
Leo masih menunggu jawaban Nara tentang pertanyaan yang dia lontarkan. Nara memberi kode jika dia ingin memberikan jawaban atas pertanyaan Mas Leo, tapi lewat bisikan di telinga Mas Leo.
"Ada apa, Nara? Leo jadi bingung dengan isyarat Nara.
"Aku mau memberitahu yang aku inginkan, tapi aku mau mengatakannya dengan membisikkan pada telinga Mas Leo."
"Kenapa tidak mengatakannya langsung?" Leo tampak gemas dengan gadis di depannya ini.
"Mau tidak mendengarkan apa sekarang yang aku inginkan?"
"Jujur saja kalau aku penasaran dengan apa yang ingin kamu katakan, apalagi pakai cara berbisik."
Leo kemudian mendekatkan telinganya pada Nara. Nara mendekat dan membisikkan sesuatu pada telinga Leo.
"Aku ingin Tuan Jaden menikah dan aku bisa bebas karena dia sudah ada yang mengurusnya."
Seketika kedua mata Leo membulat sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Nara.
Jaden? Tentu saja dia penasaran setengah semaput ingin tau apa yang Nara katakan pada Leo karena dia tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Nara walaupun volume pada tabletnya sudah di maksimalkan.
"****! Gadis itu benar-benar suka sekali menantangku. Dia pasti sudah tau jika aku dapat mengetahui semua yang dia lakukan bahkan katakan. Makannya dia mencari cara agar aku tidak tau apa yang dia katakan." Raut wajah Jaden tampak kesal.
"Kamu tau Nara, jika apa yang kamu inginkan itu tidak akan dapat tercapai."
Nara seketika menaruh telunjuknya pada bibir Leo. Leo tampak agak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Nara.
"Kita berbisik saja, Mas Leo," ucapnya lirih.
"Baiklah." Leo berbicara berbisik pada telinga Nara.
"Huft! Setidaknya aku sudah berharap. Mas Leo jangan membuka mulut, ya?"
"Aku tidak bisa berjanji karena kamu membicarakan tentang Tuanku, Nara. Apa kamu lupa?"
__ADS_1
Nara malah terkekeh dengan riangnya saat akan berbisik pada telinga Leo. "Kenapa aku bodoh sekali mengajak Mas Leo yang jelas-jelas orang kepercayaan Tuan Jaden bekerja sama." Sekali lagi Nara tertawa setelah berbisik pada Leo.
Mereka berdua tampak akrab dan terlihat wajah Nara yang bahagia. Beda sekali saat tadi siang Jaden lihat.
"Apa benar Nara sudah jatuh cinta pada Leo? Setiap aku lihat dia dengan Leo, wajah Nara tampak lebih bahagia."
Tidak lama pintu kamar Jaden diketuk oleh seseorang. Jaden segera mematikan layar tabletnya dan menyuruh orang itu masuk.
Wanita cantik yang mengagumi Jaden itu masuk dengan membawa beberapa makanan untuk Jaden. Kedua alis pria itu mengkerut.
"Kenapa kamu yang membawakan makanan untukku? Bukannya ini tugas Nara?"
"Tidak apa-apakan jika aku selama di sini yang menyiapkan makanan untuk kamu, Tuan Jaden? Menu yang aku sajikan juga sudah aku konsultasikan dengan ahli gizi yang jelas akan mempercepat kesembuhan kamu."
"Baiklah, lakukan apapun agar aku segera sembuh karena aku sudah bosan di dalam kamar terus dan harus duduk di kursi roda."
"Kalau begitu, menurutlah padaku." Sandra tersenyum dan mulai menyuapi Jaden.
Sandra sekarang yang menggantikan tugas Nara untuk menyuapi dan mengurus kebutuhan Jaden. Nara hanya membuatkan masakan untuk dirinya dan para penjaga. Serta mengurus rumah.
"Apa air minum di kamar Tuan masih ada, Ya?" Nara terbangun dan melihat jam di dindingnya. Jarum jam menunjukkan tepat pukul satu pagi.
