
Jaden masih melihat istrinya yang sedang mengatur napasnya karena kemarahannya tadi.
"Sayang, aku mau pulang saja, aku sudah tidak mood untuk makan malam lagi."
"Baiklah, sesuai keinginan kamu, Ratuku yang galak." Jaden terkekeh dan pergi dari sana menuju tempat untuk mengurus kekacauan barusan.
Setelah urusannya selesai. Pria itu menggandeng tangan Nara dan mengajaknya pergi dari sana.
Di dalam mobil Nara tampak agak mulai tenang. Jaden belum menyalakan mesin mobilnya menunggu istrinya menenangkan hatinya dulu.
"Kamu tidak apa-apa? Kita pulang atau ke tempat lain?"
"Kita pulang saja, tapi sebelum itu aku mau tanya sesuatu sama kamu."
"Tanya saja, apa yang mau kamu tanyakan?"
"Apa perbuatanku tadi akan menimbulkan masalah buat kamu?"
"Tentu saja, lihat saja wajah Damian yang sangat marah tadi."
"Lalu, bagaimana? Aku sebenarnya tidak mau mencari masalah, tapi saat melihat si rubah licik itu menggoda kamu, entah kenapa tiba-tiba darahku mendidih. Dan kamu tau? Aku rasanya puas sekali sudah menyiramnya seperti itu."
"Aku bisa melihatnya. Sepertinya itu keinginan kamu dari dulu."
"Iya, saat melihatnya menggoda kamu aku benar-benar kesal. Dia itu tidak tau malu sama sekali, padahal dia wanita berkelas daripada aku yang hanya seorang pelayan, tapi tingkah lakunya dia jauh lebih buruk."
"Aku juga tidak menyangka jika dulu aku bisa menyukai wanita seperti dia yang nyatanya tidak seperti apa yang aku pikirkan."
Nara langsung melirik pada suaminya. "Masih mengingat saat kalian bertemu dan saling menyukai dulu?" Nara yang tadi mukanya tampak tenang sekarang berubah cemberut lagi.
"Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya Nara. Aku cuma mencintai kamu." Jaden mengecup lembut bibir Nara.
"Tapi aku akui, dia memang cantik dan pandai membuat seorang pria tertarik dengan kecantikannya, bahkan adik kamu juga menyukainya."
"Sudahlah, kita tidak perlu membahas ini lagi. Sebaiknya kita pulang saja dan kamu bisa memenuhi janji yang kamu sudah ucapkan padaku."
Nara melirik pada Jaden. "Masih ingat saja dengan hal itu. Aku kira kamu sudah lupa."
"Tidak akan lupa, Sayang." Jaden menunjukkan smriknya dan dia menjalankan mobilnya.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit dan mereka sampai di rumah nenek.
"Kalian kok sudah pulang? Cepat sekali makan malamnya?" tanya Nenek yang kebetulan baru saja mengantar temannya pulang.
__ADS_1
"Teman Nenek sudah pulang?"
"Iya, dia ada urusan mendadak dengan keluarganya. Kamu sendiri sama Nara kenapa sudah selesai makan malamnya?"
"Aku minta pulang karena ada siluman rubah yang tadi mengganggu kami di sana, Nek."
"Siluman rubah? Siapa yang kamu maksud siluman rubah, Sayang?" tanya nenek dengan muka penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan mantan kekasih cucu kesayangan Nenek ini." Nara melihat sebal pada Jaden.
"Aku hanya berkencan biasa sama dia belum sampai serius," jawab Jaden santai.
"Apa wanita yang waktu di pesta kamu itu? Kalian bertemu dengannya?"
"Iya, dan dia berusaha merayu suamiku dengan memainkan jemari lentiknya menelusuri tubuh suamiku. Aku marah dan aku siram sama memakai minumannya yang dia bawakan untuk suamiku."
Kedua mata wanita paruh baya itu mendelik mendengar cerita Nara. "Kamu melawannya?"
"Iya, Nek, apa aku harus mendiamkannya dan melihat dia menggoda suamiku? Bisa-bisa suamiku nanti malah tergoda olehnya."
"Aku tidak tertarik padanya, Nara."
"Kalau tidak akan tertarik, kenapa tadi diam saja?"
