Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Pertengkaran Nara dan Jaden


__ADS_3

Denna mengusap pelan lebam yang ada pada pipi Dimas dengan kapas yang di beri cairan untuk mengurangi lebamnya.


"Apa sakit?" tanya Denna dengan terus mengusap pipi Dimas.


"Tidak, Nona. Saya sudah terbiasa dengan rasa sakit seperti ini. Sakit ini tidak ada apa-apa. Aku malah pernah dipukul dengan besi sampai lengan tanganku sebelah kiri mengalami patah tulang."


" Ya Tuhan! Itu pasti lebih sakit." Dimas hanya tersenyum. "Bibir kamu juga sobek, Dimas." Tangan Denna membersihkan sudut bibir Dimas.


"Seharusnya kita tidak mengikuti acara dansa itu, Nona Denna." Denna mengangguk perlahan. Dimas memandang Denna dengan lekat karena wajah mereka sangat dekat.


Denna pun merasa ada hal yang dia sendiri bingung dengan apa yang saat ini menggelitik di hatinya. Tangan Denna mengusap perlahan bibir Dimas.


"Dimas apa perlu kita ke dokter agar luka kamu bisa diperiksa?"


"Tidak perlu, Nona Denna, lukaku nanti akan membaik sendiri."


"Apa kamu yakin?"


"Hal semacam ini sudah menjadi makanan saya setiap hari, jadi Nona tidak perlu khawatir. Kita pulang saja."


Denna mengangguk dan mereka kembali ke rumah. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Dimas Mengemudikan mobilnya dengan cepat di jalanan yang sepi karena hari memang sudah larut malam.


"Dimas terima kasih karena sudah menolongku tadi."


"Sudah tugas saya, Nona. Nona segera beristirahat saja dan jangan memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan."


"Iya, Dimas. Kalau begitu aku masuk dulu. Selamat malam."


"Malam Nona Denna."


Dimas masih berdiri di sana menunggu sampai Nona Dennanya masuk ke dalam rumah dengan aman. "Ada apa ini?" Tangan Dimas memegang dadanya.


Denna tampak tersenyum sendiri berjalan menuju kamarnya. Namun, tiba-tiba senyumnya itu sirna takkala dia mendengar suara ribut dari kamar kedua orang tuanya yang pintunya tidak tertutup rapat.

__ADS_1


"Ayah dan mama bertengkar? Kenapa mereka bisa bertengkar? Dahal selama ini, bahkan dari aku kecil tidak pernah melihat mereka bertengkar."


Denna memutuskan tidak ikut campur dulu urusan kedua orang tuanya, tapi besok dia harus tau kenapa kedua orang tuanya sampai bertengkar.


***


Pagi itu Denna yang berada di ruang makan agak bingung karena tidak melihat ada kedua orang tuanya, terutama mamanya yang selalu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan pagi. Nenek Miranti dari kemarin malam berangkat ke rumah sahabatnya karena sahabatnya mengadakan acara.


"Denna, mana kedua orang tua kamu?" tanya Uncle Leo yang baru saja tiba di sana."


Denna duduk dengan wajah malas." Uncle Leo, sebenarnya ada apa dengan kedua orang tuaku?"


Leo seketika duduk mendekat pada Denna. "Apa maksud kamu, Denna?"


"Semalam aku tidak sengaja mendengar ayah dan mamaku bertengkar, Uncle. Dahal aku tidak pernah melihat kedua orang tuaku bertengkar, dan sekarang mereka berdua tidak ada yang berkumpul di sini."


"Bertengkar? Apa karena kerja sama yang Mauren tawarkan waktu itu?" gerutu Leo.


"Kerja sama apa, Uncle?"


"Tapi Denna tidak mau kalau sampai kedua orang tua Denna bertengkar apa lagi sampai berpisah." Wajah Denna tampak sedih. Jujur saja dia takut saat mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Dia teringat tentang keluarga Diaz.


Uncle Leonya malah terkekeh mendengar apa yang Denna katakan." Uncle kenapa malah tertawa? Aku benaran takut jika kedua orang tuaku berpisah."


