tahun, V. Ini hadiah untuk kamu." Dimas langsung memberikan hadiah yang tadi pagi dia beli setelah mengantarkan Denna ke rumah sakit.


"Aku, kan, sudah bilang, Kak. Kakak tidak perlu memberikan aku hadiah apa-apa karena aku lebih senang Kak Dimas menyimpan uang Kakak saja."


"Tidak apa-apa.Tahun lalu Kakak tidak membelikan kamu hadiah apa-apa."


"Aku tidak minta hadiah, Kak. Bisa merayakan ulang tahun dengan Kakak saja sudah senang. Apa lagi jika ada ibu, pasti akan lebih menyenangkan." V menundukkan kepalanya.


Dimas mendekat dan menarik tengkuk adiknya menempelkan dahi V pada pundaknya. "Tidak perlu kamu pikirkan tentang ibu kita. Beliau sudah bahagia di sana."


"Iya. Kak, apa aku boleh membuka kadonya?"


"Tentu saja kamu boleh membuka kadonya."


V membuka kado pemberian kakaknya dan dia amat terkejut melihat sebuah jam tangan yang selama ini dia inginkan.


"Kak, ini bukannya mahal harganya?"


"Kakak sudah menabung untuk membeli jam itu. Apa kamu suka?"


"Sangat. Terima kasih, Kak." Dua saudara itu saling berpelukan. "Kak, aku berjanji akan menjadi seorang dokter yang sukses dan nantinya aku akan membuat Kak Dimas bangga dan membahagiakan Kakak."


"Jangan terlalu memikirkan hal itu. Aku tidak akan menuntut apa-apa dari kamu. Aku hanya ingin kamu bisa sukses dan janjiku pada mendiang ibu kita dapat aku laksanakan."


Malam itu dua pria tampan itu tampak sangat bahagia merayakan ulang tahun walaupun sederhana.


"Mama sama Ayah berapa hari berada di San Fransisco?"


"Mungkin sekitar satu minggu atau bisa lebih sampai pekerjaan ayah kamu selesai."

__ADS_1


__ADS_2