Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Pembicaraan yang Manis


__ADS_3

Nara memeluk Jaden di atas tempat tidurnya. Tampak keduanya hanya berselimut putih untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Sayang, aku merindukan nenek. Apa kamu tidak merindukan nenek?"


"Rindu, tapi aku tidak mau pulang dulu sampai apa yang diinginkan wanita tua itu terwujud."


"Nara memukul pelan dada bidang suaminya. "Jangan bicara seperti itu! Bagaimanapun juga beliau adalah orang yang sangat menyayangi kamu. Aku saja ingin punya nenek sebaik nenek kamu." Nara mengeratkan pelukannya.


"Aku sudah biasa memanggilnya seperti itu. Kenapa kamu menanggapinya serius?"


"Pokoknya jangan memanggil nenek begitu lagi. Itu tidak sopan."


"Wanita tua... Wanita tua... Wanita tua...." Jaden malah sengaja menggoda Nara.


Nara menarik dirinya dari Jaden dan menatapnya kesal. "Kamu mau apa?" tantang Jaden dengan wajah songongnya.


"Karena nenek tidak ada di sini maka aku yang akan menghukum cucu yang sudah berani sama neneknya."


Nara menindih tubuh Jaden tepat di atasnya. Jaden malah tampak senang. Mereka malah saling bergelut di atas ranjang dengan mesra. Sampai pada akhirnya Jaden menyematkan kecupan pada bibir Nara dan tangannya bergerilya di balik selimut.


"Aargh! Hentikan! Kenapa tangan kamu nakal sekali? Pokoknya aku tidak mau melakukannya lagi."


"Memangnya siapa kamu berani membantahku?" Jaden menaikkan salah satu alisnya.


"Aku istri Tuan Jaden Luther, kamu berani denganku?" teriak Nara sambil terkekeh geli.


Malam itu, di dalam pondok yang terbuat dari kayu hanya terdengar suara erangan dua orang dan entah berapa kali Jaden melakukannya.


***


Pagi itu, indra penciuman Nara menangkap aroma sedap dari masakan yang entah siapa yang membuatnya? Mata ngantuk dan beratnya susah sekali dia buka, tapi dia penasaran sekali dengan aroma masakan yang membuat cacing di perutnya menari-nari.


Tangan Nara menarik kaos milik Jaden dan memakainya, menjadikannya seperti mini dress dan berjalan keluar untuk mencari tau siapa yang membuat masakan dengan aroma yang enak.


Nara tersenyum sambil menggigit bibir bagian bawahnya melihat sosok tanpa baju atasan yang memperlihatkan punggung tegap polosnya dan hanya menggunakan celana pendek sedang berdiri dengan alat penggorengan di tangannya.


"Apa ini keahlian baru kamu? Selain membuat aku kelelahan di atas tempat tidur?"

__ADS_1


"Pagi, Sayang, duduklah, aku sudah membuatkan kamu sup ayam dan aku yakin kamu akan menyukainya." Jaden hanya menoleh sekilas melihat pada Nara, kemudian dia kembali lagi fokus dengan penggorengannya.


Nara berjalan menghampiri suaminya dan berdiri di samping suaminya yang serius dengan masakannya. "Dari mana kamu belajar memasak?"


"Dari orang-orang yang ada di cafe kita. Saat kamu pergi ke rumah Esme untuk latihan menembak dan bela diri, aku belajar memasak. Aku mau membuat kejutan untuk kamu." Jaden mengecup cepat bibir Nara.


"Jadi kamu sudah tau kalau aku di rumah Kak Esme untuk latihan menembak? Kenapa kamu bohong denganku? Kamu bilang tidak akan mencari tau sampai aku yang menceritakan sendiri." Nara manyun.


"Aku tidak bohong sama kamu, aku sama sekali tidak mencari tau apa yang kamu lakukan, tapi ada seseorang yang memberitahu apa yang kamu lakukan di sana."


"Siapa?"


"Aku tidak akan mengatakannya." Jaden menggelengkan kepalanya.


"Kamu serius tidak akan mengatakannya?" Tatap Nara dengan mata menyipit.


"Aku serius."


