Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Acara Ulang Tahun Part 2


__ADS_3

Jaden mengkerutkan kedua alisnya mendengar neneknya mengatakan rahasia.


"Kenapa nenekku sekarang malah lebih misterius daripada aku?"


"Memangnya tidak boleh jika nenek ingin memberi kejutan untuk kalian?"


"Tentu saja boleh, aku malah senang dengan suatu kejutan," jawab Denna.


"Nenek sudah siapkan segalanya, jadi kalian jangan terlambat ke sana, khususnya kamu, Jaden." Nenek menatap tajam pada cucu kesayangannya.


"Memangnya aku kenapa, Nek?"


"Wajah kamu jangan seram tidak ada senyum saat acara itu berlangsung. Bagaimana pun pasti banyak teman Denna dan kamu akan ikut menyambut mereka. Pasang senyum manis kamu."


"Hem!" jawab Jaden hanya dengan deheman.


Denna dan Nara tampak tersenyum melihat wajah Jaden seperti itu. "Ayah lucu ya kalau sedang diberi peringatan oleh Nenek," celetuk Denna berbisik pada mamanya.


"Hust! Jangan bicara begitu. Dia itu ayah kamu." Mereka berdua malah terkekeh pelan.


"Nek, apa aku boleh mengundang siapa saja yang ingin aku undang?"


"Tentu saja, kamu boleh mengundang siapa saja yang mau kamu undang."


"Uncle, aku mengundang kekasih Uncle Leo untuk datang ke acara pesta ulang tahunku."


Leo langsung mendelik mendengar apa yang baru saja keponakan kesayangannya katakan.


"Kamu punya kekasih, Leo? Kenapa aku yang lebih dekat dengan kamu tidak tau dan Denna lebih tau?" Salah satu alis Jaden naik ke atas.


"Denna, maksud kamu apa?"


"Wanita yang Uncle telepon tiap malam saat semua orang sedang tidur itu siapa? Aku mendengar namanya Lady, tidak mungkin dia bukan kekasih Uncle.


"Lady? Siapa dia, Leo? Kenalkan pada Nenek Leo. Nenek akan sangat senang mengenal kekasih kamu."


"Denna, kamu sengaja menguping uncle tiap malam?"


Denna menggeleng cepat. "Aku waktu itu memang tidak bisa tidur karena suatu hal. Memikirkan nilai sekolahku dan banyak hal. Aku lalu mencari air minum di dapur dan tidak sengaja mendengar Uncle bicara dengan seseorang di telepon dengan sangat sopan dan lembut. Besoknya aku yang penasaran mencoba bangun lagi tengah malam untuk mencari tau tentang siapa yang Uncle Leo sering hubungi. Maaf Uncel." Wajah Denna memelas.


Jaden berjalan mendekat pada Leo. Dia menepuk pundak Leo. "Mau aku cari tau sendiri atau kamu ceritakan kepada kami?" Tatap Jaden.


"Sa-saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Lady.


"Ayolah, Leo! Anak angkat kamu ingin kamu memberinya teman kecil Kapan akan kamu kenalkan dia pada kami?"


Muka Leo tampak bingung, dia mencoba menelan salivanya dengan susah.

__ADS_1


"Jaden, biarkan saja Mas Leo. Dia mungkin belum siap untuk menceritakan tentang wanita itu dan kita tidak perlu memaksanya," bela Nara.


"Ck! Kamu selalu membela Leo, dan Leo, kamu hebat sekali mencari teman untuk membela kamu, yaitu istriku sendiri." Wajah Jaden malas.


"Tuan JL ada yang salah?" Sekarang pawangnya Jaden marah.


"Tidak ada, Sayang. Aku tidak akan bertanya dan memaksa Leo. Hak dia untuk tidak bercerita padaku."


"Terima kasih, Tuan."


"Aku akan mencari tau sendiri," bisik Jaden. Kedua mata Leo langsung mendelik.


"Tuan," ucap lirih.


"Sayang, aku lapar dan aku ingin makan masakan kamu." Jaden memeluk erat istrinya serta menyematkan ciuman kecil pada dahi Nara. Leo melongo karena Jaden tidak mendengarkannya.


Mereka makan malam berdua dengan suasana hati yang lebih baik sekarang.


***


Pagi itu Denna yang ke sekolah diantar oleh Dimas untuk memberikan undangan ulang tahun yang ternyata sudah di siapkan oleh neneknya.


