Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kiss Mark


__ADS_3

Mereka berdua melongo berjamaah melihat ke arah pintu.


"Tuan Jaden, apa Anda baik-baik saja?" ternyata suara Sandra di depan pintu.


Nara bersyukur tadi sudah mengunci pintunya. "Bagaimana ini? Aku tidak mau mba Sandra berpikiran yang tidak-tidak tentang aku yang malam-malam berada di dalam kamar kamu," Nara berbicara lirih.


Jaden juga tidak mau Sandra menganggap dia dan Nara ada hubungan, walaupun dalam hati kecilnya Jaden menyukai semua yang ada pada diri Nara.


"Kamu bersembunyi di dalam kamar mandi dan aku akan membuka pintunya." Jaden dibantu Nara duduk di atas kursi rodanya dan Nara masuk ke dalam kamar mandi.


"Tuan, tunggu sebentar." Nara kembali keluar dan tangannya mengusap perlahan dahi Jaden untuk menghapus gambar yang dia buat. "Sudah hilang." Lalu, Nara kembali ke dalam kamar mandi.


Jaden yang melihatnya sampai terpaku, padahal Nara hanya melakukan hal kecil.


"Tuan, kamu baik-baik saja, Kan?" tanya Sandra cemas saat melihat Jaden di depan pintu.


"Aku tidak apa-apa, Sandra."


"Tadi aku sempat mendengar suara benda pecah. Aku ingat kamu, jadi aku langsung ke sini. Apa semua baik-baik saja, Tuan?"


"Semua baik-baik saja, Sandra, tadi tangan aku tidak sengaja mengenai teko yang berada di samping ranjangku dan akhirnya teko kaca itu pecah."


Sandra main selonong masuk ke dalam saja, tanpa meminta izin. Jaden yang duduk di atas kursi rodanya hanya terdiam melihat Sandra yang memeriksa serpihan kaca yang berserakan di bawah ranjang Jaden.


"Sayayg akan membersihkannya, Tuan."


"Hati-hati, Sandra, jangan sampai tangan kamu terluka seperti tangan--." Jaden hampir keceplosan mengatakan nama Nara.


"Seperti tangan siapa?"


"Tanganku barusan yang hampir terluka karena mencoba membersihkan itu."


"Tuan tenang saja, saya akan berhati-hati." Sandra tersenyum dan keluar sebentar untuk mengambil alat pembersih.


Di dalam kamar mandi, Nara mendengarkan apa yang Sandra dan Jaden katakan. "Mba Sandra kelihatannya sangat perhatian pada Tuan JL. Dia benar-benar mencintai Tuan, dan apa yang aku lakukan tadi? Aku sekarang seperti seorang pengkhianatan, penikung hubungan orang. Kejam sekali aku ini pada mba Sandra," Nara berdialog sendiri.

__ADS_1


"Sudah selesai. Kamu sekarang bisa beristirahat dengan tenang, Tuan Jaden."


"Terima kasih, dan maaf aku sudah merepotkan kamu di waktu yang tidak tepat."


"Tidak apa-apa, tapi saya heran pada Tuan Jaden. Kenapa Tuan malah mengunci pintunya? Bukankah aku sudah bilang agar tidak mengunci pintunya agar kalau ada apa-apa akan mudah aku masuk ke dalam kamar Tuan Jaden."


"Tadi aku lupa," jawab Jaden singkat.


"Ya sudah kalau begitu. Apa begini saja, malam ini aku akan menemani Tuan Jaden tidur di sini. Aku bisa tidur di sofa situ saja."


Nara yang di dalam kamar mandi seketika mulai takut. Takut kalau mba Sandra tidur di kamar Jaden, dia bisa-bisa menginap sekali lagi di dalam kamar mandi Jaden.


"Tidak perlu Sandra, kamu bisa kembali ke kamar kamu saja. Lagipula ini sudah hampir pagi juga. Aku akan baik-baik saja."


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu. Kamu tidurlah sejenak, dan nanti pagi aku ingin mengajak kamu jalan-jalan keluar untuk melakukan terapi di luar rumah. Kamu mau, Kan?"


"Tentu saja. Kamu ahlinya dan aku hanya mengikuti apa yang kamu inginkan."


