Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Pahlawan Sejati part2


__ADS_3

Nara tampak tersenyum pada Jaden. Dalam hatinya dia sangat senang akhirnya suaminya dapat mengingat dirinya lagi.


"Lepaskan, Nara, Jacob dan aku akan melepaskan kamu."


Jacob berjalan mendekat pada Nara dan dengan perlahan mengusap pipi Nara lembut kemudian mencekik leher Nara sampai Nara susah untuk bernapas.


"Hentikan, Jacob!" Jaden menodongkan pistol pada Jacob.


"Aku akan membuat kamu melihat mimpi buruk di depan kamu."


"Jangan membuat aku sampai membunuh kamu, Jacob!" teriak Jaden.


"Bunuh saja kalau mau, tapi kamu juga akan kehilangan Nara kamu. Sekarang ikuti perintahku, maka aku tidak akan membunuh Nara."


"Apa mau kamu?"


Jacob memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengambil pistol Jaden dan memukuli Jaden dengan brutal.


"Hentikan! Jangan memukulinya seperti itu. Aku mohon hentikan!" Nara berteriak dengan berderai air mata.


Leo yang kedua tangannya dipegangi oleh para anak buah Jacob tidak dapat berbuat apapun.


Jaden tersungkur ke tanah dan Jacob melangkah perlahan mendekat pada tubuh Jaden yang bersimbah darah dan tampak sudah tidak berdaya.


"Senang rasanya melihat musuh kita menderita seperti ini. Aku mau kamu menandatangi semua aset milikku yang kamu rampas dariku untuk kamu kembalikan pada yang berhak."


"Kalau hanya itu yang kamu inginkan, aku mau memberikannya dengan suka rela sama kamu, Jacob," ucap Jaden sambil terbata.


"Suka rela? Harusnya kamu memberikan dari dulu padaku!" Jacob menendang beberapa kali perut Jacob.


"Jacob, hentikan! Kamu bisa membunuh suamiku." Nara menangis tidak berdaya karena tangannya diikat.


"Aku tidak ingin itu saja, Kakak angkatku. Aku juga ingin membuat kamu menderita," Jacob menekankan kata-katanya.


Jika dilihat, Jacob ini hampir mirip seorang psikopat atau dia sakit jiwa.


"Sayang, aku punya cara untuk membuat musuhmu lebih menderita." Renata menunjukkan sebotol kecil cairan di tangannya.


Jacob tersenyum miring. "Apa yang mau kalian lakukan? Apa itu?" Nara seketika tampak ketakutan.


"Tuan, berusaha bangun dan lawan mereka!" Leo berteriak pada Jaden, dan dia mendapat pukulan tepat di perutnya setelah mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Cairan ini bisa membuat sesuatu di perut menjadi tidak nyaman dan akhirnya akan minta keluar dengan sendirinya.


"Apa maksud kamu, Renata?" tanya Mas Leo yang feelingnya sudah tidak enak kepada Nara.


Renata tidak menjawab malah berjalan mendekat pada Nara. "Untuk yang kedua kalinya, kamu tidak akan merasakan betapa indahnya menjadi seorang ibu. Bahkan selamanya karena cairan ini akan merusak rahim kamu."


"Jangan lakukan itu Renata! Jangan!" Nara berusaha berontak saat akan diminumkan cairan yang ada di botol kecil itu.


Mas Leo tampak menunduk tidak kuat melihat jika Nara harus meminum cairan itu. "Jangan lakukan itu pada Nara." Mas Leo sampai terisak memohon pada pada Renata.


"Hentikan, atau kekasih kamu aku bunuh," suara Jaden terdengar keras.


Renata menghentikan pemaksaannya pada Nara dan Leo pun tampak tersenyum melihat Tuan Jadennya menunjukkan kekuatannya.


"Jangan dengarkan dia Renata. Dia tidak akan melukaiku karena janjinya pada mendiang kakekku."


Jaden semakin mengeratkan cengkeramannya pada leher Jacob sampai Jacob susah bernapas.


"Kenapa kamu sangat yakin kalau aku tidak akan membunuh kamu? Apa kamu lupa kalau kita bukan saudara kandung?" Jaden dengan cepat memelintir tangan Jacob sampai Jacob berteriak kesakitan.


"Lepaskan dia, Jaden! Atau aku akan membuat Nara keguguran."


"Apa kamu tidak takut kehilangan Nara?"