"Ya sudah! Kalau begitu aku tidak akan mau bercinta lagi denganmu." Nara bersidekap.


"Tidak mau."


"Apa kamu bisa menolak pesonaku?" Jaden membuka kaki Nara dan dia masuk ke tengahnya kemudian menyematkan ciuman pada leher istrinya yang malah menunjukan sikap dinginnya. Nara berpura-pura kuat menahan apa yang sedang dilakukan suaminya atas dirinya itu.


"Katakan kalau kamu tidak menginginkan aku?" tanya Jaden dengan suara paraunya.


"Aku tidak menginginkan kamu, Tuan Luther." Nara masih berusaha mempertahankan dirinya dari sentuhan dan kecupan yang dilakukan oleh Jaden.


Tidak lama terdengar teriakan Nara saat ada sesuatu yang menyentuh hal sensitifnya. "Aku tidak menginginkan kamu, tapi sangat menginginkan kamu." Nara mengecup bibir Jaden sangat dalam dan melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Jaden dan mereka saling berciuman dengan mesra.


"Sayang, aku lapar. Bagaimana jika kita makan dulu? Bukannya kamu tadi mengatakan jika kamu membuatkan aku sup."


"Ya sudah, kalau begitu kita makan dulu, kemudian kita lanjutkan lagi yang semalam. Aku mau segera membuat kamu hamil," celetuk Jaden Seenaknya.


"Enak saja kalau bicara. Apa kamu tidak merasa lelah? Kita saja semalam melakukannya sampai hampir pagi. Aku setelah makan, mau tidur lagi. Aku benar-benar lelah, Sayang."


"Ya sudah, setelah ini kita tidur saja, tapi aku mempunyai syarat."

__ADS_1


"Syarat?"


"Iya, aku akan memberikan syarat untuk kamu jika memilih kita tidur saja."


"Tidur saja harus ada syaratnya."


Jaden membisikkan sesuatu pada telinga Nara. Terlihat kedua mata gadis cantik yang sekarang sudah menjadi seorang istri itu membulat lebar mendengar persyaratan suaminya.


"Apa harus seperti itu?"


"Mau tidak?"


"Tapi, kan, dingin. Kalau masuk angin bagaimana? Terus kalau aku demam bagaimana?"


"Aku bisa melakukan skin to skin dengan kamu seperti dulu." Jaden tersenyum manis sambil menggigit roti isinya.


"Baiklah. Aku setuju, asal aku dapat tidur hari ini karena aku sangat lelah."


Setelah makan pagi Nara menggandeng tangan Jaden. Jaden yang melihat sikap istrinya tampak mengerutkan dahinya heran. "Kamu mau apa?"


"Mengajakmu, mandi bersama."


"Apa? Bukannya kamu mau tidur? Kenapa sekarang malah mau melakukan bercinta di kamar mandi?"


"Aku mau mengucapkan terima kasih dengan caraku karena kamu sudah membuatkan aku sup yang sangat enak, dan jujur sup buatan mamaku masih kalah enak dari buatan suamiku."


Jaden melihat dengan wajah mengharapkan juga. "Baiklah kalau begitu, aku akan menerima ucapan terima kasih dari istri tercintaku." Mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi


Di tempat Leo. Malam ini Leo diajak nenek Miranti untuk makan malam di sebuah restoran favorit nenek. Di sana tampak dua orang berbeda generasi sedang tertawa bersama dan entah apa yang mereka bicarakan sehingga tampak senyum merekah di bibir wanita paruh baya itu.


"Betul kata nenek. Pasti lucu sekali jika nanti Tuan Jaden memiliki seorang anak. Apa lagi jika anak tuan Jaden sifatnya mirip ayahnya."


"Dia akan menemukan saingannya dan dia juga akan tau bagaimana mengesalkannya sifatnya itu."


"Nara adalah pawang yang tepat untuk cucu nenek itu. Aku dulu tidak menyangka jika gadis polos dan lugu yang aku culik sekarang adalah orang yang bisa menakhlukan Tuan Jaden yang dingin itu."


"Bersulang untuk itu, Leo." Mereka berdua saling mendekatkan gelas minumannya sampai berdenting.

__ADS_1


__ADS_2