
Nara tidak mendengar lagi suara di depan, Nara mencoba membuat kegaduhan untuk mengecek apa mereka ada di depan pintu ruko.
Nara mencoba mencari cara agar dia dapat keluar dari tempat itu sebelum dia benar-benar akan di jual oleh orang-orang itu.
Nara mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membuka ikatannya.
Nara melihat ada sebuah etalase di sana yang kacanya pecah. Nara melompat-lompat berjalan menuju pecahan kaca itu. Dia mencoba menggesek-gesekkan tangannya yang terikat pada pecahan kaca itu.
Kebetulan tangan Nara diikat di depan jadi tidak membuat sulit dia. Setelah tangannya terlepas Nara melepaskan penutup mulutnya dan ikatan kakinya.
"Aku harus pergi dari sini. Aku tidak boleh lama-lama di sini." Nara mencari pintu, tapi dia hanya melihat pinty rolling door sebagai satu-satunya jalan keluar.
"Kenapa pintunya tidak dapat terbuka?" Nara mencoba menarik ke atas pintu itu, tapi tidak bisa di buka.
"Tolong ... tolong!" teriak Nara sambil mengendorkan pintu ruko.
Tidak lama Nara merasa ada yang membuka pintu ruko itu. Nara memundurkan langkahnya, dia dengan cepat mencari sebalok kayu untuk memukul jika penjahat itu datang ke sana.
"Kakak, baik-baik saja?" Berdiri seorang anak laki-laki yang seumuran dengan sepupu Nara, yaitu Lisa.
"Kamu siapa?" Nara agak kaget.
"Namaku Dimas, Kak. Kakak cepat pergi dari sini sebelum kelompok si Santos datang dan akan membawa Kakak dari sini. Cepat pergi!"
Anak itu menarik tangan Nara dan menutup pintu serta menguncinya lagi. Dia mengajak Nara lari dari sana.
"Dimas, aku mau ke rumah Tuanku saja. Dia tinggal agak jauh dari sini di sebuah hutan pinus."
"Hutan pinus? Kalau begitu Kakakk lewat jalan di belakang pasar saja, di sana nanti ada gang kecil menuju jalan setapak. Kakak ikuti saja jalannya, dan aku akan membuat mereka tidak sampai mencari Kakak di sana.
"Terima kasih, Dimas. Kamu bagaimana?"
"Aku akan baik-baik saja. Kakak jangan khawatir." Dimas memeluk Nara. "Kakak seperti kakak aku yang hilang waktu dulu. Dia tidak dapat aku selamatkan, dia dijual ke luar negeri dan aku tidak tau dia sekarang bagaimana." Wajah bocah kecil itu tampak sedih.
Nara berjongkok dan memeluk Dimas dengan erat. Semoga kamu baik-baik saja, dan sekali lagi terima kasih." Nara berlari secepatnya ke jalan yang dikatakan oleh Dimas.
Nara sampai di jalan setapak itu dan ternyata dia sampai di jalan besar. Nara berhenti sejenak untuk mengambil napas, dia tidak berani mencari tumpangan karena dia tidak percaya lagi dengan orang lain. Nara menyusuri jalan sampai akhirnya dia bingung dengan tempat itu.
__ADS_1
"Ini di mana?" Nara bingung saat melewati jalanan yang sepi. Nara duduk berjongkok degan memeluk lututnya erat. Dia menangis di tempatnya.
"Tuan JL, kamu di mana?" Nara berteriak dengan luapan hati yang sangat sedih.
Jaden di rumahnya berjalan mondar mandir tidak tenang, dia bahkan beberapa kali menghubungi pengawalnya untuk menanyakan tentang perkembangan pencariannya.
"Tuan, apa Tuan tidak mau beristirahat dulu? Keadaan Tuan Jaden belum sepenuhnya baik."
"Sandra, jangan menggangguku. Kembali saja ke kamar kamu, atau kamu bisa siapkan semua baju-baju kamu saja. Bukannya tugas kamu di sini juga sudah selesai."
Sandra terdiam mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Jaden. Hatinya terasa sedih dan marah mendengar ucapan Jaden yang baginya menyakitkan.