"Hal itu tidak akan terjadi, Denna sayang. Kenapa Uncle bisa yakin mengatakan hal ini? Itu semua karena uncle tau bagaimana ayah dan mama kamu berjuang sampai bisa pada titik sekarang ini. Cinta dan kepercayan mereka sangat kuat satu sama lain."


"Lalu, mereka di mana? Kenapa mereka tidak seperti biasa setiap pagi sarapan bersama? Pasti mereka saling tidak sapa karena pertengkaran semalam."


"Belum tentu. Mungkin ayah dan mama kamu bangun kesiangan."


Tidak lama orang yang mereka bicarakan turun dari lantai atas dan langsung menuju ke ruang makan. "Pagi, Ma. Tumben sekali Mama baru bangun? Apa Mama sakit?"


"Mama tidak apa-apa. Mama minta maaf karena sudah terlambat membuatkan kamu sarapan pagi."

__ADS_1


Denna mengamati kedua mata mamanya yang sembab. Itu berarti mamanya semalamam habis menangis. Denna menarik pelan lengan tangan uncle Leo, seolah Denna ingin memberitahu jika kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.


"Mama jangan khawatir karena aku sudah liburan sekolah. Aku tinggal menunggu ijazah dan beberapa berkas penting lainnya keluar."


"Huft! Mama sampai lupa jika kamu sudah mau masuk universitas saja. Putri mama ini sudah dewasa ternyata dan kenapa waktu begitu cepat?" Tangan Nara mengusap lembut pipi Denna.


"Ma, ayah mana? Dan kenapa Mama tidak turun bersama dengan ayah?"


"Ayah kamu akan segera turun."


Tidak lama pria tampan, tegas dan aura dinginnya itu berjalan ke arah meja makan. "Leo, kita pergi sekarang saja karena aku ada meeting pagi." Jaden berjalan menuju mobilnya tanpa memberi ucapan selamat pagi pada istri dan anaknya.


"Denna, kamu bisa memesan makanan di restoran. Mama mau istirahat sebentar." Nara berjalan kembali menuju lantai atas kamarnya.


Denna melihat pada uncle Leonya. "Bagaimana ini Uncle?"


"Nanti uncle akan mengurusnya. Denna tenang saja ya? Semua akan baik-baik saja." Leo segera menyusul Jaden ke depan karena Jaden sudah menghubunginya.


Denna memilih berjalan ke taman depan rumahnya untuk menenangkan pikirannya. "Kenapa kedua orang tuaku sampai bertengkar serius seperti ini? Apa yang membuat mereka bertengkar?" Denna duduk melamun.


"Nona Denna, selamat pagi," sapa Dimas, dan sayangnya dia tidak mendapat salam balik dari Denna karena gadis itu pikirannya sedang tidak ada di sana. "Nona Denna," panggil Dimas sekali lagi dan sekarang dengan menggoyangkan sedikit tubuh Denna. "


"Dimas? Ada apa?" Denna yang baru saja menginjakkan kakinya ke bumi tampak kaget melihat Dimas.


"Nona Denna kenapa? Apa ada masalah?"


"Em... Tidak ada. Aku lupa memberitahu kamu jika aku hari ini tidak kegiatan di luar, jadi kamu tidak perlu menjagaku."


"Kalau begitu saya kembali ke rumah saja." Denna mengangguk pelan. Dimas yang ingin melangkah pergi seketika mengurungkan niatnya saat melihat wajah Denna yang kembali melamun. "Nona apa ada masalah


"Tidak ada," ucap Denna lirih dan tidak lama butiran air matanya menetes perlahan membasahi pipinya.


"Nona kenapa?" Dimas agak kaget saat Denna tiba-tiba memeluknya. Dimas langsung terdiam dan membiarkan Denna menangis meluapkan apa yang sedang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian. Denna yang sudah merasa sedikit tenang sadar jika dia sedang memeluk bodyguardnya. "Aduh! Kenapa aku bodoh sekali?" gerutunya lirih.


Denna menarik tubuhnya dan memandang wajah pria yang sudah dia jadikan sandaran untuk dia menangis.


__ADS_2