Blup!
Tiba-tiba Jaden menggendong tubuh Nara ala karung beras.
"Sayang! Apa yang kamu lakukan?" teriak Nara mencoba berontak.
Nenek yang melihat tampak terkejut. "Memangnya Nara janji apa sama kamu?"
"Janji mau memberikan Nenek seorang cucu. Kami tidur dulu ya, Nek. Daripada nanti aku kena salah terus."
"Jaden turunkan aku! Kenapa membuat aku malu terus!" Nara mencoba memberontak, tapi sia-sia.
Jaden membawa Nara pergi ke kamar mereka, dan dengan satu tendangan kakinya dia menutup pintu kamarnya dan tidak lupa menguncinya.
Jaden membaringkan Nara di atas ranjang empuk merek. "Aku mau berganti baju dulu. Baju ini sangat tidak enak di buat tidur."
Nara yang akan bangkit malah ditahan oleh Jaden. Pria itu dengan cepat mengendorkan dasinya dan membuka kemeja miliknya.
"Kamu kenapa terburu-buru sekali?"
__ADS_1
Jaden malah menyobek dress milik Nara dengan gampangnya. "Sayang, kenapa bajuku kamu robek?"
"Besok akan aku belikan lebih banyak."
"Keterlaluan!"
"Keterlaluan mana sama kamu yang membuat aku dari tadi menahan sakit kepala ini?"
Nara tau maksud suaminya. "Aku, kan, memang sengaja ingin mengerjai kamu." Nara tersenyum. Tidak dengan Jaden. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Jaden segera melancarkan aksinya pada Nara.
Di dalam kamar yang cukup besar itu hanya terdengar erangan dua orang yang sama-sama saling menginginkan, dan kadang terdengar kekehan Nara yang seperti merasakan kegelian.
"Sayang, apa menurut kamu kita harus membantu Leo dan Renata?" tanya pria yang terlihat bagian atasnya yang polos dan dia sedang memainkan jarinya menggulung-gulung rambut Nara.
"Tidak perlu! Biarkan Mas Leo berusaha sendiri karena aku yakin jika Mas Leo pasti bisa melakukannya."
"Ya sudah, aku ikuti saja apa yang kamu katakan."
Malam itu Jaden dan Nara dapat tidur dengan nyenyak. Dan keesokan harinya Jaden mulai mengurusi kantornya.
Nara melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Memasak, membantu membereskan kamar miliknya dan membantu nenek berkebun. Nenek Miranti pun sangat senang mendapat teman di rumah. Dia tidak lagi kesepian di rumahnya.
"Aku ingin bertemu dengan Jaden Luther!" bentak seorang wanita marah-marah di depan pintu ruangan kantor Jaden.
"Tuan ada keributan di luar. Mauren?" Leo dapat melihat dari jendela ruangan Jaden.
"Bawa dia masuk, Leo. Wanita itu mau apa sebenarnya?" Jaden menahan kesal.
Leo menyuruh sekretaris Jaden membiarkan Mauren masuk ke ruangannya.
Wanita yang suka berpenampilan **** itu melangkah dengan cepat ke dalam ruangan Jaden.
"Jaden Luther, aku ingin bicara empat mata sama kamu." Tatapan Mauren melirik tajam pada Leo.
"Nona Mauren sebaiknya Anda tidak boleh berdua hanya dengan Tuan Jaden karena Tuan Jaden sudah memiliki istri."
"Leo, apa aku bertanya sama kamu?"
"Benar apa yang dikatakan oleh Leo. Kalau kamu mau mengatakan sesuatu, katakan saja di sini. Leo adalah orang kepercayaanku."
"Kalau begitu aku akan menunggu kamu sampai kamu sendirian di sini." Mauren malah duduk santai sambil mengangkat kakinya bertumpu dengan kaki satunya. Dia sengaja memperlihatkan paha indahnya dari mini dress yang dia kenakan.
Jaden dan Leo saling melihat. Kemudian Jaden yang tidak mau Mauren kelamaan di sana dia akhirnya menyuruh Leo untuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Mauren tersenyum melihat Leo yang sudah tidak ada di ruangan Jaden. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Jaden Luther.