Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Insiden Mengejutkan part 1


__ADS_3

Nenek dan Leo berada di sana sampai jarum jam hampir menunjukkan angka sebelas malam.


"Leo, kita pulang dengan jalan kaki saja, Ya?"


"Nenek serius? Apa nanti Nenek tidak capek?"


"Tidak, nenek sangat sehat, bahkan bisa berlari mengejar cicit nenek jika nanti cicit nenek lahir."


"Leo, percaya sama nenek. Ya sudah kalau begitu kita pulangnya jalan saja dan supir biar mengikuti kita dari belakang pelan-pelan. Siapa tau Nenek nanti capek dan berubah pikiran mau naik mobil."


"Tidak akan." Tangan wanita paruh baya yang sama sekali tidak terlihat ada keriputnya itu menggandeng tangan Leo.


Malam itu mereka berdua bak seperti nenek dan cucu yang sedang menikmati indahnya malam.


Tampak senyum tak hilang dari bibir wanita tua yang masih terlihat cantik dan sehat itu.


"Leo, nenek mau beli roti di toko kue itu. Nenek pernah dibelikan Jaden kue di sana dan rasanya sangat enak dengan harga yang ekonomis."


"Ya sudah kalau begitu kita ke sana saja."


Leo menggandeng Nenek Miranti dan mereka menyebrang jalan yang kebetulan malam itu tidak terlalu ramai.


Saat akan memasuki toko kue itu. Nenek Miranti melihat seseorang yang dia kenali keluar dari restoran yang ada tepat di sebelah toko kue yang akan nenek Miranti masuki.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian terdengar suara yang sangat keras, seperti sesuatu yang sangat keras menghantam suatu benda, dan tidak lama terdengar teriakan histeris seseorang.


Leo dan Nenek menoleh ke belakang dan alangkah terkejutnya mereka melihat seseorang bersimbah darah di jalanan tepat di depan kedua mata mereka.


"Nek, ada korban tabrak lari."


Nenek seolah mengingat warna baju yang di kenakan oleh korban tabrak lari itu.


"Leo, itu bukannya--."


Leo segera menyuruh nenek menunggu di sana dan Leo berlari mendekat ke arah korban tabrak lari itu. Dia ingin memastikan jika yang menjadi korban tabrak lari itu bukan orang yang tadi dia dan nenek lihat.


Beberapa menit kemudian suara sirine mobil berdatangan di sana, dan mulai banyak orang juga yang mendekat ingin mengetahui keadaan korban.


Leo terdiam dan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Apa maksud kamu dengan menggelengkan kepala seperti itu, Leo?"


"Dia meninggal, Nek."


Deg!


Seketika tangan wanita paruh baya itu memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit.

__ADS_1


"Nenek, apa Nenek baik-baik saja?" Leo tampak cemas dengan keadaan Nenek Miranti.


"Aku baik, Leo. Leo, apa kamu bisa mengantarkan aku ke rumah sakit di mana dia dibawa."


"Ayo, Nek, kita ke sana."


Mereka berdua segera menyusul ke rumah sakit di mana korban tabrak lari itu dibawa.


Suasana rumah sakit saat nenek baru datang tampak terdengar suara tangisan histeris seorang wanita. Dia terlihat benar-benar terpukul mendengar kematian anaknya yang sangat dia sayangi.


"Aku mau Mona kembali, Yah! Dia akan menikah sebentar lagi. Kenapa dia harus pergi seperti ini?" Wanita itu berteriak dengan sangat emosi sambil memukul-mukul dada suaminya yang juga meneteskan air mata meratapi kepergian anak pertamanya.


Ternyata korban tabrak lari itu adalah Mona sepupu dari Nara.


"Tuan Benu, aku turut bela sungkawa atas kepergian putrimu. Semoga kalian sekeluarga diberi kekuatan untuk menerima semua ini."


"Nyonya Mirant, kenapa nyonya bisa ada di sini?"


"Aku tadi berada di jalan di mana kejadian itu terjadi. Aku bertemu dengan Mona yang baru saja keluar dari sebuah restoran, tapi aku belum sempat menyapanya, tiba-tiba kejadian itu terjadi begitu cepat."


"Kenapa harus Mona yang menerima semua ini, Nyonya Miranti. Dia akan menikah dengan pria kaya raya yang akan membuat hidupnya bahagia, tapi sekarang semua itu tidak akan pernah terwujud." Soraya tampak menangis sampai napasnya tersendat-sendat.


"Kita tidak tau dengan takdir yang menimpa kita. Kita sebagai manusia hanya bisa menerima semua yang sudah digariskan, Soraya."

__ADS_1


__ADS_2