
Mas Leo tercengang melihat Nara malah membawa pistol dan berdiri di belakang Leo.
"Nara, kamu kenapa di sini? Sebaiknya kamu bersembunyi saja dan biar aku yang mengurusnya."
"Aku bukan pengecut, Mas Leo. Mas Leo tenang saja karena aku sudah belajar memegang senjata bahkan menggunakannya."
Tidak lama beberapa orang datang dan menghampiri Nara dan Leo yang sudah siap dengan senjatanya.
"Nyonya Jaden Luther, sebaiknya anda ikut saya secara baik-baik agar Nyonya tidak terluka. Apa lagi Nyonya sedang hamil, pasti tidak mau kalau bayi Anda kenapa-napa."
Nara agak terkejut mendengar apa yang baru dikatakan oleh pria yang sepertinya menjadi kepala para penjahat yang masuk ke rumah itu.
"Kalian sebenarnya mau apa? Aku yakin jika kalian tidak ingin merampok tetapi ada hal lain yang kalian inginkan," ucap Leo.
"Kami hanya ingin nyonya Nara ikut dengan kami untuk kebaikan Nyonya sendiri."
"Jangan harap bisa membawa Nara." Leo menodongkan senjata pada wajah pria itu. Pria itu pun menodongkan senjata pada Leo.
Pria itu menunjukkan wajah songongnya. "Leo, sebaiknya kamu lihat siapa saja yang ada di sini. Kalian hanya dua orang dan aku beserta anak buahku ada banyak. Bagaimanapun kalian berdua melawan tidak akan bisa mengalahkan kami."
"Kita bertarung satu lawan satu. Siapa yang kalah harus menuruti keinginan yang menang." Leo mencoba menantang pria itu.
Pria itu melihat ke arah jarum jam seolah dia tidak memiliki waktu mengikuti permintaan Leo. Leo sengaja mengulur waktu hingga Tuan Jaden datang.
Mereka tidak tau jika tangan Leo satunya menekan nomor memanggil Jaden. "Kenapa diam? Ayo kita bertarung satu lawan satu. Apa kamu takut?"
Jaden yang sedang dalam perjalanan mengangkat panggilan Leo dan dapat mendengar apa yang sedang terjadi di sana.
"Sayangnya aku tidak ada waktu menerima tantangan kamu." Pria itu memberi kode dan beberapa orang mulai maju. Nara mulai menarik pelatuk pistolnya ke arah lain. Nara bukan orang yang sering membunuh, jadi dia tidak bisa begitu saja menembak orang walaupun orang itu ingin menyakitinya.
Semua terkejut dan hal itu di manfaatkan Leo untuk membawa Nara pergi dari sana dan menembaki satu persatu para penjahat itu.
"Nara masuk ke dalam lemari baju Tuan muda karena di sana ada pintu rahasia yang bisa membawa Nara terhubung di luar.
"Mas Leo, Mas Leo bagaimana?"
__ADS_1
"Kamu jangan memikirkan aku. Tuan Jaden sudah aku hubungi dan akan segera kemari."
"Tapi aku tidak mau meninggalkan Mas Leo."
"Nara pergi! Pikirkan soal anak kamu yang ada di dalam kandungan."
Nara bingung. Dia bukan penakut yang memikirkan dirinya sendiri, tapi dia harus memikirkan juga bayi dalam kandungannya dan perjuangan Mas Leo.
Nara masuk ke dalam sana dan berlari menuju lorong yang ada di sana. Namun, langkahnya terhenti di tengah lorong saat mendengar suara tembakan dan teriakan Mas Leo yang menyuruh Nara lari.
"Mas Leo." Nara menangis membayangkan hal buruk yang menimpa Mas Leo.
Nara kembali menghapus air matanya dan berlari mencari pintu agar dia bisa pergi mencari bantuan.
"Nyonya Luther! Apa kamu tega membiarkan anak buah kesayangan suamimu ini mati? Kalau kamu memang tega, itu artinya kamu sangat kejam."