Denna ingin dia sendiri yang memberikan pada gurunya sekalian Denna ingin memberikan beberapa oleh-oleh yang neneknya bawa kemarin.


"Aku senang kamu memakai baju kasual seperti ini Dimas."


Denna mengirim pesan pada Dimas kemarin malam. Denna ingin mengajak Dimas ke sekolahnya dan Denna ingin Dimas memakai baju santai saja. Denna tidak mau Dimas memakai jas hitam seperti biasanya.


Dimas ikut masuk ke dalam ruang guru karena dia membantu Denna membawa beberapa goodie bag yang berisi oleh-oleh dari Nenek untuk guru Denna.


"Terima kasih ya, Denna. Kamu tolong sampaikan pada nenek kamu."


"Iya, Bu, dan ini undangan ulang tahun dari saya. Jika Ibu tidak keberatan untuk datang ke sana."


"Tentu kami akan datang, Denna," sahut Pak Udin dengan cepat.


"Terima kasih, Pak."


"Ini jangan-jangan bukan hanya pesta ulang tahun kamu, tapi juga acara perkenalan calon suami kamu, ya?" goda Pak Udin.


"Perkenalan calon suami?" Denna tampak bingung.


"Itu ... yang ada di belakang kamu? Si ganteng itu." Mata Pak Udin mengarah pada Dimas.


"Pak Udin ini. Saya masih mau kuliah dan jadi dokter spesialis anak dulu, baru nanti memikirkan tentang menikah."


"Waduh! Jangan lama-lama, nanti si ganteng kamu diambil orang."

__ADS_1


"Kalau Dimas mencintaiku, dia pasti akan setia menungguku, Pak."


Dimas yang berdiri di sana agak terkejut mendengar ucapan Denna, lalu dia hanya menggeleng pelan dan tersenyum kecil.


"Kamu harus setia, Dimas. Susah loh mencari kekasih bahkan calon istri seperti Denna. Sudah pintar, cantik, baik, dan calon dokter."


"Pak Udin ini bicara jujur sekali sih." Denna meringis. "Sudah ya, Pak, aku permisi dulu. Kelamaan di sini nanti aku bisa melayang dipuji Pak Udin terus."


"Pujian bapak ini, kan, kenyataan, Denna. Benar, kan, Dimas?"


Dimas yang ditanya seketika itu tampak bingung. "Em ...! Iya, Pak."


Denna akhirnya berpamitan pada para guru yang ada di sana. Di dalam mobil Denna tampak bingung mau minta maaf soal di ruang guru tadi.


"Em ... Dimas. A-aku--?"


"Nona Denna tidak perlu minta maaf soal tadi. Saya sama sekali tidak marah karena kita tadi memang hanya berpura-pura seperti yang biasa kita lakukan."


"Oh, iya," jawab Denna lirih. Padahal Denna berharap bukan itu jawabannya.


"Sekarang kita pulang, Nona?"


"Kamu punya baju warna salem tidak?" Dimas menggeleng. "Sudah ku duga."


"Memangnya ada apa dengan baju warna salem?"


"Hari ulang tahunku besok semua harus memakai dress code berwarna salem. Setidaknya ada warna salemnya."


"Lalu, apa hubungannya dengan saya?"


"Kamu aku undang juga untuk datang ke acara ulang tahunku, Dimas."


"Saya diundang?"


"Iya, kamu diundang."


"Tapi saya hanya seorang bodyguard. Saya menjaga Nona dari jauh saja, tidak perlu menjadi tamu undangan."


Denna bersidekap. "Kamu tidak mau kalau aku undang?" Denna menatap Dimas kecewa.


Dimas sekarang jadi bingung. Bukannya dia tidak suka, hanya saja acara itu pasti di datangi banyak tamu penting dan orang-orang kelas atas kenalan keluarga Denna. Dimas hanya seorang bawahan.


"Dimas, pokoknya kamu harus datang, keluarga kamu juga harus datang."


"Maaf, tapi saya hanya tinggal berdua dengan adik angkat saya."


"Kalau begitu kamu ajak dia juga. Kalau kalian tidak memiliki baju warna salem, aku akan membelikannya. Pokoknya kamu dan adik kamu harus datang," ucap Denna menekankan.

__ADS_1


__ADS_2