Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Renata


__ADS_3

Jaden agak kaget dengan apa yang dikatakan oleh Neneknya. Nenek menjelaskan dia melakukan itu karena dia ingin saat Nara sudah bersama dengan Jaden, nenek akan langsung mengadakan acara pernikahan yang tidak terlalu besar untuk mereka.


"Nara, Nenek ingin bicara sebentar sama kamu." Tangan wanita tua itu mengusap lembut pucuk kepala Nara.


"Ada apa, Nek?"


Leo mempersilakan nenek duduk di tempatnya dan dia berdiri di belakang Jaden.


"Nara, bagaimana kalau hari pernikahan kamu dan Jaden kita laksanakan bulan depan saja sampai keadaan kamu benar-benar pulih?"


Nara terdiam sejenak. Matanya kemudian melihat pada Jaden yang berdiri di depannya. Entah kenapa Nara merasa takut kehilangan pria itu.


"Nek, keadaanku sudah baikkan. Kalau ditunda bulan depan perutku nanti terlihat lebih besar. Apa tidak Minggu depan saja?"


"Apa kamu tidak apa-apa kalau kita menikah Minggu depan? Keadaan kamu saja masih seperti ini?"


"Aku tidak apa-apa," ucap Nara lirih.


"Baiklah kalau kamu mau pernikahan kalian dilaksanakan Minggu depan. Nenek nanti akan segera mengatur semuanya."


"Nek, apa nanti kita juga harus memberitahu keluarga Thomson?"


"Tentu saja, Jaden. Bagaimanapun mereka adalah keluarga nenek dan orang yang sudah membesarkan kamu."


"Paman dan bibi aku juga ya, Nek?" tanya Nara seketika.


Wanita paruh baya itu mengangguk perlahan. "Biar nenek nanti yang akan bicara dengan keluarga kamu. Nenek sudah mendapatkan alamat rumah baru yang mereka tinggali."


"Jadi rumah peninggalan orang tua Nara sudah di jual oleh mereka?" Nara seketika meneteskan air matanya.


"Nara jangan menangis." Leo dengan cepat memberikan sapu tangan miliknya pada Nara.


"Mas Leo!" Nara malah memeluk Leo yang wajahnya langsung berubah pucat karena takut di marahi oleh Jaden.


"Nara. Oh God!"


Tangan Nenek langsung menahan tangan Jaden agar membiarkan saja hal itu. "Tidak apa-apa."


Leo meringis aneh pada Jaden yang mukanya menahan marah.


"Nara, sudah jangan menangis. Kasihan nanti bayi kamu kalau menangis terus. Katanya mau menikah Minggu depan, kalau menangis terus nanti sakit dan tidak boleh keluar dari rumah sakit. Kamu bisa-bisa tidak jadi menikah sama Tuan Jaden."


"Aku beberapa hari ini merindukan kedua orang tuaku, hanya saja aku mencoba tidak tampak sedih, tapi sekarang bahkan peninggalan terakhir orang tuaku sudah hilang."

__ADS_1


Jaden berjalan di sebelah Leo. "Aku nanti akan membeli rumah kamu itu dan rumah itu akan aku atas namakan kamu."


Nara menarik kepalanya dari tubuh Leo. "Membeli rumahku? Untuk aku?"


"Iya, Nara. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan kita dan kelak di sana bisa di tempati oleh anak kita dan keluarganya atau kita."


"Kamu serius Tuan JL?"


"Sangat serius." Jaden melepaskan pegangan tangan Nara dari Leo dan ganti dia yang membuat tangan Nara memeluknya.


Leo hanya bisa tersenyum kecil melihat hal itu. Pasangan yang aneh menurut Leo.


Tok ... tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar rawat Nara. Leo segera berjalan dan membukakan pintunya.


"Selamat pagi. Maaf, aku Renata temannya Jaden Luther.


Jaden melihat Renata ada di depan pintu. Dia menyuruh Leo membiarkan Renata masuk.


Nara melihat pada Jaden yang tampak melihat pada Renata. "Kamu siapa?" tanya nenek Miranti.


"Halo, Nek. Perkenalkan, aku Renata dan aku teman Jaden. Nenek pasti Nenek Miranti? Aku Renata cucu dari Gilbert Alfin."