Para penjahat itu membawa Leo yang bersimbah darah dan tidak berdaya karena ada peluru yang tertembus di pundaknya. Penjahat itu membiarkan Leo terus mengeluarkan darah segar dari pundaknya yang terluka.
Nara yang tidak ingin melihat mas Leo terluka, dia terpaksa mau kembali dan menyerahkan dirinya pada para penjahat itu.
"Nara, kamu kenapa malah kembali lagi?" Leo berkata dengan terbata.
"Aku minta maaf sama Mas Leo karena tidak bisa menuruti apa kata Mas Leo. Aku tidak mau orang lain sampai terluka karena mengorbankan dirinya untukku."
"Lepaskan pria itu dan bawa pergi wanita ini!"
Mereka segera bergegas pergi dari sana dengan membawa Nara. Leo yang tangannya sudah dilepaskan berusaha berteriak memanggil nama Nara.
"Jangan bawa pergi Nara. Dia sedang hamil! Kalian jangan kejam padanya ...!"
Teriakan Leo sama sekali tidak di pedulikan oleh mereka.
Saat memasuki mobil terdengar suara tembakan dari arah jauh dan salah satu penjaga yang memegang Nara tewas karena tembakan dari Jaden.
"Jaden!" teriak Nara melihat suaminya yang berjalan mendekat dengan menembaki satu persatu penjahat itu.
__ADS_1
Pria yang menjadi kepala pengawal itu dengan cepat menarik Nara dan masuk ke dalam mobil. "Urus dia dan aku akan membawa wanita ini pergi."
Jaden terlibat adegan saling tembak menembak dan mencoba mengejar mobil pria yang membawa Nara. Kekuatan Jaden kalah banyak di banding banyak penjahat yang datang untuk menculik Nara.
Jaden melempar pistolnya dan masuk ke dalam mobil untuk mengejar Nara.
Sekarang di jalanan yang banyak sekali pohon tumbuh itu menjadi medan saling mengejar antara beberapa mobil si penjahat dengan mobil Jaden.
"Kalian tidak akan aku biarkan membawa istriku!" Jaden tampak marah dan menancap gas dengan kecepatan tinggi untuk menyusul mobil yang membawa Nara.
Sebelumnya di apartemen Jacob. Jacob agak terkejut saat membuka pintu dan mendapati kakaknya berada di sana.
"Jaden, ada apa kamu ke sini?" tanya Jacob santai. Jacob orang yang lihat memainkan ekspresi wajahnya sehingga orang akan susah untuk menebak apa yang sebenarnya dia pikirkan. Atau bahkan apa yang dia pikirkan berbeda dengan apa yang ada pada wajahnya.
"Boleh aku masuk dan bicara sebentar dengan kamu?"
"Tentu saja kamu boleh masuk. Kak, bagaimana keadaan kamu?"
"Aku baik, bahkan sangat baik karena aku bisa berkumpul lagi dengan Istriku."
"Nara maksud kamu? Jadi kamu sudah ingat pada Nara?"
Jaden terdiam sejenak. "Aku memang belum ingat tentang pernikahan aku dan Nara, tapi hatiku mengatakan jika memang aku memiliki kedekatan yang kuat dengan Nara."
"Tentu saja, kalian sangat mencintai satu sama lain. Oh ya, Kak, lalu, apa maksud kamu ke sini dan dari mana kamu tau aku di sini? Dahal aku mau memberi kejutan dengan mengatakan aku membeli apartemen di sini supaya aku bisa melihat Nenek dan kamu serta Nara nantinya."
"Jadi kamu baru membeli apartemen ini? Lalu ini apa? Bukankah kamu sudah membeli apartemen ini dari beberapa bulan yang lalu dan kamu sering ke sini?"
Wajah Jacob seketika terlihat terdiam, tapi ekspresinya tampak dingin.
"Apa kamu memata-matai aku? Untuk apa?"
"Aku sebenarnya tidak ingin memata-matai kamu, jika kamu tidak ada pada saat aku mengalami kecelakaan waktu itu."
"Kecelakaan waktu itu? Maksud kamu?"
__ADS_1