Sandra izin keluar dan kembali ke kamarnya. Jaden kembali menutup pintunya dan menyuruh Nara keluar.


Nara berjalan keluar dengan kepala menunduk seolah-olah dia sudah melakukan sebuah kesalahan yang fatal.


"Kalau kamu sedang berbicara dengan seseorang, alangkah baiknya kamu melihat orang yang kamu ajak berbicara, jangan menunduk begitu. Angkat kepala kamu sekarang," titahnya.


Nara perlahan mengangkat kepalanya dan melihat Jaden dengan agak canggung.


Jaden yang sebenarnya juga merasa canggung saat melihat pada Nara, tapi dia coba menyembunyikan hal itu.


Kedua matanya tiba-tiba menangkap tanda merah pada leher Nara dan dia tau siapa yang membuat tanda merah dengan bentuk yang hampir mirip tanda cinta itu.


"Tanda di leher kamu itu apa tidak bisa dihilangkan, Nara?" tanya Jaden seketika dan sontak saja membuat Nara kaget. Tangan Nara reflek menutupi tanda merah itu.


"Tanda ini aku juga tidak tau bagaiman cara menghilangkannya. Aku akan coba menutupinya saja. Tuan, aku permisi dulu." Nara seketika ngacir dari kamar Jaden setelah dia memeriksa bahwa keadaan aman.


"Tubuh Nara bagai magnet yang bisa menarikku untuk menyentuhnya lebih dalam, tapi aku tidak boleh melakukan hal itu." Jaden menggenggam erat pegangan kursi roda miliknya.

__ADS_1


"Aku tidak boleh memiliki perasaan lebih pada Nara. Gadis itu tidak boleh menempati hatiku," Jaden seolah sedang berperang dengan batinnya sendiri.


Di dalam kamarnya, Nara sedang berusaha mencari sesuatu yang dapat menghilangkan bekas tanda merah pada lehernya. Mulai dari mencucinya dengan sabun mandi, odol dan terakhir dengan menggosok-gosok dengan uang koin seperti orang yang masuk angin dikerokin.


"Jadi aneh sekali leherku, dan peri juga jadinya." Nara meringis kesakitan.


***


Keesokan harinya, Nara yang memang tidak bisa tidur memilih duluan memakai dapur karena hari ini dia ingin membuat nasi goreng kesukaannya.


"Baunya harum sekali, aku jadi lapar," celetuk suara yang ada di belakang Nara.


"Mas Leo? Mas Leo sejak kapan di situ?"


"Sejak sepuluh menit yang lalu, aku bahkan mendengar kamu bernyanyi. Suara kamu bagus juga."


"Ahahaha! Bagus dari mananya? Suaraku itu cempreng, malah bisa membunuh nyamuk yang berterbangan."


"Bisa saja. Kamu masak apa hari ini, Nara? Baunya enak sekali dan aku ingin mencoba masakan kamu sebelum beberapa hari ke depan aku tidak bisa mencicipinya."


"Iya, Mas Leo akan pergi beberapa hari ini, Ya?"


"Iya, dan ternyata aku nanti malam mau berangkat. Oleh karena itu aku pagi-pagi ke sini agar dapat bertemu kamu dulu serta berpamitan."


"Mas Leo, boleh tidak aku memeluk Mas Leo?"


Leo tercengang mendengar apa yang baru saja Nara ucapkan. "Tentu saja, Nara," ucapnya diiringi senyum manisnya.


Nara dengan perasaan emosi memeluk Leo dengan begitu erat. Pun dengan Leo juga membalas pelukan Nara dengan erat. Tidak tau apa yang sedang di rasakan oleh kedua orang tersebut, yang jelas mereka berdua tampak begitu haru akan suatu hal.


"Ehem ...!"


Suara deheman seseorang berhasil membuat Nara dan Mas Leo melepaskan pelukannya.


"Tuan Jaden?" Leo agak kaget

__ADS_1


"So sweet sekali kalian pagi-pagi sudah beradegan romantis," celetuk Sandra yang berada di sana dengan mendorong kursi roda Jaden.


"Mba Sandra, kami tidak sedang beradegan romantis, Kok." Nara saling melirik dengan Jaden.


__ADS_2