
Nara menangis memeluk selimutnya. "Lalu, siapa lagi orang yang menginginkan kematian Mona selain kamu? Aku tau siapa kamu, kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan, Tuan JL."
Jaden agak kaget mendengar Nara kembali memanggilnya Tuan JL. "Kita tunggu saja sampai nanti kita pulang. Aku tidak membunuh Mona." Jaden beranjak pergi dari kamar mereka meninggalkan Nara sendirian yang sedang menangis. Keheningan kembali menyelimuti di dalam pesawat itu.
Akhirnya pesawat mereka landing dan sebuah mobil mewah sudah menunggu mereka di sana." Tuan, kita harus segera pergi ke kantor polisi untuk segera memberi keterangan."
"Nara." Nenek yang ikut ke sana juga langsung memeluk Nara. Mereka saling berpelukan.
"Nek, bagaimana keadaan Nenek?"
"Nenek baik Nara. Kamu sendiri, Nak?"
"Aku baik, Nek. Nek, aku mau ikut ke kantor polisi juga bersama dengan kalian."
"Sebaiknya kalian pulang saja ke rumah, biar aku dan Leo mengurus semua ini."
"Aku mau ikut. Aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi." Nara menatap Jaden.
Jaden tidak mau menambah masalah dengan istrinya itu. Dia akhirnya mengajak juga Nara dan Nenek ke sana. Di dalam mobil Nara bersandar pada pundak nenek dan menangis. Jaden dan Leo tampak duduk di depan.
"Apa saja yang dia katakan pada petugas kepolisian, Leo?"
"Dia mengatakan jika dia disuruh menghabisi Mona atas perintah Tuan Jaden Luther."
Nara yang mendengarnya langsung beranjak dari pundak nenek Miranti. "Leo, apa lagi yang dia katakan?" Nara tiba-tiba bertanya pada Leo.
Leo yang mendapat pertanyaan dari Nara tampak bingung, dia melihat pada Tuan Jaden. Jaden seolah memberi sinyal bahwa Leo boleh menjawab pertanyaan Nara.
__ADS_1
"Hanya itu yang dia katakan, Nara. Nara percayalah jika bukan Tuan Jaden pelakunya. Aku pasti mengetahui jika Tuan Jaden yang melakukannya. Tuan Jaden memang sempat menyuruh mengawasi Mona agar tidak mendekat pada kamu lagi. Oleh karena itu Tuan Jaden menjauhkan kamu dari sini. Hanya itu saja."
Nara terdiam ditempatnya. Tidak lama mereka sampai di kantor kepolisian dan Jaden pun bertemu dengan paman dan bibi Nara yang ternyata juga ada di sana.
"Dasar pembunuh! Kenapa kamu tega membunuh putriku? Apa salah dia sama kamu?" Soraya tampak histeris ingin menyerang Jaden, tapi dihalangi oleh beberapa petugas di sana.
"Bi, aku turut berduka cita atas meninggalnya Mona," ucap Nara yang ingin mendekati bibirnya, tapi dihalangi oleh suaminya karena Jaden tidak mau Nara disakiti oleh bibinya yang kehilangan kendali.
"Aku bukan pembunuh anakmu, mungkin saja putrimu yang jahat itu memiliki banyak musuh di luar sana yang menaruh dendam padanya." Jaden seolah tidak takut dengan bibi Nara.
"Putriku tidak mempunyai musuh siapapun, hanya kamu yang memiliki dendam padanya. Kamu marah karena Mona sudah menyebabkan Nara keguguran. Kamu pasti pembunuh Mona."
"Jaga bicara kamu!"
"Kamu akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang kamu sayangi, Jaden Luther! Aku akan membunuh orang kamu cintai!"
Setelah mengucapkan hal itu tiba-tiba Benu mengeluarkan sebuah pisau dari sakunya dan hendak menusukkan pada Nara, tapi dengan cepat Jaden menangkap pisau itu dan menahannya dengan tangannya.
Jaden masih menahan pisau di tangannya dengan tatap tajam pada Benu. "Tuan, lepaskan," ucap Leo cemas Karena melihat darah keluar dari tangan Jaden.
"Jangan coba-coba melukai istriku atau kamu akan menyesal sudah melakukan hal itu padanya." Jaden menendang dengan keras hingga tubuh Benu terpental.