"Jika Nara pergi, aku akan ikut pergi dengannya, tapi kalian semua juga harus pergi."


Krek!


Terdengar suara sesuatu di putar perlahan. "Hentikan! Baik, aku akan melepaskan Nara, tapi lepaskan juga Jacob."


"Kita bertukar sandra."


"Baiklah. Aku setuju."


Nara berjalan berhadapan dengan Jacob yang melihat Nara dengan senyuman dingin yang menyebalkan.


"Dasar bodoh!" Jacob menarik tangan Nara dan Nara mencoba melawan dengan menangkis tangan Jacob.


"Nara!" teriak Jaden yang melihat perut istrinya akan ditusuk oleh Jacob.


Dor!

__ADS_1


Bruk!


"Jacob ...!" Renata berteriak histeris melihat tubuh kekasihnya jatuh ke tanah dan ada darah keluar dari perutnya.


Jaden berlari dengan cepat memeluk erat istrinya. "Kamu baik-baik saja, Nara?" tanya cemas memeriksa keadaan istrinya.


"Nenek?" Leo melihat dari kejauhan tepat di depannya seorang wanita tua berdiri dengan pistol menjulur ke depan.


Jaden serta Nara bahkan tampak kaget saat mengetahui jika ada nenek di sana dan neneklah yang menembak Jacob sampai Jacob tersungkur ke tanah.


"Nenek? Kenapa Nenek tega menembak cucu Nenek sendiri?" teriak Renata histeris pada Nenek.


Wanita tua itu seolah tercengang dengan apa yang sudah terjadi di hadapannya.


Dia berjalan dengan sangat lambat dan gontai mendekat pada tubuh cucunya yang tidak bergerak di atas tanah dan hanya Renata yang menangisinya.


"Kamu memang adalah keturunan dari mendiang suamiku Thomson, tapi kenapa sikap kamu tidak sepertinya? Kenapa harus orang lain yang seperti itu?"


Renata berdiri di depan nenek. "Dia menjadi seperti itu karena ulah kalian. Kalian yang bersikap tidak adil sehingga Jacob menjadi seperti itu!" seru Renata marah dan kesal di depan nenek.


Nenek menatap Renata dengan tersenyum miring. "Apa kamu tau kenapa mendiang suamiku bersikap seperti itu pada cucunya sendiri? Apa kamu tau?" sekarang Nenek yang balik bertanya dan marah pada Renata.


"Apapun alasannya, tidak sepantasnya kamu menembak dan membunuh cucu kamu sendiri."


"Dia yang menyebabkan mendiang suamiku terkena serangan jantung karena diam-diam Jacob menjadi pengkhianat dengan bekerja sama dengan musuh kakeknya. Apa kamu tau itu? Suamiku sangat mencintai Jacob karena dia cucu satu-satunya, tapi apa yang didapatkan oleh suamiku? Pengkhianatan cucunya sendiri."


Renata terdiam di tempatnya menahan amarah. Tidak lama petugas tim medis datang dan segera membawa tubuh Jacob yang masih belum diketahui masih hidup apa tidak.


Jaden tampak memeluk terus Nara dan Leo bersama dengan Nenek.


"Apa yang tadi Nenek lakukan benar-benar hebat," puji Leo.


"Aku juga sangat tidak menyangka jika Nenek tiba-tiba datang dan menembak Jacob seperti itu. Nenek, aku sangat berterima kasih pada Nenek." Nara memeluk nenek dengan erat.


Tangan wanita tua itu mengusap punggung Nara dengan lembut. "Kamu juga adalah cucuku dan aku juga harus melindungi kamu."


Jaden terdiam sejenak. Dia melihat Nenek dengan tatapan yang hanya Jaden yang tau arti tatapan itu.


"Nek, kalau saja Jacob mengatakan hanya ingin sesuatu yang kakek berikan padaku, aku pasti akan memberikannya. Aku tidak menyangka Jacob akan seperti itu ingin melihatku menderita."


Nenek tidak menjawab, dia hanya memeluk Jaden dengan erat. "Apa yang suamiku berikan pada kamu itu adalah hak kamu yang belum bisa suamiku berikan pada mendiang ayah kamu. Suamiku pernah mengatakan padaku jika semua yang sudah dia dapatkan tak lepas dari kerja keras ayah kamu, Jaden." Wanita tua itupun menangis.

__ADS_1


__ADS_2