
Denna berjalan keluar dengan memakai payung dia sekarang berdiri tepat di depan pria yang membuatnya sakit hati. "Nona, saya--."
"Kamu pulang saja, Dimas. Untuk apa kamu ke sini sambil basah kuyup seperti ini? Aku sudah tau jika kita tidak jadi pergi dan aku tidak masalah. Lebih baik sekarang kamu pulang saja." Denna memotong ucapan Dimas.
"Saya minta maaf sama Nona Denna karena hari ini datang terlambat."
"Sangat terlambat Dimas, dan aku tau kenapa kamu terlambat karena kamu sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin mengajakku pergi. Aku saja yang bodoh terlalu percaya sama kamu.
"Saya serius ingin mengajak pergi Nona Denna, hanya saja tadi Mitha tiba-tiba ke rumah dan saya tidak bisa meninggalkannya karena--."
"Karena kamu sebenarnya masih mencintainya, dan dia juga masih sangat mencintainya karena kamu cinta pertamanya. Iya, kan?"
"Apa maksud Nona?"
"Jangan pura-pura tidak tau, Dimas. Kamu dan Mitha pernah bertemu setelah kamu mengatakan mencintaiku dan kalian mengabadikan pertemua indah kalian dengan berfoto bersama dan kekasihmu itu memberitahu dunia jika kalian pasangan yang bahagia."
"Saya memang pernah bertemu dengan Mitha karena dia ke rumahku, tapi kita hanya berbincang biasa saja tidak ada hal yang penting."
"Jadi, dia pernah ke rumah kamu? Benar-benar aku sangat bodoh percaya sama kamu. Dia bahkan tau rumah kamu." Denna menghapus air matanya.
"Denna dia mencari alamat rumahku sendiri dan bukan aku yang mengajak dia ke rumahku."
"Aku tidak mau bicara dengan kamu, Dimas. Maaf jika aku yang terlalu berpikiran jika hubungan kita lebih dari bodyguard dan Nona yang harus di jaga. Aku tidak akan menganggu kamu lagi dan sebaiknya--."
Denna tidak melanjutkan ucapannya karena bibirnya tiba-tiba dibungkam oleh bibir Dimas. Tangan Denna yang hampir terlepas memegang payung, ditahan oleh tangan Dimas. Jadi, kedua tangan itu bersatu memegang payung.
"Oh Tuhan! Itukan Denna dan... Dimas?" Nenek Miranti yang ada di dalam mobil sangat terkejut sampai kedua tangan menutup mulutnya melihat cucunya berciuman di tengah derasnya hujan.
__ADS_1
Dimas melepaskan ciumannya saat mendengar suara mobil dekat dengannya. "Nenek?" Denna sontak kaget melihat ada mobil neneknya. Mereka berdua melihat ke arah nenek Miranti yang turun dari mobil dengan dipayungi oleh supir.
"Denna, Dimas, kenapa main hujan di sana? Ayo masuk ke rumah!" teriak Nenek.
"Iya, Nek!" teriak Denna. Denna sekarang melihat dengan wajah cemberut pada Dimas yang malah menatapnya santai. "Kenapa tadi menciumku? Nenek pasti melihat apa kamu lakukan. Sekarang apa yang harus aku katakan pada Nenek?"
"Biar saya yang mengarakan jika saya mencintai Nona Denna," ucap Dimas santai.
"Tidak semudah itu, Dimas!" Wajah Denna masih kesal saja.
Dimas tidak menjawab dia mengambil payung dan tangan satunya menggandeng Denna. Dimas membawa Denna berjalan menujuk nenek Miranti.
Mereka berdua sekarang berada di ruang tengah. Nenek melihat Dimas dan Denna yang berdiri dihadapannya. "Dimas, kamu ke kamar tamu dan ganti baju kamu. Pelayan akan membawakan baju ganti untuk kamu, dan Denna kamu juga ganti baju kamu. Nenek tunggu kalian di ruang makan. Kita makan malam sama-sama," ucap wanita tua itu tegas.
"Nek, sebenarnya yang tadi Nenek lihat...?" Denna tampak bingung.
Beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah duduk di meja makan. Nenek sebagai tuan rumah duduk di tengah kursi utama. Denna dan Dimas duduk saling berhadapan.
"Bicaranya nanti saja, kita makan dulu, apa lagi kalian baru saja main hujan, nenek tidak mau kalian sakit. Mereka menurut apa kata Nenek dan mereka makan malam bersama sampai akhirnya mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Nek, saya minta maaf karena sudah berani lancang mencium Nona Denna. Saya mencintai Nona Denna, Nek," ucap Dimas tanpa rasa takut. Denna yang di samping Dimas melihat tidak Percaya pada Dimas yang begitu berNinya bicara pada Neneknya.
"Sejak kapan kamu mencintai cucuku?"
"Saya sendiri tidak tau, Nek, tapi saya yakin jika saya memang mencintai Nona Denna."
"Dimas, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Kamu sadar siapa kamu dan siapa Denna?"
__ADS_1
"Nenek?" Denna kaget dengan ucapan neneknya yang seolah-olah menunjukkan tentang status sosial seseorang.
Dimas melihat pada Denna. "Saya sadar jika seharusnya saya tidak boleh mencintai Nona Denna, tapi saya tidak mau membohongi perasaan saya. Saya mencintai Nona Denna bukan karena dia anak Tuan Jaden Luther. Saya mencintai Nona Denna karena apa yang ada pada dirinya, sifatnya, dan kebaikan hatinya." Pria itupun masih terus menjatuhkan tatapannya pada Denna. Pun dengan Denna juga menatap Dimas.
"Apa kamu berani mengatakan hal ini pada ayah Denna?"
"Nenek! Kenapa seserius ini langsung pada ayah? Jika Dimas mencintaiku, dia buktikan saja." Denna kesal kembali mengingat foto Dimas dengan mantannya.
"Saya memang mencintai Nona Denna. Percayalah pada saya."
"Denna, apa kamu juga mencintai Dimas? Lalu teman spesial kamu, si dessert itu bagaimana?"
"Teman spesial?" Dimas melihat penasaran pada Denna.
"Denna minta maaf sama Nenek karena sudah berbohong. Sebenarnya hari ini Denna janjian sama Dimas. Dimas mau mengajak Denna jalan-jalan, bukan teman spesial Denna itu, tapi Denna tidak mau sampai nenek tau jika Denna akan keluar dengan Dimas."
"Kenapa? Bukannya kamu juga mencintai Dimas? Kenapa tidak mengatakan hal yang sebenarnya?"
Denna melihat pada Dimas. "Denna memang mencintai Dimas, tapi Denna masih belum siap seluruh keluarga tau. Denna takut kalian akan marah dan tidak bisa menerima hal ini. Denna tidak mau Dimas nanti tersakiti."
Nenek memeluk cicitnya dengan hangat. "Nenek tidak akan melarang dengan siapa kamu berteman dan memiliki hubungan spesial, asal dia membawa hal baik pada diri Denna. Denna sudah dewasa dan pasti tau mana yang baik dan buruk. Begitupun ayah dan mama kamu, mereka orang tua yang sangat baik dan mengerti putrinya."
"Saya akan bicara pada Tuan Jaden Luther dan Nyonya Nara untuk meminta maaf karena sudah berani mencintai putrinya."
"Jangan bicara sembarangan. Nanti saja kalau kamu benar-benar memang serius padaku. Kamu saja masih banyak menebar pesona pada gadis lain."
"Saya tidak pernah menebar pesona pada siapapun. Kalau mereka menyukai saya apa itu salah saya?" Denna mengerucutkan bibirnya. "Yang terpenting saya tidak membalas perasaan mereka karena saya memang tidak menyukai mereka."
__ADS_1
Nenek yang melihat pertengkaran kecil cucunya tersenyum. "Kamu mirip sekali dengan mama kamu. Dimas, nenek senang akan keberanian kamu tidak takut untuk berbicara dengan cucuku tentang apa yang kamu rasakan pada Denna. Nenek tidak akan mengatakan apa-apa pada Jaden karena nenek berharap kalian sendiri yang menghadapi cucu nenek itu."