Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Curhat


__ADS_3

Nara sudah tampil berbeda dengan mengunakan kaos oblong milik Jaden yang dipakainya menjadi mini dress.


Nara berjalan dengan sesekali menarik bagian bawa kaos milik Jaden agar menutupi paha Nara yang terekspos dengan jelas.


"Kamu kenapa? Kaki kamu sakit? Jalan kamu aneh sekali." Jaden melirik tajam memindai Nara dari atas sampai bawah.


"Baju kamu kebesaran semua, tapi panjangnya sangat tidak pas."


Jaden malah tersenyum miring. "Kamu malu terlihat paha kamu yang sudah beberapa kali aku melihatnya? Bahkan tubuhmu saja sudah aku lihat semua."


Nara melirik malas pada pria yang duduk di atas ranjang dengan tatapan yang datar.


"Aku pinjam selimut kamu, biar aku tidur di sofa saja nanti." Nara menarik selimut yang ada di depan Jaden, tapi pria itu malah kuat menahannya.


"Tidur di sebelahku," titahnya dingin.

__ADS_1


"Aku tidur di sofa saja, lagipula tidurku banyak tingkahnya, aku takut nanti malah melukai kamu. Menendang kamu misalnya." Padahal itu hal yang diharapkan oleh Nara.


"Jangan banyak alasan. Kalau kamu tidur di sofa aku bingung jika mau memanggil kamu saat aku butuh sesuatu.Kamu kalau tidur seperti orang pingsan saja."


"Enak saja, selama kamu menculikku. Aku sama sekali tidak bisa tidur nyenyak."


"Aku lebih baik menculik kamu, daripada nanti kamu dijual oleh paman kamu pada mucikari di Las Vegas, dan dari hasil menjual diri kamu dia bisa merayakan hari ulang tahun putrinya yang kelihatannya memiliki sifat sama seperti paman kamu."


"Paman Benu dan Mona serta bibi Soraya yang memang tidak suka denganku," ucap Nara lirih.


"Apa? Tuan bertemu dengan paman dan bibiku?" Nara seketika naik ke atas ranjang Jaden dan duduk dengan menekuk ke belakang dua kakinya. Nara menutupi pahanya dengan bantal.


"Iya, aku bertemu dengan mereka kemarin saat aku makan dengan kekasihku."


"Apa pamanku tidak menanyakan kabarku, Tuan?"

__ADS_1


"Memangnya kamu orang penting dalam hidupnya. Di saja sudah tega menjual kamu padaku, tidak mungkin dia mengkhawatirkan kamu, gadis bodoh."


Nara menundukkan kepalanya ke bawah karena ucapan Jaden yang baginya menyakitkan. Jaden mencoba menggerakkan tangannya untuk mengangkat dagu Nara. Membuat wajah gadis itu melihat ke arahnya.


"Kamu tidak perlu bersedih. Lebih baik kamu tinggal di sini menjadi pelayanku, daripada kamu harus menjadi wanita malam di club malam. Di sini kamu akan terjadi semua kebutuhan kamu."


Kedua mata Nara menatap nanar pada Jaden. "Aku hanya ingin dapat melanjutkan sekolah setelah lulus, dan bekerja untuk membantu paman yang selama ini sudah merawatku, tapi hal itu semua hanya mimpi bagiku sekarang," ucap Nara terdengar sedih.


Jaden gantian terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Nara. "Untuk apa kamu melanjutkan sekolah lagi? Kehidupan kamu sudah aku jamin tidak akan kurang apapun."


"Aku ingin kuliah, Tuan, supaya kelak aku bisa menjadi ibu yang pintar buat anak-anakku. Aku bisa mengajari anakku jika mereka kesulitan dengan tugas sekolahnya, dan bisa membantu suamiku bekerja jika sekolahku tinggi."


Mereka berdua saling berpandangan. Tidak lama Nara berteriak kaget sekali lagi karena tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat besar dan ada suara jendela yang terbuka karena tertiup angin.


Nara yang kaget malah memeluk tubuh Jaden. "Kenapa suasana di sini sangat menakutkan karena hujan. Lagipula kamu bukan tarzan, kenapa tinggal di tempat seperti hutan begini?" Nara mengomel sambil memeluk Jaden.

__ADS_1


__ADS_2