
Kedua kakak beradik itu saling memandang satu sama lain. Nara yang melihat hal itu jadi bingung dan takut.
"Tuan JL, aku bukan barang yang bisa kamu ambil seenaknya. Jacob kita pergi saja dari sini." Tangan Nara memegang gagang kursi roda Jacob dan akan membawa Jacob pergi dari sana.
"Tunggu, Nara." Jacob memegang tangan Nara.
"Jacob, kita pergi saja dari sini."
"Nara, aku ingin kamu katakan siapa yang kamu cintai dan ingin bersamanya?" Nara melihat pada Jaden yang ada di depan Jacob.
"Jacob, aku sudah memilih untuk menerima cinta kamu. Aku mau bersama dengan kamu."
"Apa kamu mencintai Jacob?" tanya Jaden tegas menatap Nara tajam.
Nara tau jika Jaden sedang membuatnya dalam pilihan yang sulit. Jaden pasti tau jika Nara hanya mencintai dirinya makannya dia mencoba bertanya pada Nara hal yang dia sudah tau jawabannya.
"Jawab Kakakku, Nara. Jika kita sudah mengetahui jawabannya, kita berdua tidak akan saling bersaing seperti ini. Aku juga tidak mau bersaing dengan Kakakku sendiri. Kalau kamu masih mencintai Jaden dan ingin bersamanya aku tidak akan menghalangi kalian."
Nara bingung harus menjawab apa? Pandangan Nara seketika melihat ada pria yang waktu itu ada di acara bakti sosial yang Nara curigai sebagai pembunuh bayaran yang ayah Carlos katakan. Pria itu terus mengikuti Jaden. Nara sangat khawatir dengan keselamatan Jaden, dia tidak mau Jaden terluka. Apa lagi di sini Jaden tidak dalam pengawasan pengawalnya.
"Tuan JL, kamu sudah banyak menyakitiku. Aku sudah tidak ingin bersama dengan kamu. Cukup sudah rasa sakit yang aku rasakan selama ini. Aku ingin bersama dengan Jacob."
Deg!
Jantung Jaden rasanya ditikam oleh pisau yang sangat tajam dan tidak hanya ditikam, tapi juga di robek dengan sangat keras.
"Kakak dengar sendiri apa yang dikatakan oleh Nara? Kamu bisa pergi dari sini dan kamu tenang saja. Walaupun aku tidak bisa berjalan, aku akan melindungi Nara dan bayinya dengan nyawaku.
Jaden menggenggam tangannya erat. "Baiklah kalau itu sudah keputusan kamu. Aku akan meninggalkan Kanada dan semoga kalian hidup bahagia."
Deg!
Sekarang Nara yang hatinya seolah teriris sakit. Dia tidak ingin Jaden jauh darinya, tapi dengan begini Jaden akan selamat, setidaknya anaknya kelak dapat melihat ayahnya.
Jaden berjalan pergi dari sana. Nara hanya menatap nanar dari tempatnya. Nara berusaha agar air matanya tidak dilihat oleh Jacob.
__ADS_1
"Nara, aku benar-benar minta maaf sama kamu karena sudah mengajak kamu lari pagi. Padahal itu bisa membahayakan bayi dalam perutmu. Aku sungguh tidak tau akan hal itu. Nara, aku berjanji setelah ini aku akan belajar hal tentang menjaga wanita yang sedang hamil, jadi aku tidak akan melakukan kesalahan." Jacob memegang sekali lagi tangan Nara yang memegang pundaknya.
"Iya, aku percaya kamu calon ayah yang baik untuk bayiku."
Pagi itu Nara tidak melihat Jaden di meja makan. Kata mama Miranda Jaden pergi ke rumah Cathy. Bahkan sampai malam pun Jaden tidak kembali ke rumah. Liburan ini Nara menghabiskan waktu menemani Jacob terapi kakinya. Keadaan Jacob pun sudah lebih tenang dibanding dengan terapi waktu itu.
Jacob merasa dirinya akan lebih bersabar untuk kesembuhan kakinya dan dia percaya jika Nara akan setia menunggunya.
"Halo, Nek."