Petugas yang di sana marah karena mereka membuat keributan. Benu pun diamankan oleh petugas dan tangan Jaden diobati oleh petugas kesehatan yang ada di sana. Nara menemani suaminya di sana. Dia tampak meneteskan air matanya melihat tangan Jaden yang berdarah seperti itu.
Nara kemudian memeluk suaminya di sana. Pun dengan Jaden, dia memeluk istrinya dengan erat dan mengecup lembut kening Nara.
"Aku tidak mengizinkan kamu untuk melukai Mona karena inilah yang aku takutkan. Aku hanya ingin hidup tenang dan tidak ada rasa takut bersama kamu."
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apa-apa, Nara, dan aku akan membuktikan sama kamu."
Setelah selesai tangan Jaden diperban, diadiajak menemui orang yang sudah menabrak Mona hingga meninggal.
"Halo, Tuan Jaden," sapa seorang pria dengan baju serba hitam dan dia memakai kacamata putih. Rambut pelontos dan wajah sayunya membuat dia tampak seperti orang yang tidak mungkin menjadi pembunuh bayaran.
"Siapa kamu? Dan siapa yang sudah menyuruh kamu menuduhku yang menyuruh kamu melakukan semua ini?"
Pria itu tertawa mendengar pertanyaan Jaden. "Tuan jangan pura pura tidak mengenaliku. Bukankah Tuan Jaden sendiri yang menyuruhku untuk menghabisi nyawa gadis itu dan membuatnya seolah-olah dia korban tabrak lari? Aku sudah melakukan tugasku, tapi sayang aku gagal kabur dari Kamera CCTV di sana."
Jaden mendekatkan wajahnya pada pria itu." Jangan mencoba mengajakku bermain permainan seperti ini karena aku tidak suka bermain dengan orang yang tidak mengenalku. Akan tidak baik hasilnya nanti," Jaden menekankan ucapannya.
Wajah pria itu seketika berubah agak takut melihat wajah tersenyum Jaden. "Tuan Jaden, jangan bunuh aku. Aku hanya menjalankan apa yang Tuan perintahkan. Tuan mengatakan akan membawa istri Tuan berbulan madu dan aku dapat melancarkan aksiku nantinya karena istri Tuan menjauh dari negara ini."
Saat mendengar hal itu, Nara melepaskan pegangan tangannya pada tubuh Jaden yang tadi dia mencoba menahan Jaden agar tidak marah.
"Brengsek!" Jaden yang marah seketika mencengkeram kta baju pria pelontos itu dan menatapnya tajam. "Kamu benar-benar ingin mencari masalah denganku. Lihat saja, aku tidak akan memaafkan kamu," ancam Jaden.
"Tuan Jaden, jangan pernah mengancam seseorang di sini." Salah satu petugas marah dengan sikap Jaden. "Sebaiknya sekarang Tuan Jaden ikut denganku ke ruang pemeriksaan."
"Tuan Jaden, saya akan segera menghubungi seseorang untuk menyelesaikan masalah ini. Tuan Jaden tenang saja."
"Iya, Leo. Leo, cari tau juga siapa pria yang sudah menuduhku ini. Aku benar-benar ingin tau siapa yang mencari masalah denganku," Mereka berbicara lirih.
Jaden dibawa ke ruang pemeriksaan dan Nara serta nenek masih menunggu di luar. Nara tampak cemas dengan menautkan jari jemarinya untuk mengurangi kecemasannya.
"Nek, kenapa yang dikatakan pria itu seolah semua yang terjadi memang atas perintah dari suamiku. Dia tau aku pergi berbulan madu dan dia melancarkan aksinya di saat itu. Pikiranku benar-benar dibuat bingung aku harus percaya dengan siapa, Nek?" Nara benar-benar kesal pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Nara." Tangan wanita cantik itu mengusap pipi Nara. "Apa yang dikatakan oleh hatimu?"
"Aku percaya dengan suamiku, Nek, walaupun banyak juga di dalam pikiranku meragukan dia. Nenek tau sendiri kenapa ada sedikit keraguan. Aku juga merasa bersalah melihat wajah bibi dan pamanku tadi, Nek."