"Tuan, kami sudah menemukan Nara!" Tiba-tiba seorang pengawal masuk dan langsung mengatakan hal itu pada Jaden.
"Nara ketemu?" ucap Sandra lirih.
Jaden segera berlari keluar dan melihat Nara berada di dalam gendongan kepala pengawalnya. Jaden segera berlari dan mengambil Nara dan menggendongnya.
"Nara, kamu baik-baik saja?"
Nara perlahan membuka kedua matanya dan tersenyum pada Jaden. "Tu-Tuan JL."
"Maaf, Tuan, saya tidak tau, tadi anak buah saya menemukan Nara duduk di jalanan dekat dengan tempat lalu Nara pingsan. Sepertinya di kelelahan."
Jaden membawa Nara masuk ke dalam dan dia segera menyuruh Sandra memanggil Dokter Will.
Jaden membawakan Nara minum dan gadis itu sudah terlihat lebih baik. "Tuan, aku takut sekali." Nara menangis.
Jaden yang tadinya duduk di depan Nara langsung berpindah tempat duduk di sebelah Nara dan memeluk gadis itu erat.
"Kamu tidak perlu takut, di sini tidak akan ada yang bisa melukai kamu. Katakan, apa yang sudah terjadi dengan kamu?"
Nara menceritakan semuanya pada Jaden. Sampai dia ditolong oleh bocah kecil bernama Dimas.
"Brengsek! Penjahat kecil seperti mereka berani sekali mencari urusan denganku. Aku akan cari mereka sampai ketemu." Jaden mengeraskan kedua rahangnya menahan marah.
"Tuan, apa boleh aku minta sesuatu kepada Tuan?"
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan?"
"Tolong pastikan anak kecil yang sudah menyelamatkan aku baik-baik saja. Entah kenapa aku memikirkan keadaannya."
"Kamu tenang saja."
Di luar Sandra tampak cemas, dan tidak lama dokter Will datang. "Ada apa, Sandra? Kenapa kamu tampak cemas begitu?"
"Nara baru saja di culik oleh seseorang, Dok. Tuan Jaden menyuruh Dokter Will ke sini untuk memeriksa keadaannya."
"Apa? Nara diculik?" Will agak kaget, setahu Will, Nara memang sedang diculik selama ini, tapi dengan Jaden, tapi ini diculik lagi?
Will segera masuk ke dalam kamar Nara. Will melihat Jaden sedang memberikan roti pada Nara.
"Jade, apa yang terjadi?"
"Ada penjahat kecil yang mencari masalah denganku. Mereka menyekap Nara di sebuah ruko dan Nara akan diberikan oleh seorang bos besar untuk dijual ke luar negeri."
"Apa? Berani sekali mereka melakukan itu pada Nara?"
"Mereka binatang kecil yang salah memilih musuh. Aku sudah memastikan mereka akan mendapat hukuman untuk perbuatannya."
Will berjalan mendekat pada Nara. Dia memeriksa keadaan Nara. "Dia tidak apa-apa, Jade. Nara hanya kelelahan dan agak shock dengan apa yang terjadi dengannya. Sebaiknya di beristirahat saja, dan aku akan memberi obat agar dia dapat tidur nyenyak malam ini.
"Saya akan membereskan kamar Nara agar dia bisa beristirahat," terang Sandra.
"Tidak perlu, Sandra! Nara akan tidur di kamarku saja, dan aku akan berada di sini menjaganya."
Kedua mata Will langsung melotot mendengar apa yang Jaden baru saja katakan.
"Tapi Tuan? Keadaan Tuan Jaden belum sepenuhnya baik. Biar saya yang menjaga Nara di kamarnya."
"Iya, Tuan. Aku beristirahat saja di kamarku." Nara akan beranjak dari tempatnya, tapi tangannya malah ditahan oleh Jaden. "Tuan?"
"Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan, Nara?" ucapnya dingin.
Nara seketika terdiam, dan matanya hanya bisa melihat pada Mba Sandra dan gantian pada Dokter Will.
__ADS_1
Siapa yang mau ditembak Jaden?