Nara beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar Tuannya. Nara membuka pintunya perlahan dan melihat Tuannya sedang tertidur.
Nara sejenak melihat wajah Jaden yang tengah tertidur. Masih sama seperti waktu Nara melihatnya saat pagi kemarin dia bangun di sampingnya.
"Airnya habis, sudah aku duga." Nara membawa teko kaca itu dan keluar kamar untuk mengisinya.
Nara kembali dan meletakkan teko di dekat ranjang Jaden, dan dia merapikan selimut Jaden yang posisinya tidak teratur.
"Sayang, aku ingin sekali bercinta dengan kamu." Tangan Jaden tiba-tiba menarik tangan Nara sampai gadis itu terjerembab masuk dalam dekapan Jaden.
"Dia sedang bermimpi?" Nara mendongak melihat wajah pria yang memeluknya masih memejamkan kedua matanya, tapi tangannya memeluk tubuh Nara dengan erat.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Apa aku sentil saja dia supaya bangun dari mimpinya?"
Nara yang berada dalam dekapan Jaden tampak bingung.
"Pasti menyengkan bisa bercinta dengan kamu, Sayang," uca Jaden sekali lagi.
"Dasar pria mesum. Dia malah bermimpi bercinta." Nara mencoba melepaskan pelukan Jaden sampai akhirnya pria itu membuka kedua matanya karena hal itu.
Kedua pasang mata tampak saling mematri satu sama lain. "Kamu kenapa malam-malam menyelinap masuk ke kamarku? Apa kamu merindukan aku?" Jaden malah mengeratkan lagi pelukannya.
"Siapa yang menyelinap? Aku masuk ke kamar Tuan untuk memeriksa apa air minum di kamar Tuan sudah habis. Lihat saja aku sudah mengisinya, dan tadi saat aku mau membenarkan selimut Tuan malah Tuan tarik karena mimpi Tuan yang aneh itu." Nara mengerucutkan bibirnya lucu.
"Mimpi, siapa yang bermimpi?"
"Tuan bermimpi mengajak seseorang untuk bercinta. Sekarang lepaskan aku, aku mau kembali ke kamarku dan tidur." Nara mencoba melepaskan dirinya dari dekapan Jaden.
"Enak saja mau pergi begitu saja. Kamu sudah membuatku terbangun, dan aku pasti sulit untuk tidur lagi. Sekarang kamu harus temani aku malam ini. Aku tidak mau sendirian duduk di sini."
"Apa? Tapi aku mau tidur, Tuan. Aku mengantuk sekali." Nara pura-pura menguap di depan Jaden.
"Kalau begitu kamu tidur di kamarku saja. Naik ke atas ranjangku sekarang," titahnya.
"Hah? Tuan sudah gila? Kalau sampai mba Sandra melihatku berada di atas ranjang Tuan JL, apa yang dia pikirkan? Dia pasti berpikiran aku pelayan yang suka menggoda majikan. Pasti aku dikira wanita murahan."
"Tapi aku tidak mau sendirian di sini, aku sudah tidak mengantuk karena perbuatan kamu tadi."
"Hubungi saja mba Sandra, minta dia untuk menemani Tuan. Aku yakin dia pasti akan dengan senang hati."
Jaden terdiam sejenak. "Apa kamu lebih senang jika bersama dengan Leo daripada denganku, Nara?"
Nara mengedipkan kedua matanya beberapa kali mendengar pertanyaan Tuannya. Dia merasa ada yang aneh dengan pertanyaan dari Tuan JLnya.
"Aku dan Mas Leo biasa saja, Tuan. Seperti yang Tuan katakan tadi pada Mas Leo kalau Mas Leo harus tau siapa posisi aku di rumah ini. Kita hanya berteman baik. Aku menganggapnya seperti dia adalah kakak laki-lakiku, jadi aku merasa nyaman berbicara dengannya."
__ADS_1
Nara tidak mau sampai mas Leo mendapat masalah dengan Jaden, walaupun sebenarnya Nara memang menyukai jika Leo di dekatnya, tapi Nata tidak tau perasaan apa itu? Cinta, Kah? Nara juga masih tidak tau.