Muka Renata langsung ditekuk. "Kenapa malah panggilan itu yang Nenek ingat? Jaden juga mengingatku dengan sebutan itu, bukan namaku yang bagus ini." Bibir Renata mengerucut lucu.


"Maaf, tapi memang dulu Jaden sukanya memanggil kamu itu, jadi Nenek ingatnya juga itu."


"Ya sudah tidak apa-apa. Setidaknya kalian masih mengingatku. Hai, Nara!" sapa Renata ramah.


Nara yang memang dari awal agak cemburu dengan wanita itu meskipun hanya dari cerita langsung tersenyum aneh karena sapaan Renata yang tiba-tiba.


"Halo," jawab Nara singkat.


"Aku dengar kamu sedang hamil. Oleh karena itu aku membawakan buah-buahan segar untuk kamu karena kata Stella orang hamil pasti suka makan buah-buahan."


"Biar saya bawa, Nona Renata." Leo menawarkan mengambil parcel buah yang ada di tangan Ranata.


"Iya, ini. Terima kasih, ya."


"Renata, kamu kenapa bisa ada di sini dan apa kamu dan Jaden sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanya nenek.


"Aku ada urusan pekerjaan di sini, Nek. Aku sedang menjalankan perusahaan peninggalan kakekku. Aku bertemu Jaden waktu dia berada di pemakaman kakeknya. Aku juga sedang mengunjungi makam kakekku, aku melihat Jaden yang kehujanan di sana dan aku memberinya payung, lalu kita berbicara."

__ADS_1


"Kamu masih mengingat wajah Jaden cucuku?"


"Tentu saja, Nek. Dia tidak berubah dari kecil. Hidunganya yang bentuknya lucu dan wajah dinginnya itu juga masih tetap sama." Renata terkekeh kecil.


Nara melirik tajam pada Jaden. Wajah Jaden hanya biasa melihat Nara.


"Kamu juga masih sama seperti dulu. Seorang gadis yang selalu terlihat ceria."


"Terima kasih, Nek." Tiba-tiba Renata memeluk Nenek Miranti


Nenek Miranti yang kaget membalas pelukan Renata. "Kamu benar-benar Renata kecil yang ceria."


"Tentu saja, Nek. Aku harus tetap terlihat ceria karena aku benci kesedihan."


Renata yang mau melangkah mundur malah hampir jatuh, tapi Leo dengan cepat memegangi tubuh Renata. Leo dan Renata saling berpandangan.


"Maaf, saya hanya menolong. Nona tidak apa-apa?" Leo membantu Renata berdiri.


"Terima kasih, nama kamu siapa?"


"Nama saya Leo.".


"Nama yang bagus. Kebetulan bintangku Leo." Sekali lagi Renata menunjukkan senyumannya.


Nara yang melihat tampak senang. Dia berpikir jika Renata itu cocok juga kalau sama Mas Leo.


"Kaki Nona Renata tidak sakit?"


"Jangan panggil Nona. Panggil saja namaku Renata."


"I-iya, Renata." Leo terlihat agak canggung.


"Sebenarnya aku ke sini juga mau memeriksakan kakiku karena waktu itu jatuh saat mengejar si muka dingin itu." Renata menunjuk ke arah Jaden.


"Mengejar Tuan JL? Mengejar bagaimana?" tanya Nara cepat.


"Waktu di pemakaman, aku masih mau bicara dengan Jaden, tapi dia malah mau pergi saja. Apa lagi hujan deras. Sampai akhirnya aku jatuh, dan baru si muka dingin itu peduli terus menggendongku sampai di mobil. Lalu dia tetap pergi begitu saja. Dia dari dulu memang begitu."


"Menggendong kamu?" Nara melihat pada Jaden.


"Aku hanya menolongnya. Tidak perlu cemburu," ucap Jaden santai.


Renata yang merasa ucapannya bisa memicu permasalah antara suami istri itu langsung panik.

__ADS_1


"Iya, Nara. Kamu jangan cemburu. Aku hanya di tolong oleh Jaden dan tidak ada lainnya. Dia saja setelah meletakkan aku di depan mobil langsung pergi."


__ADS_2