"Cucu nakal, kamu di mana saja? Kenapa tidak menghubungi nenek sama sekali. Jangan membuat orang cemas."
"Aku masih berada di Kanada untuk urusan acara amal dan bisnisku. Apa nenek baik-baik saja di sana?"
"Nenek tidak baik-baik saja. Nenek di sini kepikiran sama kamu, apa kamu di sana baik-baik saja? Kamu tidak ada masalah dengan Jacob, Kan?"
"Aku baik-baik saja dengan Jacob. Nek, mungkin aku besok akan kembali."
"Bersama dengan Nara?"
"Sendirian, Nek," ucap Jaden lirih
"Sudah, Nek, tapi--." Jaden terdiam sejenak.
"Jaden, ada apa? Kalau mereka belum tau, biar nenek yang memberitahu mereka. Nenek akan menghubungi mereka."
"Jangan, Nek. Ini urusanku dan nenek tidak perlu ikut campur, aku bisa menyelesaikan sendiri."
"Kalau begitu jelaskan dan bawa Nara kembali ke sini."
"Jacob dan Tuan Carlos sudah tau tetang aku dan Nara, hanya mama Miranda yang belum tau. Namun, masalahnya Nara yang tidak mau ikut denganku, dia lebih memilih Jacob."
"Apa? Tidak mungkin. Bukannya Nara sangat mencintai kamu, dia tidak mungkin lebih memilih Jacob kecuali kalau kamu menyakiti Nara lagi."
"Aku sudah memohon maaf pada Nara, dia memaafkan aku, tapi dia tidak mau kembali padaku."
__ADS_1
'Pasti ini ulah Carlos yang membuat gadis lugu itu lebih memilih Jacob putranya. Apa yang dia lakukan pada Nara?' Miranti ini sangat tau bagaimana sifat anaknya. Dia bisa melakukan apapun untuk putra kesayangannya.
"Nek, apa Nenek masih di sana?"
Seketika lamunan wanita paruh baya itu buyar. "Iya, nenek masih di sini."
"Nek, aku ingin bertanya sesuatu pada nenek."
"Tanya apa?"
"Nenek bisa memberitahuku makanan apa saja yang baik dikonsumsi oleh wanita yang sedang mengandung?"
Kedua bola mata Miranti membulat mendengar apa yang cucunya tanyakan barusan. "Kenapa kamu bertanya akan hal itu? Siapa yang sedang hamil?" Jaden malah terdiam di tempatnya.
"Jaden, jawab nenek?"
"Nara hamil, Nek."
"Apa? Nara hamil? Apa ini yang membuat Nara tidak mau kembali sama kamu? Dia hamil dengan Jacob?"
"Nara mengandung anakku, Nek."
"Jaden ...!" seru Nenek terdengar kesal. "Kenapa kamu sampai bisa membuat gadis itu hamil? Sekarang kamu tidak boleh pulang atau nenek akan memberi kamu pelajaran yang sangat menyakitkan." Terdengar napas menderu kesal dari seberang telepon.
"Nek, aku bisa menjelaskan semuanya."
"Andai kamu sekarang di samping nenek. Nenek akan menjewer telinga kamu sampai putus. Nenek memang menginginkan seorang cucu, tapi tidak seperti ini caranya."
"Nara hamil karena dia menyelamatkan aku dari obat perangsang yang aku minum. Sandra seorang terapis yang terobsesi denganku memberikan obat perangsang dalam minumanku dan Nara yang menjadi korban dari obat yang aku minum."
"Oh Tuhan! Kenapa kamu tidak menceritakan semua yang kamu alami selama ini sama nenek?"
"Aku tidak ingin membuat Nenek sakit karena memikirkan masalah ini."
"Ya sudah! Kalau begitu bawa Nara kembali ke sini apa pun caranya. Nenek ingin calon cucu menantu nenek dan cicit nenek berada di sini. Kamu dengar itu, Jaden?" ucap Nenek tegas.
__ADS_1
"Aku tidak tau, Nek."
"Kamu cucu dari Witzard Thomson. Walaupun kamu cucu angkatku, tapi sifat dan kepribadian kamu terbentuk seperti mendiang suamiku. Lalu, apa seperti ini sifat yang kamu tunjukkan?"